Sabtu, 14 Maret 2015

Kutipan Bodhisattva Shan-hui

Shan-hui Da-shi (善慧大士 / Bodhisattva Shan-hui ) adalah Fu Da-shi (傅大士), bermarga Fu dengan nama Xi (翕), nama julukannya adalah Xuan-feng (玄風). Terlahir pada saat tahun keempat pemerintahan Qi Jian-wu Dinasti Selatan, meninggal pada saat hari ketiga puluh tahun pertama pemerintahan Kaisar Chen Xuan-di. Generasi berikutnya menyebutnya Fu Da-shi ( Fu Da-shi / 傅大士 ) atau Dong-yang Da-shi ( Dong-yang Da-shi / 東陽大士 ), beliau menjuluki diri sendiri sebagai Shan-hui Da-shi ( Shan-hui Da-shi / 善慧大士 )

Asal-usul dari nama Shan-hui Da-shi adalah karena beliau menyebut sendiri :

“Di bawah Pohon Sala, akan datang Shan-hui.”

Atau :

“Kelak moksa, Shan-hui Da-shi.”

Saat Fu Da-shi berusia enam belas tahun memperistri Liu-shi (劉氏), dikaruniai dua putra, Pu-jian (普建) dan Pu-cheng (普成). Saat berusia dua puluh empat tahun berjumpa dengan bhiksu dari India, Dhuta Song ( Song Tou-tuo / 嵩頭陀)
  
Dikarenakan mengetahui kehidupan lampau.
Maka menekuni meditasi di antara Pohon Sala di Gunung Song ( Song-shan / 松山 ) selama sekitar tujuh tahun.

Berjumpa dengan Sakyamuni Buddha, Buddha Gandum Emas ( Jin-su Fo /金粟佛 ) dan Dipamkara Buddha, ketiga Buddha tersebut memancarkan cahaya.

Setelah mencapai Pencerahan melalui penekunan meditasi, tubuh memancarkan sinar keemasan dan bau harum.
  
Fu Da-shi pernah dipenjarakan karena didakwa menghasut penduduk.

Kemudian Kaisar Liang sangat menghormatinya.

Fu Da-shi adalah pencipta Roda Pemutar Sutra, hal ini ada tertulis dengan mendetail dalam buku : Jing-de Chuan-deng Lv (景德傳燈錄), Zhi-yue Lv (指月錄), Fo-zu Tong-ji (佛祖統紀), Gao-seng Chuan (高僧傳), Shan-hui Da-shi Yu-lv (善慧大士語錄) dan Shan-hui Da-shi Xin-yao (善慧大士心要)



Generasi berikutnya menghormati Fu Da-shi sebagai titisan Maitreya Bodhisattva, ada dua sebabnya :
1. Dhuta Song memberitahu Fu Da-shi bahwa jubah dan patranya ada di Surga Tusitha.
2. Fu Da-shi secara langsung berjumpa dengan Sakyamuni Buddha di depan dan Vimalakirti di belakang, berulang kali Sakyamuni Buddha memberitahu Fu Da-shi, kelak di masa mendatang engkau akan meneruskan kedudukan-Ku.



Saya ( Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu ) membaca Kutipan Shan-hui Da-shi, memahami bahwa kiat utama Fu Da-shi ada pada : ‘Samatha-vipasyana’, sama dengan ‘Eka-citta Tri-vipasyana’ dalam Tiantai.

Menurut saya, ‘Penjelasan Utama Akan Tiga Kebajikan’ dari Fu Da-shi sangat berwawasan, Tiga Kebajikan itu adalah :

1. Kebajikan Tingkat Atas :
Alaksana adalah sebab, Nirvana adalah akibat.
2. Kebajikan Tingkat Pertengahan :
Bijaksanawan memimpin negara demi kesejahterahan rakyat.
3. Kebajikan Tingkat Bawah :
Bermaitri-karuna mengulurkan pertolongan.




Dengan mendalam saya menyadari bahwa ‘Alaksana adalah sebab, Nirvana adalah akibat’ merupakan Prajna Tertinggi dalam Buddha Dharma, bhavana merupakan persoalan paling penting dalam kehidupan manusia, Buddha yang memiliki aktivitas dan kesadaran sempurna telah manunggal dengan Kebenaran Semesta, ke atas meraih Kebuddhaan, ke bawah menuntun para insan, sungguh merupakan Kebajikan Agung bagi dunia.
  
Kebajikan berikutnya adalah dengan niat suci dan bijak memimpin negara demi kesejahterahan rakyat. Saat itu menurut Fu Da-shi, seorang Raja bijak yang memimpin negara merupakan kebajikan tingkat pertengahan.

Kebajikan terakhir adalah kewelasan mengulurkan pertolongan, seperti orang kaya mendanakan materi, tidak punya uang maka dapat mendanakan tenaga, sekuat tenaga mendorong orang lain untuk melakukan kebajikan.
  
Ini adalah :
Jangan melakukan segala kejahatan, tekunlah dalam berbuat kebajikan.

Ini merupakan kebajikan tingkat bawah.




Saya tahu bahwa di dunia masa kini, semua mengira bahwa perbuatan baik adalah Buddha Dharma, ini merupakan metode Buddha Dharma yang mudah diterapkan, sesungguhnya Buddha Dharma mencakupi metode mudah dan metode sukar. Metode mudah contohnya adalah perbuatan baik dan melafal Nama Buddha, sedangkan contoh dari metode sukar adalah meditasi mencapai moksa.

