Minggu, 23 Juni 2013

Saling Mencintai Selamanya?

Sebuah lelucon:

Alkisah ada sepasang suami istri sedang jogging di taman kota, sesaat sang istri melihat di danau ada dua ekor angsa saling bertautan, sangat mesra.

Begitu sang suami melihat, tidak berkata apa-apa.

Kemudian, pasutri melanjutkan jogging, hingga matahari terbenam di ufuk barat, mereka kembali lagi ke tepi danau.

Sang istri berkata lagi, "Lihat, kedua angsa masih ada! Masih bermesraan, benar-benar menyentuh."

Sang suami melayangkan pandang, merasa ada yang tidak benar.

Sang suami berkata, "Tidak benar! Tidak benar! Kamu perhatikan lebih jelas, angsa betina itu bukan lagi angsa betina yang tadi pagi."

Begitu sang istri melihat, ".............."

Ha! Ha! Ha!

Petunjuk Mahaguru: lelucon ini kelihatan sangat biasa, tidak ada rahasia apa-apa, namun, menurut saya, tetap ada rasa Dharma.

Menurut penglihatan orang awam:
1. Orang awam gampang bosan.
2. Hati orang awam bisa berubah.
3. Orang awam bisa membandingkan.
4. Orang awam melekat.
5. Orang awam suka kecantikan.
......

Jika orang yang mencapai pencerahan, melihat pemandangan ini, tersenyum hambar, biasa saja!

1. Hidup ibarat ilusi.
2. Hidup ibarat sandiwara.
3. Hidup ibarat sunya.
4. Hidup ibarat cahaya kilat dan percikan api.
5. Tiada suka maupun duka.
6. Semua bisa berlalu.
7. Ketidakkekalan.
8. Tidak dapat apa-apa.
9. Matahari terbit di timur, terbenam di barat.
10. Apa itu cinta? Apa itu benci?
11. Parinirvana.

Rasa Dharma ini harus dipahami dengan seksama oleh siswa suci, renungkan dengan seksama, jika Anda tidak ada, di mana cinta itu berada?

Guru Zen Yuanguan di Gunung Liang, Dingzhou.

Bhiksu bertanya, "Bagaimanakah tradisi keluarga yang mulia itu?"

Guru Zen Yuanguan menjawab, "Ikan sulit berenang di air yang deras, burung sulit mengembara di antara pinus tinggi." (Satu kata sulit)

Bhiksu bertanya, "Apa yang harus dilakukan jika ada musuh dalam selimut?"

Guru Zen Yuanguan menjawab, "Setelah kenal maka tidak menganggapnya musuh lagi."

Bhiksu bertanya, "Bagaimana setelah mengenalnya?"

Guru Zen Yuanguan menjawab, "Dibuang ke negeri tiada kelahiran." (Sunya)

Bhiksu bertanya, "Jangan-jangan itu tempatnya untuk berteduh, betul?"

Guru Zen Yuanguan menjawab, "Naga tidak bersembunyi di air mandek."

Petunjuk Mahaguru: kalimat "naga tidak bersembunyi di air mandek" adalah petuah penting, berikut hasil analisa saya, "air mandek" adalah dunia, naga melambangkan "Buddhata".

Mari kita perhatikan: "angsa bertautan" dibuang ke negeri tiada kelahiran! Sama sekali tidak ada yang terjadi.

Minggu, 19 Mei 2013

Bhiksu Lezun dari Gunung Sanwei

Pada tahun 2 era baru sebelum Dinasti Qin (tahun 366).

Ada seorang bhiksu bernama Bhiksu Lezun, karena menetap di vihara kota, merasa banyak orang banyak mulut, ia ingin menemukan tempat yang bersih untuk melatih diri, sehingga, ia datang ke Gunung Sanwei.

Selatan dari Gunung Wei, adalah Gunung Mingsha, pengunungan naik turun. Pasir kuning menyambung langit.

Barat laut adalah gurun pasir besar yang sangat luas.

Namun, ia di lembah sungai Gunung Sanwei, malah menemukan air dari mata air amrta, juga ada pepohonan.

Bhiksu Lezun lebih dulu sembahyang dewa bumi.

Malamnya bermimpi Dewa Gunung setempat memberitahu, "Anda jangan memuja saya."

"Kalau begitu, memuja siapa?"

