Selasa, 10 Juni 2014

Pundak dan Punggung Saya Kesakitan

Hari itu, siswa bermarga Wu mengendarai minibus pribadi, sebelum lampu kuning berubah menjadi lampu merah, rem mendadak. Karena rem terlalu cepat, tubuh agak condong ke kiri.

Namun, dari belakang sebuah truk besar yang membawa semen melaju sangat pesat, tidak sempat rem, kepala truk menabrak keras belakang minibus.

Setelah terdengar bunyi tabrakan yang sangat keras, siswa bermarga Wu merasa pusing, tak disangka mobil ditabrak ke tepi selokan di sebelah kanan; sedangkan pundak kiri tubuh entah menabrak pegangan tangan atau tidak, terasa sakit sobekan.

Di depan perempatan jalan, kebetulan ada polisi yang sedang mengatur lalu lintas, polisi menghampiri untuk menangani kecelakaan di jalan.

Truk semen tidak apa-apa.

Namun, bagian belakang mobil siswa Wu telah berubah bentuk, semua kaca jendela mobil pecah.

Karena siswa bermarga Wu memeluk Agama Buddha, tidak sudi perhitungan. Setelah didamaikan oleh polisi, masalah pun berlalu.

Namun, bagian pundak dan punggung siswa Wu malah merasakan sakit yang luar biasa.

Ia di-rontgen, tidak ada tulang patah.

Dokter memberikan obat pereda sakit.

Ditempel lagi dengan salonpas.

Namun, tidak sembuh, bagian pundak dan punggung sakit sekali, hingga 2 bulan pun tidak kunjung sembuh.

Ia mencari pengobatan alternatif China dengan metode urut.

Ditempel salep obat, juga tidak sembuh.

Ada orang menyarankan untuk suntik steroid, pasti akan sembuh.

Namun, ia berpikir: streroid ada efek samping, ia tidak berani.

Saat siswa bermarga Wu memohon Mahaguru Lu menjamah kepala, ia berkata, "Bagian pundak dan punggung sakit."

Saya menepuk dua kali, lalu pergi!

Siswa bermarga Wu berpikir, "Sinshe mengurut pundak dan punggung saya, menghabiskan waktu satu setengah jam, diurut sampai memar; pakai kop lagi, darah merah tersedot hingga menembus permukaan kulit."

"Hari ini Mahaguru Lu hanya menepuk ringan 2 kali, pemberkatan seperti ini, apakah bisa sembuh?"

Malamnya, ia tidur nyenyak sekali, samar-samar, ia juga tidak tahu pergi ke mana, pokoknya, di tengah gunung bersih dan berpemandangan indah. Ia melihat seorang nenek yang sangat ramah dan berwibawa sedang memasak secawan obat.

Wu bertanya, "Buat apa memasak obat?"

Si Nenek menjawab, "Menyembuhkan sakit pundak dan punggungmu."

Wu bertanya, "Anda tahu dari mana pundak dan punggungku sakit?"

Si Nenek menjawab, "Semua gara-gara Mahaguru Lu Anda yang suka mencampuri urusan orang lain, meminta tolong saya memasak obat."

Wu berkata, "Guru benar-benar sangat memperhatikan saya!"

Si Nenek menjawab, "Guru Anda sangat santai, yang sibuk adalah dewa bumi seperti kami ini, bekerja untuknya."

Wu berkata, "Saya mewakili Guru saya berterima kasih pada Anda!"

Wu meminum kuah obat, anehnya, setelah bangun, sakit yang luar biasa pada pundak dan punggung pun sembuh total.

Wu datang memberitahu saya kejadian ini.

Wu bertanya, "Siapa nenek itu?"

Saya menjawab, "Beliau adalah Lishan Laomu!"

Roh Pelindung Terlalu Kuat

Pernah ada seorang nona datang mencari saya, pertama kali bertemu, saya agak terkejut, tampang nona ini mirip seorang dewi, semacam kecantikan yang sempurna tanpa cela.

Anggun, cantik jelita, dan menawan.

Latar belakang pendidikan sangat tinggi dan kaya pengalaman.
Lingkungan keluarga menengah ke atas.

Namun, ada sedikit penyesalan, umur sudah 30 tahun, namun masih tetap lajang.

Orang zaman sekarang, ada sebagian wanita tidak ingin menikah, ada sebagian pria juga tidak ingin menikah, namun, ia bukan.

