Rabu, 03 Desember 2014

Orang yang Tidak Memiliki Keyakinan Murni

Upasaka Zhifu, ia ikut teman menghadiri upacara homa, juga menerima abhiseka sarana, namun, ia hanya mengikuti jodoh, hadir sekali saja, selanjutnya tidak pernah datang lagi.
Ia tidak mampu timbul keyakinan murni terhadap Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu, alasannya banyak:
1. Sheng-yen Lu berperawakan pendek.
2. Penilaian terhadap Sheng-yen Lu merugikan dan negatif.
3. Pergolakan tidak pernah reda.
4. Semua rumor bersifat negatif.
5. Sadhana Yab Yum.
6. Konon memiliki banyak pasangan Yab Yum.
7. Ia mengendarai mobil Bentley.
8. Kesan semua warga kota terhadap Beliau hampir semua tidak positif.
……..
Upasaka Zhifu melihat Sheng-yen Lu, satu-satunya yang tidak dimengerti, guru ini, tidak pernah mengindahkan komentar kalangan luar, tetap menulis buku, ber-Dharmadesana, hidup, seakan-akan semuanya tidak ada hubungan dengan diri sendiri.
Suatu malam.
Upasaka Zhifu bermimpi: di dalam mimpi, ia melihat Mahaguru Lu di tengah-tengah cakra candra, berubah menjadi sesosok Yamantaka yang tinggi besar dan gagah perkasa, bertubuh biru, banyak kepala, banyak tangan, banyak kaki, wajahnya adalah wajah Mahaguru Lu, sangat menakutkan, namun, sangat berwibawa, membuat orang-orang tidak berani meremehkan.
Ia juga melihat Yamantaka berubah menjadi Amitabha, bertubuh Tathagata yang tinggi besar dan agung, sekujur tubuh memancarkan ribuan aura positif, berlaksa-laksa sinar keemasan, bermata welas asih. Ia beranjali pada Amitabha, tanpa sadar bernamaskara pada Amitabha, begitu ia melihat, wajah Amitabha telah berubah menjadi wajah Mahaguru Lu.
Kemudian, ia melihat Sheng-yen Lu titisan Amitabha berubah menjadi segumpal cahaya. Cahaya perlahan-lahan terbang ke atas angkasa dan lenyap.
Di tengah angkasa ada suara berkata, “Mengapa tidak satu sarana?”
Upasaka Zhifu bermimpi seperti ini, ia pun sesekali meluangkan waktu pergi ke Lei Tsang Temple mendengarkan Dharma.
Suatu kali, benar-benar melihat di atas Dharmasana, bukan Mahaguru Lu, melainkan Yamantaka.
Suatu kali, Mahaguru Lu jelas-jelas di atas Dharmasana, ia malah melihat Amitabha memancarkan cahaya.
Suatu kali, Mahaguru Lu berubah menjadi segumpal cahaya. Sebentar cahaya, sebentar Mahaguru Lu.
Upasaka Zhifu bertanya pada saya, “Saya semula tidak memiliki keyakinan murni, apa halangannya?”
Saya menjawab, “Telinga dan mata Anda terlalu banyak tercemar.”
“Bagaimana supaya tidak tercemar?” Tanya Upasaka Zhifu.
Saya menjawab, “Itu butuh dhyana!”
“Hati saya tidak mampu memiliki keyakinan murni?” Tanya Upasaka Zhifu.
Saya menjawab, “Itu butuh kestabilan!”
Upasaka Zhifu berkata, “Kalau begitu, semua penilaian dan rumor di luar, benar atau palsu?”
Saya menjawab, “Sebenarnya tidak ada benar maupun palsu!”
“Tidak mengerti!” Kata Upasaka Zhifu.
Saya menjawab, “Kebenaran pertama Tathagata adalah tiada diri sendiri, tiada orang lain, tiada insan, tiada kehidupan, sehingga sebenarnya tidak ada benar maupun palsu.”
Upasaka Zhifu berkata, “Bagaimana supaya saya timbul keyakinan murni?”
Saya menjawab, “Bayangkan pahala kebajikan Mahaguru Lu! Misalnya berdana, menjalankan sila, ketekunan, kebijaksanaan, Samadhi, dan kesabaran saya.”
Kemudian, Upasaka Zhifu timbul keyakinan murni. Ternyata Mahaguru Lu benar-benar memiliki pahala kebajikan!