Dewa Gunung setempat menjawab, "Padmakumara di tanah ini memenuhi gunung dan lembah, Para Buddha Bodhisattva juga menetap di sini, Anda harus memberikan persembahan pada Padmakumara dan Para Buddha Bodhisattva."

Setelah Bhiksu Lezun bangun.

Melihat Gunung Sanwei, terperanjat:

Seketika, Gunung Sanwei memancarkan sinar keemasan yang terang benderang, mentereng dan suci, di dalam cahaya muncul jutaan Padmakumara, kaki berpijak pada teratai pusaka, tangan memegang teratai, tubuh memancarkan banyak warna cahaya.

Menemukan lagi: setiap Tathagata, setiap Bodhisattva, setiap Arahat, gaya mereka seakan-akan hidup.

Ada yang duduk bersila.
Ada yang kedua tangan beranjali.
Ada yang berjalan spiritual terbang di langit.
Ada yang berceramah Dharma mengulas Sutra.
Ada yang merendahkan pandangan dan tersenyum.
Ada yang bermata angkara Vajra.

Bhiksu Lezun ini melihat Padmakumara, melihat lagi dewi-dewi yang terbang di langit.

Sehingga Ia ingin membangun sebuah vihara di sini.

(bersambung............)

Makhluk Suci Menerima Sila Sejati

Selama banyak kehidupan yang lampau, ada 500 makhluk suci, berkumpul di Gunung Lata, Kerajaan Varanasi untuk melatih diri.

Di antaranya ada satu makhluk suci bernama Itula, makhluk suci ini sangat hati-hati dalam bertutur kata maupun bertindak.

Dengan serius menekuni Samadhi (melupakan diri sendiri yang sedang duduk meditasi), melatih pernapasan angin, melatih vitalitas api, melatih kesucian air, melatih kekokohan tanah. Karena ketekunan dari Itula, membuatnya mencapai:

Perjalanan spiritual.
Tubuh bercahaya.
Mengetahui karma banyak kehidupan.
Menjelma.

Makhluk suci bernama Itula ini, berada di dalam kondisi "mahasukha", "terang" dan "sunyata".

Makhluk halus yang lain, tentu saja memiliki hasil yang sangat baik. Ada yang dapat memerintahkan bunga mekar lebih lama; ada yang dapat memohon hujan, meredakan hujan; ada yang dapat mengetahui kejadian besok; ada yang dapat meramal; ada yang dapat menundukkan hewan liar; ada yang dapat kebal dari segala racun; ada yang dapat awet muda; ada yang dapat menahan lapar selama berhari-hari, dan lain sebagainya.....

Namun, para makhluk halus sependapat bahwa pembinaan diri Itula paling baik, hampir mencapai tingkatan Kimsin (setara dengan Buddha).

Akan tetapi, Itula beranggapan bahwa melatih diri hingga mencapai leher botol, tetap kurang sesuatu.

Sehingga, ia meninggalkan Gunung Lata, pergi ke dalam kota, mencari benda yang kurang di dalam hatinya.

Ia bertemu seorang pengemis tua di dalam kota, mengemis padanya.

Ia memberikan satu keping uang kepada pengemis tua.

Pengemis tua berkata, "Semua."

Itula memberikan semua uangnya kepada pengemis tua. (Berdana materi)

Pengemis tua meminta Itula mengikutinya, pengemis di depan, Itula di belakang. Pengemis tua itu berjalan cepat sekali, Itula mengejarnya dengan kaki dewa, namun aneh juga, mengapa tidak terkejar, tetap jaga jarak, tiba di bawah sebuah stupa raksasa, baru berhenti.

Pengemis tua mau mentransmisikan padanya intisari Dharma. Mesti meminjam 3 benda:
1. Berkertaskan kulit Itula.
2. Berpenakan tulang Itula.
3. Bertintakan darah Itula.

Itula juga tidak marah, dengan metode penjelmaan dewa, mendanakan kulit, tulang, dan darah sendiri. (berdana tubuh)

Sementara, kesadaran dan rupa nya bebas leluasa.

Pengemis tua langsung menuliskan:

Senantiasa mengamati perilaku.
Dan tidak membunuh, mencuri, dan berzinah.
Tidak mengadu domba dan berkata kasar.
Tidak berdusta dan membual.
Hati tidak mendambakan hasrat negatif.
Tiada kemarahan dan pikiran beracun.
Meninggalkan banyak pandangan sesat.
Itulah tindakan Bodhisattva.