Ia memohon saya menjamah kepala dan memberkati, agar segera mendapatkan pria idamannya.

Saya menjamah kepalanya.

Tidak berhasil.

Menjamah kepala untuk kedua kali.

Tidak berhasil.

Menjamah kepala untuk ketiga kali.

Tidak berhasil.

....

Ia merasa agak kecewa, karena Mahaguru menjamah kepala biasanya sangat manjur, mengapa tidak berhasil pada dirinya?

Apakah tidak ada orang yang mengejarnya?

Tidak!

Banyak orang yang mengejarnya. Banyak yang tidak sebanding. Namun, ada sebagian juga sangat selaras, akan tetapi, setiap kali membicarakan pernikahan, maka muncullah kecelakaan.

Sang pacar meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas.
Sang pacar tiba-tiba mengalami patah kaki, sehingga menjadi pincang.
Sang pacar tak disangka terkena stroke.
Sang pacar mengalami Muscular Dystrophy (gejala penyusutan otot)
Dan lain sebagainya.

Orang-orang yang membicarakan tentang pernikahan ini, ada yang meninggal dunia, ada yang terluka, benar-benar aneh sekali.

Saya sendiri juga merasa aneh.

Kemudian, saya bertanya pada yidam saya, "Apakah ia akan menikah?"

Yidam menjawab, "Ya!"

Saya bertanya, "Mengapa hingga sekarang tidak menikah?"

Yidam menjawab, "Roh pelindungnya terlalu kuat."

Saya bertanya, "Siapa roh pelindungnya?"

Yidam menjawab, "Pacar pertamanya telah bertunangan dengannya dan segera menikah, tak disangka mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal dunia. Setelah pacar pertama ini meninggal dunia, menjadi roh pelindungnya. Roh pacarnya menganggap dirinya adalah suami, setiap kali bertemu pria lain ingin mendekatinya, ia memikirkan segala cara untuk memisahkan mereka!"

Wah! Akhirnya saya tahu penyebabnya! Saya bertanya pada nona ini, ternyata memang demikian.

Pacar pertamanya telah menentukan hari pernikahan, 3 hari sebelum menikah, mengalami kecelakan lalu lintas dan meninggal dunia.

Saya memikirkan solusi, memanjatkan Sutra dan menyeberangkan sang pacar ini, menyerahkan roh pacarnya kepada Chakravartin.

Membantu si nona melakukan simabandhana.

Kemudian menjamah kepala memberkati.

Kali ini, nona yang cantik dan menawan itu, akhirnya menikah. Saat ia menikah, juga memberikan saya selembar undangan, saya tidak menghadiri pernikahannya, hanya memberikan kado.

Akhir-akhir ini, saya dengar ia telah mengandung, saya diam-diam berbahagia untuknya.

Oleh karena itu, asalkan ditemukan "simpul" tersebut, begitu dibuka, pasti berhasil!

Sabtu, 07 Juni 2014

Seorang Bayi yang Otaknya Kekurangan Oksigen

Saat di Ling Shen Ching Tze Temple, Seattle, sepasang suami istri naik pesawat terbang selama 4 jam, menggendong seorang bayi datang mencari saya, mereka begitu turun dari pesawat, bergegas memohon bertemu.

Petugas bertanya, "Ada masalah apa bertemu Mahaguru Lu?"

Suami istri menjawab, "Masalah paling besar!"

Petugas tertawa, "Setiap orang yang bertemu Mahaguru Lu selalu mengatakan masalah terbesar di kolong langit, masalah apa sebenarnya?"

Suami istri berkata, "Masalah anak kami, sangat darurat."

Petugas berkata, "Biasanya Mahaguru Lu baru akan tiba pada saat makan siang, kalian tunggu sebentar."

Suami istri sangat panik, berkata, "Kami pergi ke tempat tinggal Mahaguru Lu."

Petugas berkata, "Tempat tinggal Beliau sangat rahasia, kami juga tidak tahu."

Begitu suami mendengar, langsung naik pitam, "Kurang ajar."

Suami istri menggendong bayi, panik sekali, ke mana-mana bertanya pada orang, jawaban sama saja.

Sampai waktu makan siang, akhirnya bertemu muka.

Saya memahami duduk permasalahannya:

Sepasang suami istri ini, melahirkan seorang bayi laki-laki, saat lahir, tali pusar membelit lehernya, sehingga bayi kecil yang baru lahir, sesaat tidak dapat bernapas, menyebabkan bagian otak si jiwa kecil kekurangan oksigen.