Abhiseka Sarana Bagai Petir

Upasika Jiazhen menulis surat memohon sarana jarak jauh, pada tanggal 1 atau 15 lunar pukul 7 pagi, menghadap timur (arah matahari terbit).
Menjapa mantra Catursarana, “Namo Gurubei. Namo Buddhaya. Namo Dharmaya. Namo Sanghaya. Dharmaraja Liansheng menuntun. Bersarana pada Buddha sejati.” (japa 3 kali sujud 3 kali)
Kemudian, mengirimkan nama, alamat, umur, dan menyertakan dana persembahan sukarela ke alamat korespondensi Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu, supaya urusan bersarana bisa ditangani, setelah alamat korespondensi menerima surat bersarana, akan mengirimkan sertifikat bersarana dan foto Mulacarya.
Alamat korespondensi ada 2:
Amerika: Sheng-Yen Lu

   17102 NE 40th CT.

   REDMOND, WA 98052

   U.S.A.
Taiwan: 台灣省南投縣草屯鎮山腳里蓮生巷100號

Sheng-Yen Lu

No. 100, Lane Liansheng, Shanjiao

Village, Tsao -Tun Township, Nantou County,

Taiwan, 54264, R.O.C.
Upasika Jiazhen mengirim surat, menyertakan dana persembahan.
Sekitar setengah bulan.
Suatu malam, ia bermimpi: bermimpi bertemu Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu, berdiri di tengah cakra candra, kaki menginjak teratai putih besar.
Kepala bermahkota Pancadhyani Buddha.
Tubuh mengenakan rompi naga, berjubah Lama. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya lima warna, ribuan berkas aura positif.
Di bawah cakra candra, ada ratusan, ribuan insan, beranjali menengadah pada wajah suci nan agung dari Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu.
Di tengah angkasa terdengar pujian pendupaan, juga ada bunyi lonceng, bunyi tambur, suara sangat menyenangkan telinga.
Saat ini, Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu memegang kebutan, digoyangkan ke empat sisi dan delapan penjuru.
Memancarkan sinar putih seperti petir yang berjumlah ratusan, ribuan, berlaksa, bahkan berjuta-juta, memancar ke insan dunia saha.
Upasika Jiazhen seperti disambar petir, seketika, sekujur tubuh mati rasa, seakan-akan ada arus listrik melewati seluruh tubuh, sesaat, mendapatkan semacam sukacita yang damai, memenuhi seluruh tubuh.
Setelah itu.
Ia pun terbangun dari mimpi.
Ia bercerita pada suami, “Sudah mendapatkan abhiseka sarana dari Mahaguru Lu, abhiseka ini sangat nyata.”
Suami juga merasa luar biasa.
Hari itu, Upasika Jiazhen menerima sertifikat bersarana. Ia sangat senang.
Ada satu hal, yang membuat Upasika Jiazhen merasa sangat takjub, ternyata lengan kiri Upasika Jiazhen tidak bisa diangkat dan diluruskan, hanya bisa diangkat hingga 45 derajat saja, namun, sejak disambar petir, lengan kirinya pun kembali normal, bisa diangkat hingga di atas kepala, bahkan lurus.
Upasika Jiazhen sangat senang, selalu bercerita setiap bertemu orang, abhiseka sarana jarak jauh, tidak hanya bisa menerima abhiseka, bahkan dapat menyembuhkan lengannya, ia mengangkat lurus lengannya untuk diperlihatkan pada teman-temannya.
Teman-temannya berdecak kagum.
Di bawah ajakan Upasika Jiazhen, termasuk suami, teman, koleganya, semua menerima abhiseka sarana jarak jauh.
Ada yang mendapatkan kontak batin:
Pada hari cerah, malah tertetes air.
Bermimpi mendengar bunyi lonceng dan tambur.
Bermimpi menyantap hidangan surgawi.
Juga ada yang sakit kaki, sembuh. Sakit kulit, sembuh total.

