Jumat, 07 November 2014

Dewa Pohon Bodhi

Saya pernah pergi ke India, pernah mengunjungi Mahabodhi Temple. Di belakang vihara, ada sebatang Pohon Bodhi besar, pemandangan dulu saat Sang Buddha duduk di Vajrasana Pohon Bodhi besar dan mencapai pencerahan muncul satu demi satu.
Seseorang memberitahu saya, “Pohon Bodhi ini bukan lagi Pohon Bodhi Sang Buddha dulu, Pohon Bodhi yang sesungguhnya sudah ditransplantasi ke Sri Lanka (Negeri Singa), Pohon Bodhi yang sekarang adalah cangkokan.”
Setelah mendengarnya, walaupun agak sedih, namun, tetap bernamaskara 3 kali pada Pohon Bodhi dan berfoto di bawah Pohon Bodhi.
Sekembali ke Seattle, Amerika Serikat, saya buka sebuah kitab Sutra lama saya, Sutra Vairocana Mencapai Bodhi dalam Kehidupan Sekarang, jatuh sehelai daun kering Pohon Bodhi, daun kering berbentuk roda.
Malamnya.
Ada seorang dewa muncul dalam mimpi saya.
Saya bertanya, “Siapa?”
Ia menjawab, “Dewa Pohon Bodhi!”
Syaa bertanya, “Ada apa?”
Ia menjawab, “Jodoh sangat dalam! Dulu, Raja Ashoka menghancurkan beragam benda peninggalan Sang Buddha, menebang Pohon Bodhi, namun, begitu angin sejuk meniup, tumbuh lagi 2 pohon besar. Raja Ashoka tebang lagi, menghancur-leburkan akar, batang, ranting, dan daun, ditimbun dan dibakar. Namun, setelah dibakar, tumbuh lagi 2 batang Pohon Bodhi, seperti pohon giok ditiup angin. Raja Ashoka terkejut sekali melihatnya, sejak itu mengubah kebencian terhadap Sang Buddha menjadi keyakinan terhadap Agama Buddha, ini adalah jodoh antara kita.”
Melanjutkan, “Pada zaman Yang Arya Atisa, Yang Arya menetap di Mahabodhi Temple, sering mengelilingi vihara dan mengelilingi pohon, Yang Arya memiliki daya gaib, kaki berjarak 1 siku di atas tanah, mengelilingi vihara dan mengelilingi pohon, seperti berjalan di air dan awan yang mengalir, ini juga jodoh karma antara kita.”
Melanjutkan, “Mahaguru Lu, Anda kembali ke Hindustan, India, Anda bernamaskara di hadapan Mahabodhi Temple dan Pohon Bodhi. Ini adalah jodoh karma banyak kehidupan.”
Saya berkata, “Sembah sujud pada Dewa Pohon!”
Dewa Pohon menjawab, “Mahaguru Lu, Anda wajib meneruskan semangat Yang Arya Atisa. Anda pergi ke Jambi, Sumatera, mengunjungi tempat Atisa memohon Dharma pada Serlingpa. Anda telah menanam sebatang Pohon Bodhi, seketika di langit bergemuruh halilintar yang sangat keras. Hujan gerimis pun turun, ini adalah isyarat yang saya berikan pada Anda!”
Saya berkata, “Ah! Memang benar!”
Dewa Pohon berkata: pandangan benar Madhyamika dari Atisa itu mewariskan Aliran Prasangika dari Upadesacarya Candrakirti, konsep Sifat Nidana adalah Sunya. Anda wajib membabarkan konsep Madhyamika dari Buddhapalita, Bhavyaviveka, Candrakirti, Śāntarakṣita.
Dalam aspek membangkitkan Bodhicitta, membabarkan Tujuh Jenis Sebab Akibat dan Tonglen (Dharma bertukar posisi antara diri sendiri dan makhluk lain).
Membabarkan Sastra Samgrahacarya, Sastra Penerangan Jalan, Sastra Membangkitkan Bodhicitta.
Lebih lanjut:
Hina-marga – tidak mendambakan kesenangan duniawi, merenungi hidup-mati dan ketidakkekalan, takut berbuat jahat dan jatuh ke alam menderita, menjalankan sepuluh karma baik.
Madhya-marga – muak dengan 3 keberadaan (karmadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu), membangkitkan niat meninggalkan duniawi, berlindung pada Empat Kebenaran Mulia dan Duabelas Nidana, serta mencapai nidana.
Utama-marga -- membangkitkan Bodhicitta, memberikan manfaatkan kepada insan untuk mencapai kebuddhaan, Sadparamita (enam jalan menuju pantai seberang) dan Samgraha (empat cara menarik insan belajar Buddhisme), serta mencapai hasil kebuddhaan Mahayana.
Dewa Pohon berkata, “Kadampa, Gelugpa, Atisa, Tsongkhapa, Mahaguru Lu, ini adalah serangkai japamala. Sehingga Anda wajib mengulas tentang Sila, cepatlah pergi! Jangan lupa! Jangan lupa!”