Perbuatan baik adalah salah satu dari Buddha Dharma.
Namun Buddha Dharma bukan hanya perbuatan baik.

Menurut saya, seorang sadhaka penekun Buddha Dharma harus mampu melaksanakan empat hal baru dapat dikatakan lengkap :

1. Bersarana dan mentaati sila.
2. Abhiseka dan melaksanakan ajaran.
3. Bhavana memperoleh pencapaian.
4. Tekun dalam aktivitas memberi manfaat pada insan lain.

Dalam aktivitas memberi manfaat pada insan lain, walaupun mengentaskan para insan dari penderitaan adalah penting, namun berdana Buddha Dharma kepada para insan adalah lebih penting. Inilah sebabnya mengapa Fu Da-shi menempatkan ‘Alaksana sebagai sebab, Nirvana sebagai akibat’ menjadi Kebajikan Agung yang pertama.
  
Dana materi dan tenaga merupakan kebajikan beratribut, tentu saja tingkatan dari pahala beratribut lebih rendah daripada pahala tanpa atribut, oleh karena itu Fu Da-shi menggolongkannya sebagai Kebajikan Tingkat Bawah.  

Saya mengharapkan sadhaka Zhenfo selain harus mengembangkan welas asih menolong insan, juga harus berusaha mendalami makna utama Buddha Dharma, dari metode mudah berjalan menuju metode sukar. Tidak hanya harus berdana materi, namun juga harus berdana Dharma, bahkan harus menekuni meditasi yang merupakan aktivitas murni, merealisasi Pencerahan Sejati mencapai Kebuddhaan.
  
Perbuatan baik adalah Dharma Samvrti-satya ( Kebenaran Umum / Relatif )
Kebuddhaan adalah Dharma Pramartha-satya ( Kebenaran Sejati )

Ke atas memperoleh Kebuddhaan, ke bawah menuntun para insan, inilah Kebajikan Agung.

Sadhana Tonglen

Menulis mengenai Sadhana Chod, saya teringat mengenai Tonglen.

Dalam Caryavatara dikatakan : “Segala kebahagiaan di dunia berasal dari tekad memberi manfaat pada pihak lain, sedangkan segala penderitaan di dunia ini berasal dari keinginan untuk menguntungkan diri sendiri. Apabila tidak mampu melakukan perenungan pertukaran, tetap menginginkan kesenangan bagi diri sendiri dengan melalui penderitaan orang lain, maka tidak hanya tidak akan mencapai Kebuddhaan, bahkan dalam tiap kelahiran dan kematian tidak akan menemui kebahagiaan.”

Saya sendiri merasa :
“Kalimat ini sangat mulia.”

Saya paling menyukai empat kalimat :

1. Yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain memang harus dilakukan.
2. Yang bermanfaat bagi orang lain namun merugikan diri sendiri, harus dilakukan.
3. Yang merugikan diri sendiri dan orang lain, tidak boleh dilakukan.
4. Yang menguntungkan diri sendiri dan mencelakakan orang lain jangan dilakukan.

Kita sadhaka tantra hendaknya setiap hari melafalkan Gatha Pengembangan Bodhicitta :

“Aku bersarana Para Buddha Suciwan dalam Dharma Kebenaran hingga tercapainya Bodhi, semoga dana dan segala pelatihan diri saya ini dilimpahkan bagi semua makhluk supaya mencapai Kebuddhaan.” Guru Leluhur Tantrayana aliran Kadampa : Arya Atisha Dipamkara, mengajarkan kita untuk menekuni tahapan :

1. Mengenali bahwa semua makhluk adalah ibunda .
2. Mengenang budi jasa.
3. Membalas budi jasa.
4. Maitri-citta.
5. Karuna-citta.
6. Menambahkan sukha bagi para insan.
7. Bodhicitta.

 ●

Saya ( Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu ) , merasa bahwa Sadhana Tonglen sangatlah agung dan mulia, pemikiran inilah yang benar-benar merupakan pikiran benar dari Buddha Bodhisattva.

Umat manusia di dunia ini tidak mampu menjadi Buddha Bodhisattva hanya dikarenakan ‘Keakuan’ : “Apabila tidak mementingkan diri sendiri, bahkan langit dan bumipun tidak akan mempedulikanmu.”

Namun, Buddha Bodhisattva tidak demikian, Buddha Bodhisattva adalah :

Demi pihak lain, memberi manfaat pada semua makhluk.
Walau diri sendiri yang menanggung derita.

Metode memberi manfaat pada semua makhluk dan diri sendiri menanggung derita mereka, inilah Sadhana Tonglen.

  ●

Mengenai Sadhana Tonglen, seringkali saya teringat kalimat di bawah ini :

“Semua makhluk sepenuhnya satu tubuh denganku.”
“Budi jasa semua makhluk adalah yang teragung.”
“Semua makhluk hakikatnya adalah Buddha.”
“Dunia semua makhluk hakikatnya adalah Buddha-loka.”