Kasus Ibu dan Putra Putrinya dari California

Suatu hari, dari California, ada seorang ibu membawa seorang putra dan seorang putri datang ke Seattle Ling Shen Ching Tze Temple mencari saya.
Ibu bernama Meizhu.
Putri bernama Shengdi.
Putra bernama Yongzheng.
Mereka bertiga memberitahu saya, “Ada sebuah kasus perkara, litigasi bertahun-tahun, belum ada hasil. Kami mempunyai sebuah toko, disewakan kepada orang kulit putih, namun orang kulit putih selalu mengulur-ulur membayar uang sewa. Akhirnya terpaksa diusir, tak disangka, orang kulit putih balik menuntut, siding perkara sudah lama sekali diulur, entah bagaimana baiknya?”
Saya berkata, “Saya sudah memohon petunjuk Yaochi Jinmu, Yaochi Jinmu akan memberikan petunjuk lewat mimpi.”
Saya berkata, “Kalian bertiga melapor pada Yaochi Jinmu di dalam vihara, pasti ada petunjuk!”
Suatu hari, saya bertanya pada mereka bertiga, “Apakah ada petunjuk mimpi?”
Jawab, “Tidak ada!”
Keesokan hari, saya bertanya pada mereka bertiga, “Apakah ada petunjuk mimpi?”
Jawab, “Tidak ada!”
Hari ketiga, saya bertanya pada mereka bertiga, “Apakah ada petunjuk mimpi?”
Jawab, “Tidak ada!”
Saat ini, putranya Yongzheng baru berkata, “Tadi malam, sepertinya Yaochi Jinmu menampakkan diri, tangan memegang semangkuk kacang hijau dan bubur.”
Ibu dan putri, saling bertatap muka, “Kacang hijau dan bubur” apa artinya?
Saya tertawa terbahak. Karena saya paling mengerti maksud dari Yaochi Jinmu.
Saya berkata, “Kacang hijau, menurunkan panas! Bubur, damai! Dengan demikian bisa terhindar dari penderitaan litigasi selama bertahun-tahun.”
Mereka berkata, “Pengacara kedua belah pihak tidak sudi berdamai!”
Saya berkata, “Pengacara hanya ingin mendapatkan honor pengacara, proses pengadilan makin lama makin baik, mereka sedari awal telah mendapatkan banyak honor pengacara dari kedua belah pihak.”
Ibu dan kedua anaknya, bertiga berkata, “Memang benar!”
(Biaya proses pengadilan telah melebihi uang sewa)
Mereka bertiga kembali ke California, sampai terakhir, akhirnya menyelesaikan masalah dengan berdamai, kedua belah pihak tidak lagi menuntut ke pengadilan.
Menghilangkan beban pikiran “ligitasi”.
Mereka bertiga bersarana pada Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu, mereka memuji petunjuk mimpi yang manjur dari Yaochi Jinmu.
Ramalan dewata Mahaguru Lu benar-benar jitu.
Saya berkata, “Lebih baik membuka simpul permusuhan daripada menjalinnya.”
Saya berkata, “Di dalam empat lautan adalah saudara, lima ratus tahun yang lalu adalah satu keluarga.”
Kebenaran pertama Agama Buddha, menunjukkan bahwa: diri sendiri dan orang lain adalah sejiwa, mohon pikirkan sejenak kalimat ini, cerahi kalimat ini.
Para insan memiliki Buddhata. Dharmata yang demikian adanya, semua orang memilikinya, semua orang adalah Buddha.
Pria manapun adalah ayah kita.
Wanita manapun adalah ibu kita.
Sang Buddha bersabda: jika Anda anggap setiap orang adalah musuh Anda, betapa bodohnya Anda.
Sang Buddha bersabda: orang yang selalu membicarakan keburukan orang lain, semua bukan siswa Buddha.
Buddhadharma saya tidak ada yang lain: “Pindagraha.”

Manohara Vasudhara (Dewi Pengait Rejeki)