Siapa Pemimpin yang Melaksanakan Buddhadharma Masa Kini?

Mahaguru Lu mempunyai seorang siswa bernama Lianzan, bertahun-tahun bersarana, bertahun-tahun belajar Sadhana Tantra, sejak dulu sangat tekun, sayangnya tidak ada tanda-tanda kontak yoga, setelah bertahun-tahun belajar, merasa agak putus asa.
Terlintas dalam pikiran Lianzan untuk meninggalkan Mahaguru Lu dan mencari guru bijak lain untuk memohon rumus sejati, agar tidak menyia-nyiakan waktu kehidupan.
Sehingga ia dengan tulus mempersembahkan persembahan di hadapan Buddha Triratna, berturut-turut mempersembahkan 7 hari.
Berdoa pada Triratna, “Siswa Buddha mempersembahkan persembahan tubuh, ucapan, dan pikiran kepada Triratna, mohon Para Buddha Bodhisattva melindungi, sehingga dalam kehidupan sekarang, menemukan guru bijak Buddhadharma yang sejati, memohon rumus dan transmisi sejati, agar dalam kehidupan sekarang, dapat mencapai keberhasilan, semoga Triratna memberikan petunjuk.”
Demikian berdoa berulang-ulang.
Malamnya memasuki alam mimpi, benar-benar terjadi keajaiban, tak disangka Lianzan tiba di Vajrasana, Mahabodhi Temple, India, saat itu Sang Buddha Sakyamuni sedang ber-Dharmadesana, di samping Dharmasana berderet satu baris, setiap Dharmasana, masing-masing diduduki oleh Thera Ayusamat (para tetua yang memiliki umur tak terhingga), setiap Thera tampak agung, begitu dilihat, membuat orang ingin memberikan penghormatan.
Lianzan bertanya pada seorang mahabhiksu yang menghadiri upacara, “Apakah Sang Buddha masih menetap di dunia dan ber-Dharmadesana?”
Mahabhiksu menjawab, “Tidak.”
Lianzan bertanya, “Siapa Thera Ayusamat di kiri dan kanan? Siapa menetap di dunia dan ber-Dharmadesana?”
Mahabhiksu menjawab, “Kiri adalah Ananda, kanan adalah Mahakasyapa, kedua-duanya belum menetap di dunia dan ber-Dharmadesana.”
Lianzan bertanya, “Siapa Thera Ayusamat lainnya? Siapa menetap di dunia dan ber-Dharmadesana?”
Mahabhiksu menjawab, “Mereka semua adalah Maha-Arahat, semua belum menetap di dunia dan ber-Dharmadesana.”
Lianzan bertanya, “Dharmasana lain, juga ditempati oleh Bodhisattva, siapa yang menetap di dunia dan ber-Dharmadesana?”
Mahabhiksu menjawab, “Bodhisattva hadir merespon berdasarkan sebab dan kondisi, namun tidak menetap di dunia dan ber-Dharmadesana.”
Lianzan bertanya, “Saya ingin mencari guru bijak yang menetap di dunia dan ber-Dharmadesana, bersarana padanya, memohon rumus sejati, agar mencapai keberhasilan dalam kehidupan sekarang.”
Mahabhiksu menjawab, “Yang Arya yang menetap di dunia, sudah menghadiri upacara, Beliau akan masuk!”
Saat ini.
Tambur dan lonceng dibunyikan, dewi-dewi menebarkan bunga, dari luar vihara masuklah seseorang.
Orang ini tidak tinggi juga tidak gemuk, rupa agung. Berjubah Dharma berwarna merah Tibet, tubuh bagian atas menyandang jubah Sila. Berjalan tidak cepat maupun lambat, kaki tidak menyentuh lantai, melayang perlahan masuk ke dalam tempat upacara.
Sang Buddha, Maha-Arahat, para Maha-Bodhisattva, semua berdiri dan menyambutnya. Yang Arya yang menetap di dunia, naik ke Dharmasana yang tidak tinggi maupun rendah, Dharmasana ini tidak lebih tinggi daripada Sang Buddha, juga tidak lebih tinggi daripada Maha-Arahat, juga tidak lebih tinggi daripada Maha-Bodhisattva, posisi berada di tengah.
Lianzan membuka mata lebar-lebar dan melihat, berseru, “Oh, Tuhan! Mahaguru Lu!”
Mahabhiksu berkata, “Beliau sebenarnya adalah Sariputra, Buddha Padma Prabha Svara pada masa depan, Bhagavan Sheng-yen Lu pada masa kini.”
Lianzan bertanya, “Ternyata guru saya adalah orang yang menetap di dunia dan ber-Dharmadesana, pemimpin yang melaksanakan Buddhadharma, apakah saya seharusnya memohon rumus sejati pada Mahaguru Lu?”
Mahabhiksu menjawab, “Benar.”
Lianzan terbangun dari mimpi.
Kemudian memohon pertobatan pada Mahaguru Lu, serta memohon rumus yang luar biasa!