Metode kontemplasi saya ini merupakan metode kontemplasi ‘Samatajnana’, yaitu Suciwan dan awam satu hakikat, tumimbal lahir dan Nirvana satu hakikat, klesa dan Bodhi satu hakikat, boleh mengatakan bahwa manusia adalah Buddha , boleh mengatakan bahwa Buddha adalah manusia, boleh mengatakan bahwa aku adalah dia, boleh mengatakan bahwa dia adalah aku. Saat mencapai keberhasilan dalam metode kontemplasi ini, Dasadharmadhatu tidak ada perbedaan, satu tubuh, satu loka, tiga masa adalah satu masa, triloka adalah ekaloka.

 ●

Samadhi Akar Kesetaraan dari Samatajnana :

Juga aku, juga dia, juga Buddha.

Dan :

Tiada aku, tiada dia, tiada Buddha.

Inilah Samadhi Samata.

  ●

Dari Sadhana Tonglen mengetahui keagungan budi jasa semua makhluk, sesungguhnya keberhasilan Buddha Bodhisattva adalah berkat bantuan semua makhluk, dipicu oleh semua makhluk, adalah semua makhluk yang merawat dan mendidik-Ku, oleh karena itu semua makhluk pernah menjadi ayah dan bunda bagiku, semua makhluk lah yang memberikan sandang, pangan, papan dan penghiburan bagi-Ku.

Singkat kata :

Tiada insan maka tiada Para Buddha.
Tiada insan maka tiada Bodhisattva.
Tiada insan maka tiada Bodhi.

Seorang sadhaka tantra apabila sungguh mampu menghancurkan kemelekatan pada ego, sepenuhnya melebur dalam semua makhluk, dengan demikian barulah dapat merealisasi Maha-bodhisattva.

Pencapaian Kebuddhaan tiada lain lagi selain menghancurkan ego. Ini merupakan pemikiran yang luar biasa, saya ( Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu ) adalah seseorang yang telah merelakan nyawa diri sendiri dan melebur bersama semua makhluk.

Catur-prayoga dan Sad-prayoga

Dalam Sadhana Tantra Zhenfo diajarkan Sadhana Catur-prayoga ( Si-jia-xing Fa ), antara lain : Mahanamaskara, Mahapujana, Catur-sarana dan Sadhana Vajrasattva.
  
Menurut sepengetahuan saya, ada juga pembagian Sadhana Prayoga dalam Tantrayana sebagai berikut :

Pengembangan Bodhicitta.
Persembahan mandala.
Sadhana Vajrasattva.
Sadhana Guru Yoga.

Dalam Tantrayana ada juga yang menekuni Sadhana Sad-prayoga, antara lain : Mahanamaskara, Mahapujana, Catur-sarana, Sadhana Vajrasattva ditambah dengan Sadhana Guru-yoga dan Sadhana Persembahan Tubuh ( Chod ), dengan demikian menjadi Enam Prayoga.
  
Berikut di bawah ini merupakan makna dari masing-masing Sadhana Sad-prayoga :

1. Mahanamaskara : Menaklukkan kesombongan.
2. Mahapujana : Menghimpun sumber daya.
3. Catur-sarana : Kokoh dalam sarana.
4. Vajrasattva : Pertobatan dan mengikis rintangan karma.
5. Guru-yoga : Adhistana silsilah.
6. Sadhana Chod : Menghancurkan kemelekatan ego.
  

  ●

Mari kita renungkan dengan seksama perihal Sadhana Sad-prayoga ini, dalam Buddhisme Sutrayana tiada yang menyamai sadhana ini.

Gerakan Sadhana Mahanamaskara dalam Tantrayana lebih banyak daripada namaskara dalam Sutrayana, bahkan dalam Mahanamaskara terdapat visualisasi dan mudra, sudah tentu hal ini tidak terdapat dalam Sutrayana.

Sadhana Mahapujana dalam Tantrayana terdapat mudra, visualisasi dan mantra yang juga tidak ditemukan dalam Sutrayana.

Sedangkan Catur-sarana, Namo Gurubei : Bersarana pada Vajra Acarya bukanlah metode yang ditekuni oleh Sutrayana.
  
Sadhana Guru-yoga, Sadhana Vajrasattva dan Sadhana Chod, semua ini tidak ada di Sutrayana.

Saya ( Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu ) mengatakan demikian :

Baik itu Sadhana Catur-prayoga maupun Sadhana Sad-prayoga, semua harus ditekuni oleh sadhaka tantra, jangan meremehkannya dan memandangnya sebagai sadhana kecil, meremehkannya berarti telah melakukan dosa meremehkan.

Kita bertujuan untuk menaklukkan kesombongan, oleh karena itu menekuni Mahanamaskara ; Untuk menghimpun dua jenis sumber daya yaitu berkah dan Prajna maka kita menekuni Mahapujana ; Untuk menguatkan konsistensi kita menekuni Catur-sarana ; Untuk bertobat atas segala dosa karmavarana kita menekuni Sadhana Vajrasattva ; Untuk memperoleh adhistana supaya segera mencapai keberhasilan maka kita menekuni Sadhana Guru-yoga ; Demi menghancurkan kemelekatan ego dan menaklukkan empat mara, maka kita menekuni Sadhana Chod.

Penekunan Sadhana Sad-prayoga ini sangat agung.

Saya mengatakan : Inilah Maha-sadhana.
  