Pada awal tahun naga air (tahun 2013), dipimpin oleh Nona Zhang Jiaqi, dua orang presenter terkenal Lin Chaoxin dan Xu Shengmei bertiga membahas tentang peruntungan sepanjang tahun.
Seorang bertanya, “Bagaimana peruntungan tahun naga air?”
Saya menjawab, “Tragis!”
Seorang bertanya, “Setragis apa?”
Saya menjawab, “Semua bencana tanah, air, api, angin menimpa, juga ada bencana akibat ulah manusia, peperangan. Ekonomi seluruh dunia mengalami krisis, ekonomi Taiwan sangat buruk.”
Seorang bertanya, “Berapa nilai yang Anda berikan untuk krisis di Taiwan?”
Saya menjawab, “Tidak memenuhi kriteria, 50.”
Kemudian: benar-benar terjadi. Setiap pelosok dunia terjadi gempa dahsyat di atas 7 SR, total belasan kali; banjir besar di berbagai pelosok bumi, Taiwan juga demikian; kebakaran terjadi di mana-mana, gunung berapi meletus. Kawasan Taiwan, ada 20 badai. Bahkan New York, Amerika Serikat yang tidak pernah diterjang badai, malah diterjang badai Frankenstorm, menciptakan kondisi bencana dahsyat kawasan New York. Beijing, China kalau bukan banjir besar, diterjang badai salju. Cuaca tidak normal, sangat aneh. Api peperangan di timur tengah, Israel dan Palestina, dan lain sebagainya.
Ekonomi Eropa menurun.
Ekonomi Amerika dan Kanada menurun.
Ekonomi Taiwan krisis.
Dan lain-lain.
Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu pada tanggal 15 November 2012, dari Amerika Serikat terbang ke Taiwan.
Ada dua ribu orang menjemput di bandara.
Lima stasiun televisi mewawancara, saya berkata, saya pulang untuk menyelamatkan ekonomi Taiwan. Karena di Tsaotun Lei Tsang Temple, Nantou, saya setiap hari Sabtu pukul 3 sore, mengadakan upacara agung homa. Umat dari seluruh dunia datang ke Taiwan, jumlah hadirin berkisar 20 ribu hingga 30 ribu orang, setidaknya bisa meningkatkan usaha pariwisata Taiwan. Saya juga akan mengadakan upacara, memohon agar ekonomi Taiwan meningkat, kehidupan rakyat bahagia dan makmur, bencana dikurangi hingga titik terendah.
23 Februari 2013 adalah upacara agung homa tolak bala dan pemberkatan musim semi, Taiwan Lei Tsang Temple mengundang saya untuk memimpin, serta bertanya pada saya mau transmisi sadhana agung apa? Sesaat saya tidak terpikirkan.
Suatu malam saya bermimpi: seorang dewi turun dari tengah angkasa, tubuh-Nya berwarna merah, mengenakan jubah surgawi dari bahan sutera, badan menyandang beragam perhiasan, wajah berseri-seri, memancarkan cahaya mustika berwarna kuning.
Tangan kanan-Nya memegang Vajrakusa (kait vajra).
Tangan kiri-Nya merangkul tikus pusaka.
Kaki kanan dijulurkan, kaki kiri ditekuk, duduk di teratai.
Saya bertanya nama-Nya, “Manohara Vasudhara, Anda panggil saya Dewi Pengait Rejeki saja!”
Saya bertanya, “Mengapa turun?”
Ia menjawab, “Anda memohon pemberkatan untuk ekonomi Taiwan, saya khusus datang membantu Anda!”
Saya bertanya, “Mantra dan mudra Anda?”
Ia menjawab, “Mudra Vajrakusa. Mantra adalah Om. Ma ruò hārì a. Hārì a. Om. Yǐn kù sà. Yǐn kù sà. Xiē xiē xiē. Hōm hōm hōm. Pēi. Suōhā.”
Ia juga mengajarkan saya rumus bersadhana.
Juga menceritakan asal usul-Nya.
Haha! Bagus sekali, saya mau berdharmadesana, dewi datang membantu. Para Buddha, Bodhisattva, Varja, Dharmapala, Dakini, para dewa…. Semua datang membantu saya.
Saya benar-benar menikmati karunia langit!