Ombak Menerjang ke Darat

Upasika senior Yan Bing adalah upasika yang bersarana pada saya bertahun-tahun, yidamnya adalah Padmakumara. (Marga Yan adalah marga suami)
Ia setiap hari menekuni Sadhana Padmakumara dua kali, suaminya telah lama meninggal dunia, meninggalkan seorang putra, putra telah dewasa dan menikah, menikahi istri bermarga Sun, melahirkan seorang putra Yan Zhi yang rupawan, sudah berumur 10 tahun.
Karena kondisi keluarga biasa saja, putra dan menantu bekerja, cucu bernama Yan Zhi ini, dirawat dan dibesarkan oleh Yan Bing.
Suatu hari.
Upasika senior Yan Bing, bersadhana di altar rumah sendiri, saat bersadhana hingga memasuki samadhi, seketika mengantuk, merasa sangat lelah, tak disangka ketiduran dalam posisi duduk, memasuki alam mimpi.
Seketika.
Mahaguru Lu muncul dalam mimpi, Mahaguru Lu berpakaian Lama, namun, sekujur tubuh basah kuyup, kelihatan seperti jatuh ke dalam air lalu naik lagi, terlihat sangat iba.
Yan Bing melihat, terkejut, “Mahaguru Lu! Mengapa Anda seperti ini?”
Saya menjawab, “Saya terjatuh ke dalam air.”
Yan Bing bertanya, “Mengapa Anda bisa jatuh ke dalam air? Pasti ada sebabnya.”
Saya menjawab, “Anda benar-benar pintar, saya turun ke air menolong seseorang, berubah menjadi ombak besar.”
“Menolong siapa?”
“Menolong cucu Anda Yan Zhi.”
“Anda bicara sembarangan, cucu saya Yan Zhi hari ini bersama beberapa teman sekolah bertamasya ke gunung, bagaimana mungkin Yan Zhi jatuh ke dalam air?”
Saya menjawab, “Yan Zhi bersama teman sekolah bukan ke atas gunung, melainkan ke pantai, terpeleset jatuh ke air, saya baru menolongnya.”
Yan Bing terkejut, “Benarkah?”
Saya menjawab, “Tentu saja benar. Saya pulang dan ganti baju, selamat tinggal!”
Yan Zhi pulang, seperti biasanya, pakaian rapi, berteriak, “Nenek! Saya pulang!”
Yan Bing bertanya, “Apakah kamu mendaki gunung?”
“Tentu saja, sangat menyenangkan.”
“Benar-benar pergi mendaki gunung?” Bicara jujur, jangan berbohong, saya paling benci anak yang berbohong, kamu benar-benar mendaki gunung?”
Yan Bing memperlihatkan wajah marah, dan bertanya dengan suara murka.
Yan Zhi tidak pernah melihat nenek semarah ini, suaranya ketakutan dan bertanya, “Nenek! Ada apa?”
“Kamu pergi ke pantai!”
Begitu Yan Zhi mendengar, tahu tidak dapat ditutupi lagi. Lalu bercerita sejujurnya, ia dan teman-teman sekolah bukan mendaki gunung, melainkan bermain ke pantai, ia tidak sengaja, jatuh ke dalam laut.
Ketika sedang terombang-ambing, minum beberapa teguk air, mata melihat tidak sanggup lagi, tiba-tiba sebuah ombak besar menerjang.
Menerjangnya ke atas pantai, ia terkapar di atas pantai.
Dua orang teman sekolahnya bergegas menolongnya. Untung ia masih bertenaga.
Mereka kehilangan minat bertamasya, lebih dulu mendatangi rumah teman sekolah lain, pakaian dibersihkan, disetrika rapi, agar pulangnya tidak dimarahi oleh nenek. Ketiga teman sekolah telah janjian, sepulangnya sama sekali tidak mengungkit masalah jatuh ke laut, atau lain kali tidak diperbolehkan keluar bermain lagi.
Yan Zhi bingung dan bertanya, “Nenek! Anda tahu dari mana?”
Yan Bing menjawab, “Mahaguru Lu menjelma menjadi ombak besar, menerjang kamu ke atas pantai, Mahaguru Lu telah menolongmu.”
“Bagaimana Mahaguru Lu memberitahumu?” Yan Zhi tetap bingung.
“Memberikan petunjuk padaku dalam mimpi.” Nenek menceritakan sekali kejadian dalam mimpi yang diberikan oleh Mahaguru Lu.
Yan Zhi berkata, “Saya mau bertemu langsung dengan Mahaguru Lu, Beliau telah menolong saya! Saya mau bersarana!”