Itula mendapatkan gatha ini, baru tahu dirinya harus mencapai keberhasilan dalam melatih diri, seharusnya menjaga sila-sila ini. Dengan adanya sila, baru dapat menyeberangkan insan, baru melahirkan Bodhicitta. Sila dan Bodhicitta barulah yang dirinya hendaki, Itula membabarkan sila ini ke seluruh dunia, ditambah sila mabuk-mabukan, baru menjadi 5 Sila Buddhisme.

Menaati kelima sila ini barulah landasan melatih diri! Ternyata makhluk suci bernama Itula ini, merupakan awal dari pembabaran 5 Sila. Semua materi sila, semua dikembangkan dari pembabaran 5 Sila.

Siapa Itula?

Siapa pengemis tua?

Jika tidak menaati sila, menjadi makhluk suci juga merupakan kecerobohan!

Tiga Batang Jerami

Dulu.

Buddha Sakyamuni membawa banyak murid utama jalan-jalan, melewati sebuah kaki gunung besar.

Sang Buddha melihat dengan kebijaksanaan, sekali dilihat, nadi gunung naik turun, ketiga sisi dikelilingi oleh air, kanan dan kiri masing-masing ada sebuah gunung menghalangi, rumput di tanah, harum dan hijau.

Sang Buddha berkata, "Tempat ini boleh dibangun 3 buah stupa sarira!"

Baru selesai bicara.

Di tengah angkasa turun seorang dewa, ternyata adalah Indra, di tangan-Nya memegang 3 batang jerami, lalu ditancapkan di tanah pusaka fengshui yang ditunjuk oleh Sang Buddha, sehabis tancap, terbang lagi ke langit.

Indra berkata pada Sang Buddha, "Tiga buah stupa sarira telah terciptakan."

Sang Buddha menjawab, "Terima kasih banyak, Dewa Indra!"

Seketika, para murid pun keheranan, 3 batang jerami, mengapa bisa menjadi 3 buah stupa sarira.

Seketika Sariputra tersenyum, berkata, "Bagaimana kalau malam ini kita bermalam ini stupa sarira?"

Sang Buddha menjawab, "Baik."

Saat itu, Sang Buddha menuntun para murid memasuki stupa sarira, tak disangka stupa sarira ini, sangat megah, halamannya sangat luas, istananya sangat indah, gedungnya indah, di dalamnya banyak ukiran indah, luar biasa menarik, dihiasi dengan giok yang indah, batu pusaka dan mustika, emas dan perak, para murid utama, terbengong-bengong.

Setelah melewati satu malam.

Sang Buddha dan para murid utama, pergi meninggalkan stupa, berjalan beberapa langkah, semua orang menolehkan kepala, mana ada 3 buah stupa sarira?

Tetap 3 batang jerami.

Semuanya tidak mengerti. Bertanya pada Sang Buddha, "Apa yang terjadi?"

Sang Buddha menjawab, "Tanyakan saja pada Sariputra!"

Saya menjawab, "Manusia maya menetap di istana maya."

Dulu, Mahaguru Lu sempat menemukan Gunung Hu, Caotun, Nantou, merasa Diling Renjie, tanah ini sangat bagus.

Sehingga menanam "bata".

Saya berkata, "Di sini akan menjadi sebuah Lei Tsang Temple yang sangat besar."

Saya pun menggenggam garam dan beras, tebar ke keempat sisi."

Berkata, "Di keempat sisi dan delapan arah adalah Lei Tsang Temple!"

Sekarang, Lei Tsang Temple besar telah berdiri di Gunung Hu, Caotun, mengalami gempa dahsyat juga tidak dapat rusak, karena dilindungi oleh Caturmaharajika (empat raja langit). Sedangkan empat sisi dan empat arah, berbagai negara dari seluruh dunia, juga beramai-ramai membangun Lei Tsang Temple yang tak terhingga.

"Mengapa?"

Saya menjawab, "Manusia maya menetap di istana maya."