  ●

Saya pribadi merasa bahwa Sadhana Prayoga telah melampaui segala bhavana dalam Sutrayana, kedalaman dan keagungan makna ajaran di dalamnya sama dengan Sadhana Maha-mudra dari Kagyudpa.

Saya beri satu contoh, Mantra Sataksara dalam Sadhana Vajrasattva telah mencakupi empat makna utama :

1. Svabhava telah murni.
2. Segalanya murni.
3. Svabhava Maha Luas nan Murni.
4. Segalanya tanpa batas adalah murni.

Ini adalah makna ajaran tertinggi dalam Mahamudra Tantrayana, dosa timbul dari hati maka dari hati pula dilakukan pertobatan, merupakan Kesunyataan Svabhava, merealisasi sifat dosa yang sunya.
  
Dengan demikian, bagaimana mungkin Sadhana Vajrasattva bukan Maha-sadhana ?

 
  ●

Apalagi Sadhana Guru-yoga.

Barangsiapa telah memperoleh yukta dalam Sadhana Guru-yoga, merealisasi tubuh yang sama dengan Guru, dengan demikian tidak mungkin luntur dalam sradha, sebab antara Guru dan siswa telah manunggal, selamanya tak terpisahkan, bagaikan vajra yang tak dapat dihancurkan oleh apapun.

Ada tiga makna agung dalam Guru-yoga :

1. Tubuh mula Dharmakaya.
2. Adhistana Acarya, sehingga siswa segera merealisasi Dharmakaya.
3. Sadhaka dapat berlindung pada ajaran Acarya dan mencapai Pencerahan.

Makna yang terkandung di dalamnya sangat mendalam, coba kita renungkan , Tubuh Terang, Acarya dan siswa telah manunggal, Sadhana Guru-yoga merupakan ajaran tertinggi dalam Tantrayana.
  



Berikutnya adalah Sadhana Chod ( Persembahan Tubuh )

( Di Rainbow Villa secara khusus dipersemayamkan Guru Leluhur sekte Joyul : Machig Labdron, seorang Guru Leluhur yang mentransmisikan Sadhana Chod )
  
Sadhana Chod merupakan penekunan anatman, sepenuhnya mendanakan ego, ini merupakan pembangkitan Bodhicitta teragung.

Seperti ikrar saya : “Menuntun insan walau tubuh hancur berkeping-keping.”

Sadhana Chod mengandung empat makna utama : kokoh, murni, moksa dan paripurna. Kita renungkan, apa empat karakteristik utama dari Mahamudra ? Tak lain adalah : kokoh, murni, moksha dan paripurna.

Sadhana Chod dan Mahamudra adalah satu rasa.

Rahasia Mantra Mahavairocana Tathagata

Saat saya menekuni Sadhana Empat Pintu Tahapan memasuki hati Mahavairocana Tathagata, memahami tiga makna sejati Terang Menyinari Semua :
  
Maha.
Banyak.
Unggul.

Ketiga makna sejati ini tidak dapat disimbolkan menggunakan materi, oleh karena ini hanya dapat disimbolkan dengan Maha-vairocana. ( Mentari Agung )
  
Mahavairocana Sutra mengatakan : “Vairocana adalah nama lain dari mentari, bermakna menyingkirkan kegelapan dan menyinari segala. Matahari biasa hanya menyinari sisi luar namun tidak dapat menyinari sisi dalam, terang hanya pada satu sisi, tidak menjangkau sisi lainnya, juga hanya saat siang hari, sinarnya tidak nampak pada malam hari. Namun sinar mentari Prajna Tathagata tidaklah demikian, ia menyinari semuanya, sinar terang yang teragung, tiada terbatasi oleh luar – dalam – siang dan malam, matahari di dunia tidak dapat menandinginya, namun hanya diambil sedikit kualitasnya sebagai perumpamaan dan ditambahkan kata ‘Maha’, dinamakan Mahavairocana.”

Saya memasuki hati Mahavairocana Tathagata, Istana Hatinya disebut : “Istana Hati Terang Vajra Tak Lapuk” ( Vajradhatu )

Saya menjadi Vajra Yang Menerangi Semua.

Rambut tergerai, mengenakan mahkota ratna Panca Jnana.
Tangan membentuk Mudra Jnanamusti.
Berwarna putih bersih.
Aksara VAM sebagai bijaksara.

Kemudian saya memasuki Istana Dharmadhatu Vajra Maha Luas ( Garbhadhatu )
Saya adalah Vajra Yang Menerangi Semua.
Dengan gelung rambut.
Tangan membentuk Mudra Dhyana Dharmadhatu.
Berwarna emas.
Aksara A sebagai bijaksara.  



Saya memahami :

Vajradhatu : Dharmakaya Kebijaksanaan yang menampilkan penekunan kualitas upapatti-jnana.
Garbhadhatu : Dharmakaya Hakikat yang menampilkan kualitas dari hakikat.  



Saat saya melafalkan Mantra Mahavairocana Tathagata Garbhadhatu :
“A. Wei. La. Hom. Kan” lima suku kata.

Lima suku kata ini bermakna :
“Tanah, air, api, angin dan akasha.”
  