Untung Tidak Dirampok

Ada sebuah komunitas kecil, hanya 7 rumah, ketujuh unit rumah ini adalah villa mewah.
Ketujuh villa mewah ini dibangun setinggi 5 tingkat, setiap rumah terdapat lift, ditempati oleh keluarga konglomerat. Rumah yang berdiri sendiri, lantai paling dasar adalah garasi dua mobil, bahan bangunan berkualitas tinggi, dekorasi sangat indah, lokasi di area pertengahan gunung, berada di hutan nan hijau, sangat elit.
Namun, malah menjadi sasaran penjahat!
Suatu malam yang gelap dan angin kencang, komunitas kecil ini didatangi oleh lebih dari 20 orang perampok, merampok semua harta benda, perabotan mahal, perhiasan berharga, berlian dan emas, uang dan perhiasan, bahkan safety box, semua dipindah pergi.
Komunitas kecil ada seorang petugas keamanan, namun diikat oleh penjahat, mulutnya dibekap dengan kain dan plester, sama sekali tidak bisa bergerak.
Perampokan pun terjadi!
Namun, anehnya, di antara 7 rumah, rumah yang berada di tengah. Dua rumah di kiri, dua rumah di kanan, satu rumah di depan, satu rumah di belakang, hanya satu rumah yang berada di tengah-tengah itu tidak dirampok, sedangkan rumah yang berada di tengah tersebut, bermarga Huang bernama Shaodong, dia adalah siswa Dharmaraja Liansheng Zhenfo Zong.
Ia membeli rumah ini, saya pernah meninjau langsung fengshuinya.
Pintu utama rumah, begitu masuk, tampak foto seukuran badan Mahaguru Lu.
Huang Shaodong adalah komisaris perusahaan, selain karir, suka menjapa Mahakaruna Dharani dan Mantra Cundi.
Awalnya, ia bersarana pada Penor Rinpoche.
Kemudian bersarana pada Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu.
Yidam Cundi Bhagawati.
Dua minggu sebelum dirampok.
Huang Shaodong mengalami sebuah mimpi aneh: ia bermimpi keenam keluarga yang berada di depan, belakang, kiri, dan kanan, pindah rumah semua.
Dari ketujuh keluarga, hanya tersisa keluarganya saja.
Ia ketakutan sekali, mengapa semua orang pindah rumah, hanya keluarganya saja yang tidak pindah?
Mimpi ini sangat aneh, bahkan mimpi ini sangat jelas, ia benar-benar mengira Mahaguru Lu memberikannya petunjuk mimpi.
Kemudian, Huang Shaodong meminta saya menganalisa mimpi ini.
Saya menjawab, “Benar-benar aneh, pasti ada masalah!” (Saya meramal dengan pergerakan jari)
Ia bertanya, “Bagaimana mencegahnya?”
Saya menjawab, “Lebih dulu menggunakan Perisai Kalacakra, diletakkan di keempat sisi rumah, saya transmisikan Anda sebuah Mantra Menghasilkan Kabut.”
Ia bertanya, “Mantra Menghasilkan Kabut? Mengapa harus japa Mantra Menghasilkan Kabut?”
Saya berkata, “Nanti akan tahu!”
(Mantra Menghasilkan Kabut ditransmisikan secara rahasia)
Konon, Huang Shaodong setiap malam pasti menjapa Mantra Menghasilkan Kabut, di tengah gunung memang berkabut, dan yang paling anehnya, kabut di tengah gunung turun, kabut yang tebal turun di rumah Huang Shaodong.
Penjahat merampok harta benda, komunitas kecil berkabut, namun, hanya rumah Huang diselimuti kabut tebal selapis demi selapis, keenam rumah lainnya dirampok semua, tak disangka, mereka tidak melihat rumah keluarga Huang, aman sentosa, bahkan sebatang rumput dan pohon pun tidak rusak.
Keenam keluarga lainnya bertanya pada Huang, “Dengan ilmu apa Anda bisa terhindar?”
Huang menjawab, “Keyakinan yang tulus pada Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu.”
Keenam keluarga bertanya, “Mahaguru Lu mempunyai ilmu apa?”
Huang menjawab, “Ilmu menghasilkan kabut.”
“Menghasilkan kabut?” Keenam keluarga bingung.
Terakhir, mereka keenam keluarga juga bersarana pada saya.