Sajak:

Jangan kira apa yang digenggam Dewa Indra adalah jerami
Jika Anda mengerti
Ketiga batang tersebut
Tidak lebih sedikit dibandingkan vihara duniawi
Saya minta semua umat Zhenfo jangan risau
Jangan sekali-kali menghabiskan semangat
Hanya dengan bertemu Buddha
Maka terbebaskan dari duniawi maupun non duniawi

Atisa Seorang Bhiksu?

Di dalam Inkarnasi Agung Sang Dharmaraja yang saya tulis, sempat mengungkit tentang Y.A. Atisa, membawa serta mitranya "Jinqiaowati" dan ratusan orang lainnya, dari India ke Simhalauipa, kemudian naik kapal ke selatan ke Jambi, Indonesia, dari Serlingpa, Beliau belajar "7 Bodhicitta", dan banyak Sadhana Tantra.

Ada Bhiksu bertanya, "Apakah Jinqiaowati adalah dakini Atisa? Lalu, apakah Atisa adalah bhiksu?"

Saya menjawab, "Atisa adalah bhiksu, lalu, Jinqiaowati memang adalah dakini Atisa."

Bhiksu bertanya, "Bukankah ini kontradiksi?"

Saya menjawab, "Tidak, ini adalah Carya Tantra."

Saya berkata: suatu kali, Atisa melihat Buddha Sakyamuni dan Mahabhiksu yang tak terhingga menerima persembahan, dirinya juga berada di dalamnya, Buddha Sakyamuni bertanya pada Mahabhiksu, "Apa yang masih didambakan Atisa? Mengapa tidak menjadi bhiksu?" Atisa panik.

Lalu: seorang Yogini Jati memberitahu Atisa, "Apa yang sekarang Anda tekuni, tidak dapat mencapai pencerahan, sebaliknya menjadi rintangan. Setelah Anda menjadi bhiksu, baru dapat memberikan kebaikan untuk ajaran suci Sang Buddha."

Lalu: suatu kali, Bodhisattva Maitreya di dalam upacara, terdapat banyak Dharmasana, semua penuh diduduki oleh Mahabhiksu, hanya tinggal satu Dharmasana, Atisa ingin naik Dharmasana agung, Bodhisattva Maitreya menghalanginya, "Ini adalah Dharmasana bhiksu, Anda upasaka tidak boleh naik Dharmasana." Atisa seketika malu sekali.

Sehingga, Atisa baru memutuskan menjadi bhiksu.

Atisa pergi ke Vihara Nalanda bertanya, "Saya harus menjadi bhiksu di bagian mana?"

Lawan bicara balik bertanya, "Apakah Anda meninggalkan Carya Tantra?"

Atisa menjawab, "Tidak."

"Jika tidak dapat meninggalkan Carya Tantra, mesti di dalam bagian Mahāsāṃghika, menjadi bhiksu di aliran Kadampa."

Oleh karena itu, Atisa menjadi bhiksu di tempat Śīlarakṣita, nama Dharma "Dīpaṃkara Śrījñāna".

Karena, Atisa belum meninggalkan "Carya Tantra", oleh karena itu, hanya dapat menjadi Bhiksu di Mahāsāṃghika, itu sebabnya, memiliki "Jinqiaowati" adalah hal yang wajar.

Bhiksu bertanya, "Atisa, konon sikapnya sangat sombong? Ia adalah seorang yang sangat angkuh?"

Saya menjawab, "Benar dan tidak benar."

Saya berkata, "Sejak Atisa kembali dari barat Bengal, merenung sendiri, "adhistana", "transmisi", "kemampuan", "pengetahuan" dari segala Tantra, tidak ada orang yang dapat mengalahkan saya. Saya adalah orang nomor satu di kolong langit!

Dakini muncul, mengeluarkan kitab Tantra yang belum pernah dilihat dan belum pernah didengar. Atisa kaget, malu.

Dakini bertanya, "Apakah Anda adalah Yang Arya Carya Tantra?"

Atisa menjawab, "Ya."

Dakini bertanya, "Tahukah Anda Pelatihan Tetesan Unggul?"

"Belum pernah dengar."

Dakini berkata, "Yang Anda pelajari, hanya sehelai bulu dari Dharma Tantra, kesombongan Anda terlalu besar."

Sejak itu, Atisa, tidak berani sombong lagi!

Kamis, 28 Februari 2013

Pemfitnah Yang Bersarana

Dalam artikel singkat ini, menampilkan dua pucuk surat !