Seketika saya memahami Mahavairocana Tathagata Garbhadhatu menggunakan panca-mahabhuta semesta : tanah, air, api , angin dan akasha sebagai mantra, merepresentasikan penyatuan dunia material semesta, tanah-air-api-angin-akasha merupakan alam semesta, alam semesta adalah Mahavairocana Tathagata, ini merupakan makna yang terdalam.

Sadhaka Tantra mengetahui bahwa Sasanapati Mahavairocana Tathagata berarti Kebenaran Sejati Alam Semesta yang tiada terlahirkan, tidak mati, tiada bertambah, tiada berkurang, bukan kotor juga bukan suci, merupakan substansi dan kualitas seantero semesta. Oleh karena itulah mantra Mahavairocana Tathagata Garbhadhatu menggunakan panca-mahabhuta alam semesta, demikian saling menggemakan , bukan satu bukanpula jamak.

“A. Wei. La. Hom. Kan” merupakan mantra agung.


  ●

Saat saya melafal Mantra Mahavairocana Tathagata Vajradhatu :
“Om. Wa-ri-la. Tuo-du. Han” ( Ket penerjemah : Sesuai transmisi 15 Jan 2011 Mantranya adalah Om. Bie-zha. Da-du. Fan )
  
Makna mantra ini adalah :
Bersarana pada Vajradhatu yang tak terperikan.

Saya memasuki aksara VAM, ternyata aksara ini mencakupi :

Kedalaman yang tak terukur.
Luas tak terhingga.
Tiada bertepi.
Tiada akhir.
Yang paling tak terperikan di antara semua yang tak terperikan.

Saat ini saya telah memahami, inilah yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata, yang paling tidak dapat terungkapkan di antara semua yang tak terungkapkan. Aksara VAM merupakan Kebenaran Semesta, ternyata Hakikat Semesta ini adalah Mendalam Maha Luas Tak Berterpi Tiada Akhir, tak terungkapkan.



Hasil dari pendalaman saya akan Mantra Tantra adalah menjumpai bahwa beberapa mantra merupakan nama sansekerta yidam, ada juga yang berupa mantra bijaksara, ada pula yang merupakan pernyataan berlindung dan memuji kualitas Buddha Bodhisattva, di dalamnya terdapat realisasi internal, ikrar mula, ajaran, praktek serta hasil. Namun , satu aksara mantra saja dapat dijelaskan dalam banyak arti, oleh karena itu sangatlah sukar untuk menjelaskan mantra, dan mantra digolongkan ke dalam lima hal yang tak diterjemahkan.

Saya ( Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu ) memasuki Istana hati Mahavairocana Tathagata, mampu membabarkan rahasila Mantra Mahavairocana Tathagata, ini sudah tergolong yang paling tak terperikan di antara semua yang tak terperikan.
  
Sakyamuni Buddha juga memuji pahala mantra, dalam Dirghagama Sutra, Samyuktagama Sutra, Saddharmapundarika Sutra, Prajna Sutra, Maha-samnipatta Sutra, Maharatnakuta Sutra, Caturvargiyavinaya, Dasadhyayavinaya dan lain sebagainya, Sang Bhagavan mengajarkan kepada empat golongan siswa bagaimana cara menjapa mantra.
  

Sadhana Empat Pintu Tahapan






Di loteng Ling-xian saya menjalani retret selama tiga tahun untuk menekuni Tantrayana.

Satu tahun yang pertama, setiap hari empat kali bersadhana, empat kali sadhana ini berdasarkan waktu, sekali saat matahari terbit, sekali di tengah hari, sekali saat senja dan sekali di tengah malam.
  
Saya melafal Caturaksara Mantra : “Za, Hom, Ban, Huo.”

Saya mengundang Sarva-tathagata memasuki diri, menekuni Svabhava Samaya.

Kemudian memohon Abhiseka Samaya Yidam.
Dilanjutkan dengan Mahapujana.


  ●

Saya menjumpai tahapan rahasia, tahapan ini adalah Empat Pintu Tahapan yang sangat penting ; Bagaimanapun kita harus memulai dari penekunan Yidam Yoga.
  
Berikut di bawah ini adalah tahapan rahasia tersebut :

1. Yidam Yoga.
2. Penekunan Istana Yidam.
3. Penekunan Vairoacana Buddha.
4. Diri Sendiri Menjadi Vajrasattva.

Setelah saya menjadi yidam, yidam berdiam di angkasa. Maka saya menekuni Istana Yidam, dari angkasa turun ke Istana Sumeru, dari dalam muncul Simhavajrasana, maka yidam telah bersemayam dalam Istana.

Saya melafal : “Ban-za Da-du.”
Membentuk : Mudra Panca-jnana.

Diri sendiri menjadi Maha-vairocana Tathagata, dari Samadhi Maha-vairocana dari Vairocana Buddha, memperoleh kekokohan.

Saya melafal : “Ban-za Sa-duo. Sa-ma-ya. A Hom.”
Membentuk : Mudra Sattva.
  
Merealisasi Vajrasattva, menggunakan vajra, gantha, bana dan ankusa dari Vajrasattva untuk menyukseskan segala Sadhana Tantra yang istimewa.