Tujuh Puluh Mimpi Spiritual (Prakata)

Usia Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu sudah hampir 70, sehingga saya menulis buku ini, baru diberi judul Tujuh Puluh Mimpi Spiritual.
Sepanjang hidup saya, boleh dikatakan, dilewati dalam memahami dan mencerahi Buddhadharma, saya memahami perihal karma sebab akibat, menemukan bahwa setiap manifestasi sepanjang hidup manusia, tidak ada satu pun yang terlepas dari karma sebab akibat.
Saya pernah berkata: peristiwa kontak batin Sheng-yen Lu sebanyak pasir di Sungai Gangga, benar-benar tidak terhitung, bahkan manjur tak terhingga, yang disebarkan dari mulut ke mulut lebih banyak lagi, yang dapat dicatat hanya sebagian kecil saja, yang ditulis di dalam Tujuh Puluh Mimpi Spiritual, adalah sekelumit dari sebagian kecil ini.
Tulisan semacam ini, terutama untuk mengilhami keyakinan sejati orang-orang, memahami bahwa ada akibat karma baik dan buruk, juga bisa mengukuhkan sradha pemeluk Agama Buddha, menguatkan tekad bersadhana, dan membantu adhipati-pratyaya (sebab dan kondisi menuju peningkatan spiritual).
Apa itu mimpi spiritual?
Saya menjawab: saya dalam kehidupan sehari-hari, kontak besar menghasilkan kemanjuran besar, kontak kecil menghasilkan kemanjuran kecil, sama sekali tidak ada alasan tidak manjur.
Kejadian kontak yoga: di alam mimpi. Di alam sadar. Di alam dhyana.
Karena hidup ibarat mimpi dan ilusi, memahami dunia ibarat mimpi, semua peristiwa yang memperlihatkan kemanjuran, saya beri nama Mimpi Spiritual. Walaupun seperti mimpi dan ilusi, namun, diam-diam mengandung kekuatan, sangat luar biasa.
Saya dengan hati yang tulus, menulis buku ini.
Semoga para insan, memperoleh akar kebajikan!
Saya menunjukkan satu contoh: ada seorang siswa, bermarga Zhang, menulis surat pada saya memohon memberikan nama untuk putri yang dilahirkan istrinya! Saya langsung menulis kata “Qing”, memberi nama Zhang Qing. Serahkan kepada umat yang bertanggungjawab membalas surat, surat belum dikirim. Siswa marga Zhang ini, tiba-tiba ketiduran di atas sofa, mendengar seseorang datang memberitahunya, “Putri Anda telah diberi nama Zhang Qing oleh Mahaguru Lu! Saya khusus datang memberitahu Anda!” Selesai bicara, orang ini menghilang.
Siswa marga Zhang memberitahu istri, “Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu telah memberi nama putri kita Zhang Qing, saya menemukannya dalam mimpi.”
Istri berkata, “Mimpi mana boleh dianggap nyata!”
“Jelas sekali terdengar, Dharmaraja meminta orang datang memberitahu.”
Istri berkata, “Saya tidak percaya!”
Seminggu kemudian –
Balasan surat telah datang, begitu dibuka dan dilihat.
“Oh Tuhan! Ternyata memang Zhang Qing.”
Siswa marga Zhang terkejut! Istri terkejut!
Suami istri marga Zhang, memutuskan mencoba sekali lagi. Mohon Mahaguru Lu mengganti nama putra mereka. Saya mengganti nama Zhang Yan.
Alhasil suami istri berdua bermimpi yang sama, nama putra diganti menjadi Zhang Yan.
Putranya juga bermimpi namanya diganti menjadi Zhang Yan.
Bertiga bermimpi yang sama, aneh!
Suatu hari, balasan surat telah datang, ternyata memang adalah Zhang Yan.
Sekeluarga Zhang berseru, “Oh Tuhan! Luar biasa sekali, kami percaya pada Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu!”