Bayi kecil begitu lahir:
1. Wajah menghitam.
2. Otak mencekung.
3. Mata tidak terbuka.
4. Telinga tidak mendengar.
5. Keterbelakangan.
6. Anggota badan tidak bereaksi.
7. Muntah-muntah.

Suami istri meminta dokter memberikan pertolongan pertama, karena bayi menunjukkan kondisi tidak normal, dan rumah sakit pun memasukkan bayi ke dalam inkubator untuk diamati lebih lanjut.

Suami istri bertanya pada dokter, "Apakah tertolong?"

"Belum tahu." Dokter menjawab, "Tertolong pun mungkin cacat!"

Oh, Tuhan! Suami istri menangis terisak-isak.

Sebuah jiwa kecil pun menanti pengaturan takdir.

Walaupun jiwa kecil hidup, namun, semua gejala penyakit, sama sekali tidak dapat dipulihkan.

Mereka bertanya lagi pada dokter.

Dokter merentangkan kedua tangan, menunjukkan "tidak berdaya".

Saat ini, ada orang memberitahu mereka, "Mengapa tidak terbang ke Ling Shen Ching Tze Temple, Seattle mencari Mahaguru Lu?"

"Apakah berguna?"

"Sangat jitu!" Orang itu berkata, "Mohon Mahaguru Lu menjamah seluruh tubuh si anak."

Suami istri menggendong bayi kecil dan tabung oksigen, lalu terbang kemari.

Saya menjamah kepala si bayi kecil.

Menjamah mata, telinga.

Menjamah mulut.

Menjamah hidung.

Seberkas arus Dharma mengalir ke dalam tubuh si bayi kecil, dari bagian otak terus mengucur ke bawah.

Si bayi kecil tak disangka memuntahkan banyak darah hitam, segumpal demi segumpal.

Suami istri ketakutan melihat kondisi tersebut.

Kemudian si bayi kecil, tidur sangat lelap, bernapas normal. Begitu sadar, wajah bersemu merah, otak kembali normal, mata terbuka, telinga bisa mendengarkan suara, keempat anggota badan bisa bergerak, dan bisa bersuara.

Wah! Benar-benar sembuh, suami istri kegirangan dan bersarana pada Zhenfo!

Bhiksu Inilah Orangnya

Seorang siswa saya, karena kecelakaan lalu lintas, tulang kaki patah, dibawa ke rumah sakit, berbaring di atas ranjang pasien.

ruang pasien ini adalah ruang pasien untuk dua orang, satu pasien lagi adalah pasien yang lumpuh dengan kondisi tangan dan kaki kejang-kejang.

ruang pasien untuk dua orang, di tengah disekat sebuah tirai. Tirai kadang-kadang terbuka, kedua pasien saling tukar nama:

Siswa bermarga Qian.
Pasien lumpuh bermarga Yu.

Pasien lumpuh ini sudah belasan tahun sakit.

Karena saudara-saudarinya adalah orang berada, lebih dulu mengerahkan dana dalam jumlah besar untuk diobati oleh dokter terkenal, namun tak kunjung sembuh.

Akhirnya tetap dibawa ke rumah sakit untuk dirawat dan menghabiskan sisa hidupnya.

Tangan dan kaki tidak dapat bergerak, namun, pikiran masih jelas.

Dirinya dan saudara-saudarinya telah putus harapan.

Siswa bermarga Qian menempel foto Mahaguru Lu di atas tempat tidur rumah sakit.

Setiap hari memanjatkan Sutra Raja Agung.
Japa Mantra Hati Mulaguru.

Peristiwa aneh pun terjadi...

Pasien lumpuh bermarga Yu itu, sejak pasien bermarga Qian dirawat inap, setiap malam melihat, ada seorang bhiksu perlahan-lahan memasuki ruang pasien, pintu tidak terbuka, ia pun masuk.

Bhiksu ini mengulurkan tangan menjamah kaki pasien bermarga Qian, bagian tulang yang patah, selesai menjamah, lalu melesat pergi.

Suatu kali, si bhiksu sehabis menjamah pasien patah tulang, menoleh memandang pasien lumpuh dan tersenyum.

Pasien lumpuh Yu juga tersenyum ramah.

Bhiksu ini menghampiri, menjamah seluruh tubuh pasien lumpuh ini.

Sehabis menjamah, lalu melesat pergi!

Anehnya adalah....