Berubah Menjadi Dosen

Upasaka Baoqin adalah mahasiswa lulusan falkutas hukum, ayahanda adalah siswa Mahaguru Lu.
Upasaka Baoqin berwawasan luas, juga bisa menjapa mantra hati Guru, di saat bersamaan, diajak orang tua bersarana, menerima abhiseka bersarana, pernah mengikuti sekali upacara abhiseka Padmasambhava, tidak tekun bersadhana.
Karena lulusan falkutas hukum, sehingga ia mempersiapkan tugas untuk mendapatkan lisensi pengacara.
Konon ujian mendapatkan lisensi pengacara sangat sulit. Setiap tahun banyak mahasiswa lulusan falkutas hukum, namun, orang yang benar-benar lulus ujian mendapatkan lisensi pengacara sangat tidak mudah.
Lingkup ujian sangat luas.
Peserta ujian sulit sekali menduga.
Sehingga, Upasaka Baoqin berturut-turut 2 tahun ikut ujian mendapatkan lisensi pengacara, sama sekali tidak ada kesempatan lulus.
Orang tua berkata, “Mohon pada Mahaguru Lu untuk menjamah kepala memberkatimu!”
Baoqing berkata, “Lebih baik mengandalkan diri sendiri!”
Orang tua berkata, “Japa Sutra Raja Agung Avalokitesvara 1000 kali!”
Baoqing berkata, “Belajar saja sudah tidak cukup waktu, japa Sutra Raja Agung Avalokitesvara 1000 kali, bukankah menghabiskan banyak waktu.”
Orang tua berkata, “Ikut upacara Bodhisattva Manjushri, menerima abhiseka, meningkatkan kebijaksanaan Anda!”
Baoqin berkata, “Bodhisattva Manjushri adalah kebijaksanaan Tathagata, tidak ada kebijaksanaan hukum, dikuatirkan tidak bisa.”
Orang tua berkata, “Sila juga hukum!”
Baoqin berkata, “Beda!”
Orang tua berkata, “Begini saja! Anda di depan altar mandala, persembahkan sebatang dupa pada Mahaguru Lu, mohon diperlancar, bagaimana?”
Baoqin berkata, “Baiklah!”
Upasaka Baoqin kali ini mengangguk, dengan hormat mempersembahkan dupa, bernamaskara pada para Buddha Bodhisattva altar mandala.
Memohon memberkati agar ujian lancar.
Orang tua berkata, “Japa mantra hati Mahaguru!”
Baoqin menjapa, “Om. Guru. Liansheng. Siddhi Hum.”
Malamnya Baoqing bermimpi: di dalam mimpi, kembali ke kampus kuliah, di dalam ruangan kelas yang sama, ruangan kelas kosong melompong, tidak ada mahasiswa lain di sana.
Dosen hukum telah datang.
Juga tidak bicara pada Baoqin, dosen mengambil kapur, di papan tulis, menuliskan pertanyaan dan jawaban, yang ditulis dosen, ada sebagian yang sesuai mata kuliah, ada sebagian yang aneh.
Dosen berkata, “Cepat dicatat!”
Upasaka Baoqin, dengan serius mencatat, di saat bersamaan, satu pertanyaan demi satu pertanyaan, sambil dicatat, sambil dihafal.
Dosen menulis seluruh papan tulis, menoleh dan berkata, “Ini adalah latihan yang penting.”
Begitu Baoqin meliht wajah dosen, tak disangka adalah wajah Mahaguru Lu, benar-benar aneh!
Begitu bangun keesokan harinya, Baoqin memberitahu orang tua.
Orang tua sangat tegang, bertanya terus-menerus, “Sudah ingat belum?”
Baoqin menjawab, “Boleh dianggap sudah ingat.”
Kemudian, mengikuti ujian pengacara, begitu lembar soal didapatkan, semua adalah pertanyaan yang ditulis di papan tulis.
Baoqin akhirnya menjadi pengacara. Benar-benar “Om. Mani. Padme. Hum.”