  ●

Saya menjumpai bahwa Sadhana Empat Pintu Tahapan ini sepenuhnya selaras dengan petunjuk ajaran dalam ‘Tattva-loka-nama-prakarana’ yang menyatakan : “Setelah merealisasi Samadhi terhalus, kemudian berdiam dalam Istana Surgawi yang ditekuni, segalanya menjadi kokoh bagaikan hadir secara langsung. Dari sini diperoleh Samartha Batin ( Kemampuan dan kekuatan batin terunggul ), dan semua yang ditekuni akan terus bertumbuh.”

Saya menyusunnya seperti di bawah ini :

1. Yidam Yoga – Samadhi Terhalus ( Svabhava Samaya )
2. Istana Yidam – Berdiam dalam Istana Surgawi.
3. Vairocana Buddha – Segalanya menjadi kokoh.
4. Vajrasattva – Samartha terunggul.

Ternyata Sadhana Empat Pintu Tahapan adalah Yukta Yoga Diri Terhalus, berdiam di Istana Surgawi, Kekokohan Vairocana dan Keunggulan Vajrasattva.

Penekunan ini tak lain adalah :

Mengadhistna Svabhava.
Abhiseka.
Samadhi.
Mahapujana.

  ●

Dalam Vajrasekhara Sutra ada dikatakan perihal penekunan dari yidam memasuki Vairocana Buddha : “Penekun Sadhana Buddha-kula, berdiam dalam Sri Buddhata, dalam trisahasralokadhatu tekunilah Buddha-kaya. Di hati Buddha tekunilah aksara mantra, tekunilah diri anatman, merealisasi manusia dan Dharma adalah sunyata. Buddha-kaya ini direnungkan sebagai anatman. Mengamati Buddha-rupa, tiada sifat diri, askandha dan adhatu, Buddha bukanlah sesuatu yang diperoleh, namun bukan pula sepenuhnya tiada Buddha. Pergunakanlah kebijaksanaan dan kebajikan dalam Sad-paramita untuk perlindungan. Tiada alaya, merupakan Bodhi anatman. Dari yoga ini, yang menekuni Sadhana Buddha-kula, seketika melampaui Maha-kalpa, memperoleh sukha paling unggul.”

Kalimat ini merupakan kunci utama penekunan Mahavairocana Buddha.

Vajrasattva bermanifestasi dari batin Mahavairocana Buddha, duduk di atas Simhasana yang tadi telah divisualisasikan. Kemudian lafalkan Mantra Hati Vajrasattva, membentuk Maha-mudra Nya, diri sendiri berubah menjadi Vajrasattva.
  

  ●

Saya ( Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu ) , oleh Sarva Buddha Bodhisattva di tiga masa disebut sebagai ‘Guhyapati yang menyadarkan dunia masa kini.’

Mengapa ?

Sebab saya mencapai keberhasilan :

Vajra memenuhi angkasa, memancarkan sinar pelangi, pada pusat tiap-tiap vajra terdapat aksara mantra.
  
Siddhi Buddha-ksetra.

Keberhasilan Dharmata svabhava sunya.
  
Saat diri saya berubah menjadi Vajrasattva, mengatakan : “Mengatakan rupa adalah sunya, mengatakan sunya adalah rupa, dinamakan vajra, dikarenakan yoga maka aku merealisasi Bodhi.”


Anasrava. ( Tak tiris )
Parisuddhi. ( Murni )
Prabha. ( Terang )  

Sakyamuni Buddha Mengulas Sila






Buddha membabarkan parajika kepada para bhiksu,
Ada empat perumpamaan kehancuran :

1. Batu yang hancur tidak dapat kembali menyatu.
2. Pohon yang telah putus dari akarnya tidak dapat tumbuh.
3. Manusia telah mati tidak dapat hidup kembali.
4. Jarum tanpa lubang tidak dapat digunakan.

Maksud dari Sakyamuni Buddha adalah siswa yang telah melakukan pelanggaran berat, bagaikan kayu kering yang tak dapat dipahat lagi, hanya dapat ditinggalkan saja.

Menurut Sakyamuni Buddha, ‘pancanantariya’ merupakan yang dosa yang paling keji, lima pelanggaran berat sering disebutkan antara lain :

1. Membunuh ayah.
2. Membunuh ibu.
3. Membunuh Arahat.
4. Melukai tubuh Buddha.
5. Memecah belah kerukunan Sangha.

( Dalam Sutra Raja Ajatashatru Bertanya Perihal Lima Dosa Berat, Sakyamuni Buddha menekankan : Dengan berbagai cara mencoba memecah belah anggota Sangha, supaya mereka bertikai, membuat mereka mencampakkan pelaksanaan Dharma, membuat mereka mundur dari sradha, membuat mereka terpecah belah, dosa inilah yang paling berat )

Dalam Bodhisattva-gocaropaya-visaya-vikurvana-nirdesa-sutra dikatakan :