Patah tulang siswa bermarga Qian ini pun pulih dalam waktu yang singkat!

Ia pun mau keluar rumah sakit.

Ia menurunkan foto Mahaguru Lu dari atas ranjang pasien, bersiap-siap dibawa pergi.

Penderita lumpuh bermarga Yu itu memanggilnya, "Tolong perlihatkan saya foto itu."

Qian berkata, "Beliau adalah Mahaguru Lu."

Begitu Yu melihat foto, berkata, "Bhiksu inilah orangnya. Setiap malam datang ke ranjang pasien, menjamah patah tulang Anda, juga menjamah kaki dan tangan saya. Saya melihatnya jelas sekali, Anda lihat tangan dan kaki saya kejang, makin kendur hari demi hari, tolong tempelkan foto ke atas ranjang saya, dan ajarkan saya Sutra dan Mantra yang Anda japa. Tolong! Tolong!"

Qian sangat baik hati.

Menempelkan foto di atas ranjang Yu.

Mengajarkan Mantra Hati padanya.

Memberikan sebuah kitab Sutra Raja Agung.

Qian pun pamit pada Yu.

Setengah tahun setelah kejadian ini.

Qian teringat kejadian ini, saat kebetulan melewati rumah sakit, lalu menjenguk si lumpuh Yu yang saat itu dirawat.

Tak disangka....

Yu juga telah keluar dari rumah sakit.

Dokter berkata, "Pasien yang tadinya putus asa, kaki tangan kejang tak disangka perlahan-lahan menjadi kendur. Tidak hanya itu saja, setiap hari menjapa mantra, setiap hari memanjatkan Sutra, terakhir tangan dan kaki pun dapat bergerak. Entah mengapa, bisa bergerak, terakhir tak disangka turun dari ranjang dan berjalan."

Makanya, keluar dari rumah sakit!

Qian bertanya, "Di mana fotonya?"

Dokter menjawab, "Ia berikan pada pasien lain!"

Anda Pasti Akan diterima

Ada seorang umat bernama Yajing, mengajukan aplikasi Ph.D sebuah universitas terkenal, dokumen aplikasinya dibawa untuk diberkati oleh saya. Saat tangan saya menjamah dokumennya, merasakan sehampar terang.

Saya berkata pada Yajing, "Anda pasti akan diterima!"

Yajing berkata, "Saya hanya mencoba, karena hasil aplikasi belum mencapai standar masuk kuliah, sehingga tidak berharap."

Saya berkata, "Pasti diterima, saya merasakan!"

"Benarkah?" Yajing bertanya.

"Benar." Jawab saya.

Masalah ini, si pemohon tidak berharap, karena hasil aplikasi belum mencapai standar masuk kuliah.

Namun, saya justru yakin sekali, karena saya tidak hanya melihat sehampar terang, bahkan melihat Bodhisattva Avalokitesvara menebarkan senyum dan mengangguk pada saya.

Setelah Yaqing mengajukan aplikasi, tak lama kemudian, menerima pemberitahuan dari kampus, menyatakan gagal, sehingga:

"Tidak diterima!"

Yajing dalam hati berpikir: dokumen aplikasi yang pernah diberkati oleh Mahaguru Lu, ditegaskan bisa diterima.

Kini.

Tidak diterima, nyatalah bahwa kadang-kadang ramalan Mahaguru Lu juga tidak tepat, "Ramalan yang Sangat Tepat", kelihatannya, kurang bisa dipercaya lagi!

Yajing tidak bicara.

Namun, dalam hati sangat menyesal, dari awal tidak diberkati oleh Mahaguru Lu, maka tidak ada kejadian buruk ini.

Jengkel! Jengkel!

Ia pernah bercerita pada banyak orang, Mahaguru Lu pernah berkata, "Anda pasti akan diterima!"

Kini.

Bagaimana menjelaskannya?

Kira-kira 3 bulan kemudian, Yajing menerima lagi selembar surat dari kampus yang bersangkutan.

Surat tertulis:

Tadinya di antara mahasiswa yang diterima, ada seorang yang sakit berat, tidak dapat melanjutkan Ph.D. Walaupun Anda belum mencapai standar disiplin, juga belum mencapai standar masuk kuliah. Namun, mata kuliah lain masih bagus. Sehingga, profesor yang ditunjuk membantu Anda supaya lolos, maka, tetap menerima Anda masuk Ph.D.

Oh, Tuhan!

"Diterima!"