Yang saya hormati Acarya Lu :

Terlebih dahulu siswa memperkenalkan diri kepada Acarya, nama saya Yang can-hong, laki-laki, lahir pada tahun 37 bulan 8 lunar, berpembawaan tenang dan mandiri.

Telah bersarana pada aliran eksoterik pada bulan 10 tahun 73 Min-guo, kemudian pada bulan 1 tahun 74 berguru pada Upasaka Geng-yun untuk belajar Zen. Saat mendalami eksoterik, telah membaca ratusan buku Agama Buddha dari yang dangkal sampai mendalam, seperti samjna, upadana, samsrita, samdarsana, adhigama dan pramana, namun semua sebatas menggunakan nama rupa (istilah-istilah) dalam Buddhisme sehingga terasa membingungkan dan bertele-tele, sampai saat ini masih terasa hampa.

Apa itu bhavana ? Bagaimanakah cara melakukan bhavana ? ini semua belakangan telah terjawab melalui petunjuk Dharma dari guru saat itu, sehingga diri sendiri memiliki arah , juga memadukannya dengan pandangan benar madhyamika. Namun sungguh disesalkan meskipun telah menekuni bhavana selama setengah tahun , merasa batin dan prana belum dapat selaras, sukar untuk mengendalikan batin dan sukar memperoleh samadhi, saya menjadi semakin kurus, dan merasa sangat takut melenceng dalam meditasi memasuki kondisi seperti kayu kering.

Meskipun Zen dan Tantra sama - sama unggul, semuanya merupakan Satya-dharma tertinggi, namun menurut saya hanya menekuni Zen akan kekurangan adhistana Buddha, hanya bertekun dalam usaha pencerahan, samadhi dan ketenangan. Tidak melekati atribut, tidak mengulas mengenai prana dan nadi. Memegang penekunan metode asamskrta citta-pariksa. Ini semua tidak akan mampu direalisasi oleh insan yang berakar rendah, sedangkan Dharma Agung yang diajarkan Acarya sungguh menakjubkan, diajarkan sesuai dengan akar pembawaan masing-masing, menuntun yang berakar rendah, sedang dan tinggi, supaya mereka semua dapat mencapai realisasi, ini sungguh luar biasa, sungguh langka.

Membaca buku karya Acarya, sungguh penuh semangat, batin ini bermandikan di samudera Prajna tanpa batas, ternyata Buddha-jnana sungguh mendalam dan tak terhingga. Justru menyadari bahwa di dalam Tantra terdapat Zen ! Anuttara-tantra, Maha-mudra, Maha-paripurna. Metode Dhyana Penembusan dari Acarya, semua merupakan Sarva-buddha-hrdya-mudra-abhipraya, sebuah metode agung untuk memahami batin dan merealisasi Buddhatta. Siswa menyadari kurang sumber daya dan berkarma berat, oleh karena itu memohon adhistana dari Acarya, memohon transmisi metode agung, membimbing siswa dalam bhavana sampai terealisasinya Kebuddhaan.

Teringat 15 tahun lalu, di rumah teman secara kebetulan membaca sebuah buku pembinaan roh, saya hanya membaca 2 sampai 3 bab kemudian meletakkannya. Kemudian mengatai : "Pengarangnya gemar berkisah mengenai dewa dan hantu, membesar besarkannya pada khalayak, pasti termasuk golongan penipu." coba Anda lihat, demikianlah jika belum berjodoh. Dimasa muda saya lebih emosional, saya merasa bahwa orang waras tidak akan membahas mengenai dewa-dewa, dan seorang Buddhist tidak akan membahas masalah iddhi. Demikianlah saya melawan apa yang Anda tuturkan.

Awal tahun ini, saya kembali mendengar orang mengatakan bahwa Acarya Lu mampu menangkap setan dan siluman, saya tidak percaya, saya kembali mengatai : "Orang ini pasti kelahiran kembali dari Asura, di dunia ini terlampau banyak pemimpin penjelmaan mara." Dikarenakan saya suka menganggap diri sendiri memiliki hati paling suci, maka saya kategorikan semua yang mengganggu pikiran saya adalah mara, dan saya tidak akan banyak membahasnya.