Selasa, 21 Oktober 2014

Obrolan Aneh yang Tak Masuk Akal (Prakata)

Pada bulan Mei 2014, saya kembali dari Taiwan ke rumah saya Nanshan Yashe di Seattle, Amerika Serikat.
Kembali ke Nanshan Yashe yang di Amerika Serikat, ada semacam perasaan yang sangat bersih, karena:
1. Udara sangat segar.
2. Dikelilingi pohon pinus.
3. Lahan luas, rumah besar, penduduk jarang. Hanya ditempati 2 orang saja.
4. Batin kosong.
Begitu saya kembali, saya pun sibuk berdana makanan, saya menjapa:
Dàpéng jīn chì niǎo. (Garuda)
Kuàngyě guǐshén zhòng. (Para makhluk halus di padang belantara)
Luó shā guǐ zǐ mǔ. (Raksasa dan Hariti)
Gānlù xī chōngmǎn. (Penuh oleh amrta)
Mantra: Om. Mudili. Suoha. (3x)
Dengan jari vajra di atas gelas persembahan, menggambar aksara.
Disiram ke segala penjuru.

Saya kembali ke rumah Amerika Serikat, di dalam rumah tidak ada seorang pun, berdana makanan selama seminggu, akhirnya sekawanan hantu muncul.
Rumah Amerika Serikat saya ada ciri khas:
Pertama, begitu saya kembali, hantu pun datang.
Kedua, begitu saya keluar negeri, hantu pun pergi.
Ketiga, antara saya dan hantu, hidup rukun.
Keempat, saya suka hantu, hantu suka saya.
Kelima, begitu saya bangun tidur, hantu pun satu demi satu menyapa saya.

Sebuah kejadian yang sangat aneh, saya mau melapor pada umat se-Dharma, saya melakukan berdana makanan di rumah Taiwan.
Namun, hantu yang muncul tidak banyak, belakangan, saya baru sadar, vihara Taiwan sangat banyak.
Banyak vihara memberikan persembahan “makanan sisa”, sebagian besar hantu pergi ke vihara untuk menerima persembahan.
Sehingga, tidak muncul di tempat saya.
Sedangkan, vihara Timur di Seattle tidak banyak, sehingga semua hantu berkumpul di gubuk saya.
Inilah “Karena langka, sesuatu menjadi berharga”.
Saya pernah bertanya pada hantu, “Mengapa kalian tidak ikut saya kembali ke Taiwan?”
Hantu menjawab, “Kami adalah hantu teritori, tidak boleh melewati perbatasan, misalnya, kami adalah hantu teritori di Washington, kami tidak boleh meninggalkan Negara bagian Washington, sedangkan hantu teritori di negara bagian lain, juga tidak dapat menyerbu ke negara bagian Washington.”
Saya bertanya, “Siapa yang mengatur kalian?”
Hantu menjawab, “Dewa perbatasan.”
Saya bertanya, “Apakah ada pengecualian?”
Hantu menjawab, “Tentu saja ada, mesti memiliki surat melewati perbatasan, ibarat visa di dunia manusia.”