“Ada lima jenis dosa yang disebut mendasar, apa sajakah kelimanya itu : Yang pertama adalah merusak stupa dan vihara, memusnahkan sutra dan pratima, mengambil barang milik Buddha, Dharma dan Sangha, atau hanya meminta orang lain untuk melakukannya, atau hanya bersukacita dalam melihat orang lain melakukannya, dosa ini dinamakan sebagai dosar berat mendasar pertama. Apabila memfitnah Dharma Sravaka, Pratyekabuddha dan Mahayana, berusaha menjelek-jelekkan atau merintangi, berusaha menutupinya, dosa ini disebut sebagai dosa berat mendasar yang kedua. Terhadap seorang sramana yang meninggalkan kehidupan awam, mencukur rambutnya, mengenakan jubah, entah ia mentaati sila atau tidak, apabila Anda memenjarakannya, mengikat dan membelenggunya, menyiksanya, atau mencopot jubah kasayanya memaksanya kembali pada kehidupan duniawi, atau bahkan membunuhnya, dosa ini merupakan dosa berat mendasar yang ketiga. Apabila melakukan salah satu saja dari lima dosa berat, berarti merupakan dosa berat mendasar yang keempat. Menyatakan tiada akibat karma baik dan buruk, seumur hidup gemar melakukan sepuluh perbuatan jahat, tidak kuatir akan kehidupan mendatang, diri sendiri melakukannya dan bahkan mengajari orang lain untuk melakukannya, dosa ini merupakan dosa berat mendasar yang kelima.”

Di masa Sakyamuni Buddha, Lima Dosa Berat yang dilakukan oleh Devadatta sebagai berikut :

1. Mengajak lima ratus bhiksu untuk meninggalkan Sang Buddha ( Memecah belah Sangha )
2. Mendorong batu besar dengan tujuan membunuh Buddha, namun hanya melukai Buddha hingga berdarah. ( Melukai Sang Buddha )
3. Mengajari Raja Ajatashatru untuk melepaskan gajah mabuk supaya menginjak Buddha. ( Membunuh Buddha )
4. Memukul mati Bhiksuni Utpalavarna. ( Membunuh Arahat )
5. Memborehkan racun di sepuluh jarinya dengan tujuan ingin membunuh Sang Buddha saat bersujud di kaki Buddha. ( Membunuh Buddha )

Dalam Esai Kebijaksanaan Tertinggi Mahayana dikatakan : “Yang disebut Shi-luo dinamakan kesejukan, juga dinamakan sila. Kobaran api tiga karma dapat membakar sadhaka, namun sila mampu memadamkannya, oleh karena itu disebut juga kesejukan. Dikarenakan dapat mencegah, maka dinamakan sila.”

Sila dari Buddha dibagi menjadi empat tingkatan :

1. Panca-sila
2. Asta-sila
3. Dasa-sila
4. Upasampada.

Empat bagian sila adalah :

1. Sila-dharma : Ajaran Suciwan dinamakan Dharma.
2. Tubuh Sila : Menerima Dharma kemudian diamalkan , dinamakan tubuh.
3. Aktivitas Sila : Dari pengamalan memberikan perlindungan, dinamakan aktivitas.
4. Sila-laksana : Dari aktivitas sila menghasilkan keagungan, dinamakan laksana ( atribut sila ).

Dari Sakya Zheng-kong Lama ( Dezhung Rinpoche ) saya memperoleh banyak sila, yang paling mendasar adalah 14 Sila Mula Tantrayana, Delapan Sila Tantrayana, Sila Tubuh, Sila Ucapan, Sila Pikiran, Sila Panca-dhyani Budhda, Sila Panca Dakini, Sila Anuttara-tantra, Sila Sifat dan lain sebagianya.

Saya ( Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu ) dengan tulus memberitahu Anda sekalian, saya pribadi mentaati sila namun bukan dibelenggu oleh sila.

Menurut saya :

Berupaya sesuai kealamiahannya adalah bajik.
Tidak bertolak belakang dengan kebenaran dan tidak melawan hati nurani adalah bajik.
Sedangkan yang bertolak belakang dengan kebenaran dan melawan hati nurani adalah kejahatan.

Seperti :

Guru Padmasambhava menggunakan metode bhavana sukha, Guru Milarepa menggunakan metode bhavana keras, keduanya sama-sama dapat Tercerahkan dan merealisasi Bodhi.

Inilah yang dikatakan sebagai tiap orang sesuai dengan kealamiahannya dan setiap orang menjalankan sesuatu sesuai kewajiban.

Gunung diam.
Air mengalir.
Masing-masing memiliki perannya.

Saya selalu merasa bahwa sila Sutrayana maupun Tantrayana bersifat hidup, bukan mati. Seorang Buddha Hidup yang memiliki pandangan leluasa, seorang Buddha Hidup yang bersemayam dalam Samadhi Permainan Kosmis, seorang Buddha Hidup yang memperoleh Vijaya-sukha, telah melampaui sila, mampu sekehendak hati tanpa melanggar sila, sebab orang yang demikian telah murni dan Maha-paripurna !

Metode Mengatasi Dalam Yoga-tantra

Dalam pemahaman saya secara mendalam,Yoga-mula-sutra, catur-kula merupakan akar dari semua sutra, catur-kula ini antara lain :

1. Buddha-kula : Turunan dari Vairocana Buddha.
2. Vajra-kula : Turunan dari Aksobhya Buddha.
3. Padma-kula : Turunan dari Amitabha Buddha.
4. Ratna-kula : Turunan dari Ratnasambhava Buddha.
  
Yang hendak saya uraikan adalah, Buddha-kula dapat dikatakan merupakan Buddhata, Vajra-kula merupakan kemenangan atas triloka, Padma-kula merupakan pengendalian para insan, Ratna-kula merupakan penyempurnaan harapan para insan, juga merupakan Sadhana Karman yang menyukseskan segala aktivitas, oleh karena itu disebut juga Karma-kula.