Jumat, 07 November 2014

Dewa Pohon Bodhi

Saya pernah pergi ke India, pernah mengunjungi Mahabodhi Temple. Di belakang vihara, ada sebatang Pohon Bodhi besar, pemandangan dulu saat Sang Buddha duduk di Vajrasana Pohon Bodhi besar dan mencapai pencerahan muncul satu demi satu.
Seseorang memberitahu saya, “Pohon Bodhi ini bukan lagi Pohon Bodhi Sang Buddha dulu, Pohon Bodhi yang sesungguhnya sudah ditransplantasi ke Sri Lanka (Negeri Singa), Pohon Bodhi yang sekarang adalah cangkokan.”
Setelah mendengarnya, walaupun agak sedih, namun, tetap bernamaskara 3 kali pada Pohon Bodhi dan berfoto di bawah Pohon Bodhi.
Sekembali ke Seattle, Amerika Serikat, saya buka sebuah kitab Sutra lama saya, Sutra Vairocana Mencapai Bodhi dalam Kehidupan Sekarang, jatuh sehelai daun kering Pohon Bodhi, daun kering berbentuk roda.
Malamnya.
Ada seorang dewa muncul dalam mimpi saya.
Saya bertanya, “Siapa?”
Ia menjawab, “Dewa Pohon Bodhi!”
Syaa bertanya, “Ada apa?”
Ia menjawab, “Jodoh sangat dalam! Dulu, Raja Ashoka menghancurkan beragam benda peninggalan Sang Buddha, menebang Pohon Bodhi, namun, begitu angin sejuk meniup, tumbuh lagi 2 pohon besar. Raja Ashoka tebang lagi, menghancur-leburkan akar, batang, ranting, dan daun, ditimbun dan dibakar. Namun, setelah dibakar, tumbuh lagi 2 batang Pohon Bodhi, seperti pohon giok ditiup angin. Raja Ashoka terkejut sekali melihatnya, sejak itu mengubah kebencian terhadap Sang Buddha menjadi keyakinan terhadap Agama Buddha, ini adalah jodoh antara kita.”
Melanjutkan, “Pada zaman Yang Arya Atisa, Yang Arya menetap di Mahabodhi Temple, sering mengelilingi vihara dan mengelilingi pohon, Yang Arya memiliki daya gaib, kaki berjarak 1 siku di atas tanah, mengelilingi vihara dan mengelilingi pohon, seperti berjalan di air dan awan yang mengalir, ini juga jodoh karma antara kita.”
Melanjutkan, “Mahaguru Lu, Anda kembali ke Hindustan, India, Anda bernamaskara di hadapan Mahabodhi Temple dan Pohon Bodhi. Ini adalah jodoh karma banyak kehidupan.”
Saya berkata, “Sembah sujud pada Dewa Pohon!”
Dewa Pohon menjawab, “Mahaguru Lu, Anda wajib meneruskan semangat Yang Arya Atisa. Anda pergi ke Jambi, Sumatera, mengunjungi tempat Atisa memohon Dharma pada Serlingpa. Anda telah menanam sebatang Pohon Bodhi, seketika di langit bergemuruh halilintar yang sangat keras. Hujan gerimis pun turun, ini adalah isyarat yang saya berikan pada Anda!”
Saya berkata, “Ah! Memang benar!”
Dewa Pohon berkata: pandangan benar Madhyamika dari Atisa itu mewariskan Aliran Prasangika dari Upadesacarya Candrakirti, konsep Sifat Nidana adalah Sunya. Anda wajib membabarkan konsep Madhyamika dari Buddhapalita, Bhavyaviveka, Candrakirti, Śāntarakṣita.
Dalam aspek membangkitkan Bodhicitta, membabarkan Tujuh Jenis Sebab Akibat dan Tonglen (Dharma bertukar posisi antara diri sendiri dan makhluk lain).
Membabarkan Sastra Samgrahacarya, Sastra Penerangan Jalan, Sastra Membangkitkan Bodhicitta.
Lebih lanjut:
Hina-marga – tidak mendambakan kesenangan duniawi, merenungi hidup-mati dan ketidakkekalan, takut berbuat jahat dan jatuh ke alam menderita, menjalankan sepuluh karma baik.
Madhya-marga – muak dengan 3 keberadaan (karmadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu), membangkitkan niat meninggalkan duniawi, berlindung pada Empat Kebenaran Mulia dan Duabelas Nidana, serta mencapai nidana.
Utama-marga -- membangkitkan Bodhicitta, memberikan manfaatkan kepada insan untuk mencapai kebuddhaan, Sadparamita (enam jalan menuju pantai seberang) dan Samgraha (empat cara menarik insan belajar Buddhisme), serta mencapai hasil kebuddhaan Mahayana.
Dewa Pohon berkata, “Kadampa, Gelugpa, Atisa, Tsongkhapa, Mahaguru Lu, ini adalah serangkai japamala. Sehingga Anda wajib mengulas tentang Sila, cepatlah pergi! Jangan lupa! Jangan lupa!”

Siapa Pemimpin yang Melaksanakan Buddhadharma Masa Kini?