Ternyata yang tidak diterima, menjadi diterima, ini sangat sulit dipercaya.

Yajing, senang sekali!

Yajing, meloncat-loncat kegirangan.

Ini ibarat bertemu jalan buntu! Bertemu jalan buntu! Alhasil, diterima.

Yajing segera pergi ke Taiwan Lei Tsang Temple memberitahu saya.

Begitu saya mendengarnya, juga merasa rumit dan berliku, luar biasa, merupakan sebuah keajaiban.

Sebenarnya pemberkatan itu juga berdasar:

Misal: melihat sehampar terang, bukan melihat segumpal kegelapan.
Misal: melihat Avalokitesvara, bukan melihat raksasa.
Misal: melihat senyum merekah, bukan melihat air mata berderai.

Oleh karena itu, saya berkata, "Pasti diterima!"

Saya sering berdoa, "Biarlah saya dapat benar-benar membantu orang, biarlah kontak batin saya dijadikan pegangan para insan!"

Mobil Ambulan Datang

Saya membabarkan Dharma di suatu negara, datang ke sebuah vihara, luar dan dalam vihara, serta jalanan, orang-orang berdesakan.

Tiba-tiba, datanglah sebuah mobil ambulan dari jauh terus mendekat, sirene terus-menerus berbunyi.

Orang-orang mendengar bunyi sirene ambulan, dengan sendirinya menepi dan membentuk seruas jalan untuk kenderaan, ambulan perlahan-lahan melaju di hadapan saya, tiba-tiba berhenti.

Seorang wanita turun dari mobil, berlutut di hadapan saya.

Wanita berkata, "Tolong! Tolong! Mahaguru Lu, tolong!"

Saya bertanya, "Ada apa?"

Wanita menjawab, "Kami sudah lama mendengar nama besar Mahaguru Lu, menyelamatkan orang tak terhitung. Kami khusus mengantar pasien dari rumah sakit dengan mobil ambulan, mohon Mahaguru Lu berwelas asih menolongnya."

Saya bertanya, "Apa penyakit pasien?"

Wanita menjawab, "Dua tahun lalu mengalami stroke serius, hingga sekarang belum siuman, sudah dua tahun mengalami koma, tim dokter lepas tangan. Ia adalah suami saya, ia adalah orang jujur, semoga Anda menolongnya."

Saya berkata, "Bisa disembuhkan atau tidak, saya tidak berani janji, saya berharap ada keajaiban!"

Pintu belakang mobil terbuka, seorang pasien berbaring di atas ranjang, ada oksigen, infus, alat bantu pernapasan, selang yang dimasukkan ke hidung. Orang itu sama sekali tidak bergerak, kedua mata terpejam rapat.

Saya beranjali, berdoa pada Yidam, bahkan menjapa mantra hati Yidam, pikiran fokus.

Saat ini, kedua tangan saya dengan sendirinya terbuka, kaki dibuka, tangan kiri membentuk Mudra Penaklukan, tangan kanan membentuk Mudra Jari Pedang, segumpal arus Dharma turun.

Mudra Jari Pedang dengan sendirinya menggambarkan:
Mudra 4 Lintang 5 Bujur, yakni Ling, Bing, Dou, Zhe, Jie, Zhen, Lie, Zai, Qian.

Ini adalah:

Mudra 4 Lintang 5 Bujur.
Sadhana Mantra 9 Aksara.

Sehabis memberkati, saya menggunakan telapak kanan, mengembuskan napas, menepuk kening pasien.

Saya merasakan arus Dharma dengan sendirinya memenuhi sekujur tubuh, saat saya menggambarkan mudra, memainkan mudra, mengembuskan napas ke mudra, semua sangat bertenaga, saya merasakan bahwa Buddha, Bodhisattva, dan Jinmu benar-benar mau menolong orang ini.

Ritual selesai.

Mobil ambulan mundur dan pergi.

Saat ini, saya baru masuk ke dalam vihara.

Naik ke Dharmasana.

Berceramah tentang pentingnya "keharmonisan".

Saya berkata, "Antara manusia dan diri sendiri, tidak seharusnya ada perbedaan. Anda, saya, dia, semua adalah satu keluarga. Menyelamatkan insan adalah kewajiban sadhaka, ini adalah Mahayana. Tidak hanya jangan mencelakai orang lain, bahkan harus berusaha sepenuh hati dan sekuat tenaga menolong orang lain. Kita sebenarnya adalah Buddhata maha terang yang melebur menjadi satu, memenuhi angkasa, memenuhi alam Dharma."