Saya menjumpai sesungguhnya menekuni catur-kula ini merupakan metode untuk mengatasi empat jenis sifat insan awam :

1. Penekunan Buddha-kula untuk mengatasi keserakahan.
2. Penekunan Vajra-kula untuk mengatasi kebencian.
3. Penekunan Padma-kula untuk mengatasi kebodohan dan pandangan sesat.
4. Penekunan Ratna-kula untuk mengatasi sifat kikir.
  
Renungkanlah dengan seksama, catur-kula mula dalam yoga-tantra merupakan mula dari bhavana umat manusia, yoga-tantra mentransformasikan sifat manusia, mentransformasikan keserakahan menjadi Buddha, kebencian menjadi Vajra, kebodohan menjadi Padma dan kekikiran menjadi Ratna.

Dalam Tantrayana, sifat manusia seperti keserakahan, kebencian, kebodohan dan kekikiran dapat dipandang sebagai sifat Buddha, sebab apabila mencapai realisasi dari penekunan transformasi keserakahan – kebencian – kebodohan dan kekikiran, maka akan menjadi Buddha, Vajra, Padma dan Ratna.

Demikian saya menjabarkannya, Anda pasti dapat memahami.

Oleh karena itu, dulu saya pernah menulis :

Namo Keserakahan Tanpa Batas
Namo Kebencian Tanpa Batas
Namo Kebodohan Tanpa Batas
Namo Kekikiran Tanpa Batas
  


Dalam hal metode mengatasi dalam yoga-tantra :

Tubuh manusia merupakan Catur-maha-mudra, yaitu : kaya-mudra ( tubuh ), vak-mudra ( ucapan ) , citta-mudra ( pikiran ) dan karma-mudra ( tindakan ). Dalam Yoga-tantra dikatakan, menggunakan karma tubuh, ucapan dan pikiran dari manusia, dilatih untuk bertransformasi menjadi tubuh-ucapan dan pikiran yidam, dengan kata lain aku dan yidam manunggal, merealisasikan empat kualitas yidam.

Dalam Sastra A-fu-da-re diungkapkan dengan sangat jelas :

“Ketahuilah bahwa Mahamandala dalam Catur-kula bertujuan untuk mempersemayamkan rupakaya para Adinata, merupakan manifestasi guhya tanpa batas dari tubuh. Samaya Mandala bertujuan untuk merepresentasikan pintu pembebasan yang direalisasikan, mempersemayamkan vajra – ankusa – bana – gantha dan lain sebagainya, merupakan manifestasi guhya tanpa batas dari pikiran. Dharma Mandala bertujuan untuk merepresentasikan upaya kausalya yang direalisasi, mempersemayamkan Para Adinata yang berdiam dalam samadhi, merupakan manifestasi guhya tanpa batas dari ucapan. Sedangkan Karma Mandala bertujuan mempersemayamkan Adinata Pujana, ketahuilah bahwa ini semua merupakan kesatuan aktivitas Sarva Tathagata dalam memberikan manfaat bagi para insan.”
  
Dari kalimat tersebut dapat diperoleh :

Maha-mandala : Tubuh
Samaya-mandala : Pikiran
Dharma-mandala : Ucapan
Karma-mandala : Karma.

Dari sini kita mengetahui :
Kebenaran dalam Tantrayana berada dalam penyerapan sejati, menyerap karma tubuh, ucapan dan pikiran insan awam untuk ditransformasikan menjadi aktivitas tubuh, ucapan dan pikiran Yidam. Ini merupakan metode untuk mengatasi.
  



Saya ( Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu ) dengan sungguh memberitahu Anda semua, saya telah memperoleh Siddhi Mahaparipurna dalam Buddha-kula, Vajra-kula, Padma-kula dan Ratna-kula ( Karma-kula ). Saya telah naik ke Vajra-dhatu, memperoleh Abhiseka Paripurna Para Adinata Vajra-dhatu Mandala.

Mahavairocana Tathagata mengatakan : “Buddha Hidup Lian-sheng merupakan Acarya Sarva-kula.”

Sarva-kula Acarya adalah Mahavidyadharacarya, juga merupakan Vajradharacarya, disebut juga sebagai Guhyapati.

Mahavairocana Tathagata juga mengatakan :
  
“Di dunia ini, Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu merupakan yang paling utama dalam hal memperoleh Abhiseka Paripurna Sarva Adinata Vajradhatu Mandala.”

Di sini saya memahami :

Saya adalah Acarya Sarva-kula.

Sedangkan Buddha Hidup yang lain merupakan Acarya beberapa kula saja.
  


Saya memiliki alam semesta.
Semesta ini adalah aku.
Saya memperoleh silsilah Kesunyataan ( Buddhata )
Saya mengkonfirmasi Acarya lain.

Sadhana Tantra Zhenfo akan tersebar luas di seluruh dunia, saya akan mentransmisikan samaya dan vinaya, Sadhana Lima Bagian, Catur-mandala, Yoga Beratribut, Yoga Tanpa Atribut, Anuttara-tantra, Sadhana Sarva-kula, menggunakan Mudra Samadhi Catur-mudra merealisasi Tathagata Yang Tak Terhingga.