Buku ini adalah buku saya yang ke-243, saya tulis di Nanshan Yanshe, Amerika Serikat.
Menulis tentang hantu. Tiga kalimat tidak terlepas dari hantu. Sehingga judul buku “Obrolan Aneh yang Tak Masuk Akal”.
Semoga Anda semua dapat menemukan makna dalam yang tersembunyi, maka Anda adalah orang yang paling beruntung!

Rabu, 08 Oktober 2014

Apakah Ada Artinya Menampakkan Wujud?

Suatu hari.
Ada seorang upasaka agung bertanya pada saya, “Apakah ada artinya menampakkan wujud?”
Saya menjawab, “Ada!”
(Ini versi kebenaran duniawi)
Contoh:
Di Korea, saya melihat wujud berdiri dari Tathagata Bhaisajyaguru Vaidūryanirbhāsā, saya bernamaskara di hadapan Buddha besar, mengitari Buddha 3 kali putaran.
Di dalam Samadhi saat perjalanan pulang:
Tathagata Bhaisajyaguru menampakkan wujud.
Bodhisattva Bhaisajya-rāja, Bhaisajya-samudgata menampakkan wujud.
Bodhisattva Candra-prabha, Bodhisattva Surya-prabha menampakkan wujud.
12 Jenderal Dewa Yaksa menampakkan wujud.
Dan kerabat-kerabat lainnya menampakkan wujud.
Dalam hati saya berpikir, “Penyakit saya akan sembuh!”
Kemudian, penyakit saya benar-benar sembuh total.

Contoh lagi:
Di daratan China, dari Beijing terbang ke Taiyuan, di atas pesawat terbang, di dalam Samadhi, bertemu penampakan wujud tubuh emas Buddha Amitabha.
32 Wujud.
Cahaya mani ungu keemasan.
Cahaya kepala berbentuk lingkaran.
Sekujur tubuh memancarkan cahaya punggung.
Di bawah kaki memancarkan cahaya merah.
Ini adalah wujud Dharma dari Buddha Amitabha teragung yang pernah saya lihat seumur hidup saya.
Saya memahami bahwa Buddha Amitabha akan mengikuti saya menjelajahi seluruh daratan China, bahkan melindungi saya agar selamat dan sejahtera.
Penyebab utama adalah: “Di bawah kaki memancarkan cahaya merah”.

Contoh lagi:
Saat SARS sedang merajalela, saya sangat sedih, menjapa Mantra Peredam Bencana.
Tiba-tiba suatu hari.
Di dalam Samadhi.
Saya melihat Mahadewi Yaochi Jinmu (Raja Dewa), Yaochi Jinmu memancarkan terang seratus mustika, Beliau memberikan saya sebuah kantung kecil putih dan berpesan pada saya untuk menyelamatkan SARS.
Saya melihat kantung kecil putih membesar ditiup angin, ibarat sebuah buntelan besar.
Kantung kecil putih berubah menjadi buntelan besar, tak terhingga dan dalam tak terkira.
Buntelan besar di tengah angkasa, seperti ilmu penyedot hati, semua virus SARS disedot ke dalam kantung.
Saya berpikir, “SARS akan berakhir!”
Belakangan:
Memang sangat sakti, sangat ajaib, begitu banyak virus, dalam sehari, semua hilang tanpa bayangan.

Saya menulis beberapa kejadian penampakan wujud, membuktikan bahwa penampakan wujud bukan tidak ada artinya.
Siswa mulia yang terkasih:
Pada umumnya, bentuk Buddhadharma ada kebenaran duniawi dan kebenaran agung.
Di dalam kebenaran duniawi, yang paling penting adalah kita jangan melekat dan bingung, biarkan saja ia datang maupun pergi.
Sementara, dalam kebenaran agung, penampakan wujud yang dihasilkan dari dalam sunyata, jangan melekat, biarkan ia muncul, biarkan ia hilang, hanya saja, kita cerahi dengan “memahami Buddhata”.
Titik berat tetap ada pada memahami hakikat hati sendiri.