Sehabis berceramah Dharma.

Semua orang bertepuk tangan.

Saat ini, ada satu orang menyiarkan kabar: pasien di dalam mobil ambulan tadi, baru kembali ke rumah sakit, orang yang koma dua tahun, sudah membuka mata, mulut bahkan komat-kamit, Bodhisattva datang menolongnya.

Orang-orang di rumah sakit berteriak, "Keajaiban! Keajaiban!"

Orang-orang di vihara berteriak, "Luar biasa!"

Saya berkata, "Buddha mengabulkan doa orang yang tulus!"

Sabtu, 31 Mei 2014

Ilusi di dalam Ilusi

Saya lebih dulu menceritakan dua lelucon:

Wanita A, "Syarat teman pria Anda sangat baik, tinggi dan tampan, bahkan dokter ahli kardiologi. Mengapa Anda bisa berpisah dengannya?"
Wanita B, "Buat apa, dia tidak pernah mendengar suara hati saya!"
Hahaha!

Kedua:

Seorang wanita mendengarkan temannya menjelaskan secara detil proses terserang penyakit, temannya menjelaskan sangat terperinci, dan sangat serius. Namun, wanita ini mendengar dan mendengar, tak disangka malah mengantuk.
Tiba-tiba terbangun.
Berkata pada temannya, "Kalau begitu, apakah Anda sudah meninggal dunia?"
Hahaha!

(Kedua lelucon ini, sangat semu)

Banyak orang sangat penasaran dengan tubuh maya yang rahasia, apa itu tubuh maya?

Banyak orang bertanya pada saya, "Apa itu tubuh maya?"

"Tubuh maya itu sangat maya." Saya berkata.

Jika menurut versi orang biasa, tubuh maya adalah roh, mengatakan roh, kita semua sangat jelas. Roh adalah bardo.

Namun, roh juga dibagi menjadi beberapa tingkatan:
Roh hantu. (kekuatan kecil)
Roh dewa. (kekuatan besar)
Roh siluman. (berubah-ubah)
Roh Buddha. (sempurna)
Dan lain sebagainya.

Penekunan Tantra itu seorang sadhaka menghasilkan tubuh maya sebelum ia meninggal dunia.

Kadang-kadang tubuh maya tidak hanya satu, tubuh maya yang dihasilkan bisa banyak, inilah titisan di luar tubuh.

Saya pribadi berasumsi, cara terbaik melatih tubuh maya adalah:
"Sadhana Membuat Cermin".

Saya pernah menjelaskan secara terperinci Sadhana Membuat Cermin, tidak dijelaskan ulang lagi di sini, rumusnya adalah:
Diri sadhaka.
Yidam.
Anda di dalam cermin.
(Ketiganya menyatu)

Ilusi di dalam ilusi, lahirlah tubuh maya. Tubuh maya ini adalah tubuh paling halus dari diri sadhaka, merupakan penjelmaan kekuatan hati, yaitu tubuh yang dilahirkan dari pikiran, boleh dikatakan "tubuh kesadaran".

Saya beritahu Anda semua sebuah rahasia, untuk mencapai tingkat Buddha, adalah hasil dari dua benda:
1. Tubuh maya.
2. Cahaya suci.
Tingkat Buddha itu setara, sangat dalam, abadi, satu-satunya, kemuliaan sejati, bersih, terang, kenikmatan sempurna.
Dengan kata lain, Buddhata yang mahatinggi.

Saya mohon Anda semua perhatikan, di dalam 6 Sadhana Naropa, harus melatih Sadhana Tubuh Maya, juga harus melatih Sadhana Cahaya Suci, semua ini adalah referensi, sedangkan saya berasumsi bahwa melatih tubuh maya, bisa menitis di luar tubuh, ratusan miliar titisan yang tercantum di dalam Sutra, sama dengan ratusan miliar tubuh maya. Seingat saya, setelah mata batin saya dibukakan oleh Yaochi Jinmu, saat itu, tubuh maya saya pun muncul. Tubuh maya saya melihat kehidupan lampau saya, menjelajahi 28 surga dan enam alam kehidupan, inilah penjelajahan tubuh maya.

Sadhaka harus menyaksikan tubuh maya sendiri, setelah berhasil dalam Sadhana Membuat Cermin, bisa terlihat sendiri di dalam samadhi.