Mahaguru Lu mempunyai seorang siswa bernama Lianzan, bertahun-tahun bersarana, bertahun-tahun belajar Sadhana Tantra, sejak dulu sangat tekun, sayangnya tidak ada tanda-tanda kontak yoga, setelah bertahun-tahun belajar, merasa agak putus asa.
Terlintas dalam pikiran Lianzan untuk meninggalkan Mahaguru Lu dan mencari guru bijak lain untuk memohon rumus sejati, agar tidak menyia-nyiakan waktu kehidupan.
Sehingga ia dengan tulus mempersembahkan persembahan di hadapan Buddha Triratna, berturut-turut mempersembahkan 7 hari.
Berdoa pada Triratna, “Siswa Buddha mempersembahkan persembahan tubuh, ucapan, dan pikiran kepada Triratna, mohon Para Buddha Bodhisattva melindungi, sehingga dalam kehidupan sekarang, menemukan guru bijak Buddhadharma yang sejati, memohon rumus dan transmisi sejati, agar dalam kehidupan sekarang, dapat mencapai keberhasilan, semoga Triratna memberikan petunjuk.”
Demikian berdoa berulang-ulang.
Malamnya memasuki alam mimpi, benar-benar terjadi keajaiban, tak disangka Lianzan tiba di Vajrasana, Mahabodhi Temple, India, saat itu Sang Buddha Sakyamuni sedang ber-Dharmadesana, di samping Dharmasana berderet satu baris, setiap Dharmasana, masing-masing diduduki oleh Thera Ayusamat (para tetua yang memiliki umur tak terhingga), setiap Thera tampak agung, begitu dilihat, membuat orang ingin memberikan penghormatan.
Lianzan bertanya pada seorang mahabhiksu yang menghadiri upacara, “Apakah Sang Buddha masih menetap di dunia dan ber-Dharmadesana?”
Mahabhiksu menjawab, “Tidak.”
Lianzan bertanya, “Siapa Thera Ayusamat di kiri dan kanan? Siapa menetap di dunia dan ber-Dharmadesana?”
Mahabhiksu menjawab, “Kiri adalah Ananda, kanan adalah Mahakasyapa, kedua-duanya belum menetap di dunia dan ber-Dharmadesana.”
Lianzan bertanya, “Siapa Thera Ayusamat lainnya? Siapa menetap di dunia dan ber-Dharmadesana?”
Mahabhiksu menjawab, “Mereka semua adalah Maha-Arahat, semua belum menetap di dunia dan ber-Dharmadesana.”
Lianzan bertanya, “Dharmasana lain, juga ditempati oleh Bodhisattva, siapa yang menetap di dunia dan ber-Dharmadesana?”
Mahabhiksu menjawab, “Bodhisattva hadir merespon berdasarkan sebab dan kondisi, namun tidak menetap di dunia dan ber-Dharmadesana.”
Lianzan bertanya, “Saya ingin mencari guru bijak yang menetap di dunia dan ber-Dharmadesana, bersarana padanya, memohon rumus sejati, agar mencapai keberhasilan dalam kehidupan sekarang.”
Mahabhiksu menjawab, “Yang Arya yang menetap di dunia, sudah menghadiri upacara, Beliau akan masuk!”
Saat ini.
Tambur dan lonceng dibunyikan, dewi-dewi menebarkan bunga, dari luar vihara masuklah seseorang.
Orang ini tidak tinggi juga tidak gemuk, rupa agung. Berjubah Dharma berwarna merah Tibet, tubuh bagian atas menyandang jubah Sila. Berjalan tidak cepat maupun lambat, kaki tidak menyentuh lantai, melayang perlahan masuk ke dalam tempat upacara.
Sang Buddha, Maha-Arahat, para Maha-Bodhisattva, semua berdiri dan menyambutnya. Yang Arya yang menetap di dunia, naik ke Dharmasana yang tidak tinggi maupun rendah, Dharmasana ini tidak lebih tinggi daripada Sang Buddha, juga tidak lebih tinggi daripada Maha-Arahat, juga tidak lebih tinggi daripada Maha-Bodhisattva, posisi berada di tengah.
Lianzan membuka mata lebar-lebar dan melihat, berseru, “Oh, Tuhan! Mahaguru Lu!”
Mahabhiksu berkata, “Beliau sebenarnya adalah Sariputra, Buddha Padma Prabha Svara pada masa depan, Bhagavan Sheng-yen Lu pada masa kini.”
Lianzan bertanya, “Ternyata guru saya adalah orang yang menetap di dunia dan ber-Dharmadesana, pemimpin yang melaksanakan Buddhadharma, apakah saya seharusnya memohon rumus sejati pada Mahaguru Lu?”
Mahabhiksu menjawab, “Benar.”
Lianzan terbangun dari mimpi.
Kemudian memohon pertobatan pada Mahaguru Lu, serta memohon rumus yang luar biasa!