Pada suatu hari, saya katak dalam tempurung ini melihat-lihat di toko buku. Ya Tuhan ! Ternyata Lu Sheng-yan telah menerbitkan demikian banyak buku, dia ini Buddha ? atau mara ? namun ini semua pasti ada nidananya. Saya memilih buku "Kompilasi Karya Lu Sheng-yan." untuk dibaca dengan lebih seksama. Dikarenakan harganya murah, satu buku hanya 20 dolar. Setelah saya membacanya dengan seksama di rumah , timbul rasa penyesalan di hati , dan saya menyadari kesalahan saya selama ini.

Tanpa memahami orang dan permasalahannya dengan seksama, namun saya langsung melontarkan fitnahan, mengkritik orang lain, apa lagi ini merupakan fitnahan terhadap seorang tercerahkan yang benar-benar menekuni bhavana dan menyebarluaskan Satya Dharma, sungguh sebuah pelanggaran berat bagaikan memfitnah Sang Buddha sendiri. Saat itu juga saya bersujud di hadapan Buddha untuk bertobat, memohon supaya Buddha dan Para Dewata mengampuni. Saat ini saya memohon pertobatan dihadapan Acarya, dan berharap supaya insan yang diliputi kegelapan batin segera melakukan instrospeksi diri dan bersarana pada Tri-ratna.

Setelah itu semua, saya memesan 5 Majalah Lian-bang , 5 Majalah Ling-xian Zhen-fo, untuk lebih mendalami isinya, untuk memastikan apakah itu semua merupakan bhavana berdasarkan Buddha Dharma ! Saya merasa isinya sangat baik, semua menuntun insan untuk memahami pandangan benar, merupakan Majalah Buddhist yang menyebarluaskan Satya Dharma. Dengan demikian , buku karya Acarya Lu sungguh patut dibaca, dan Dharma yang disampaikan-Nya patut untuk ditekuni. Kemudian saya memesan lagi 7 majalah terbitan terakhir untuk dipelajari lebih lanjut, bagaikan memasuki Gunung Manikam, memasuki Buddha-jnana, sungguh memperoleh pandangan benar , sungguh membuat orang memuji , dan timbul rasa hormat, bertekad menekuni Dharma Agung.

Guru Yang Tercerahkan telah muncul dihadapan,
Guru mulia yang sukar dijumpai ribuan tahun sekalipun,
Siswa menyadari afinitas telah terpenuhi,
Bagaimana mungkin menyia-nyiakannya.

Melampirkan foto yang terbaru ( siswa yang mengenakan jubah Hai-qing ) , serta menghaturkan sedikit pujana , memohon Acarya menganugerahkan adhistana dan abhiseka, mentransmisikan Maha-sadhana, demikianlah permohonan siswa.

Sarva-mangala-paripurna

Namaskara siswa yang baru memasuki Ling-xian Zhen-fo zong,
Yang Can-hong
30 Mei 1985


- Surat Kedua -

Yang saya hormati Bodhisattva Acarya Lian-sheng :

Tujuan satu-satunya dari Buddha Dharma adalah menuntun insan terbebas dari kesesatan, supaya tercerahkan, dan seorang umat Buddha hendaknya menelaah segala ajaran yang diperoleh, perlu untuk menggunakan Mata Dharma.

Sejak muda saya telah menyadari kehidupan manusia tidaklah kekal, pada awalnya saya menekuni Buddhisme Theravada, pada tahun 1966 saya belajar meditasi pada Bhiksu Shan-tuo-tou di Thailand, kemudian saya mengikuti jejaknya untuk menerima upasampada, saya menyadari tujuan menjalani kebhikkuan adalah : "Buddha Dharma merupakan Darsana-bhumi yang melampaui segalanya."

Di tahun Min-guo 64, saya mengunjungi berbagai negara, saat berada di Taiwan, menetap disebuah vihara, ada banyak bhiksu yang mencaci Anda, semua mengatakan Anda adalah mara, saat itu saya juga ikut-ikutan mencaci, padahal saat itu saya sama sekali belum pernah membaca buku Acarya, hanya mengikuti ucapan orang lain belaka, sembarang menerima gosip, timbul rasa diskriminasi, tidak senang pada iddhi yang Anda tampilkan, timbul sedikit rasa dengki di hati ini, oleh karena itulah saya ikut-ikutan mencaci Anda.

Kemudian saya berkelana di berbagai penjuru, di Prancis saya sempat mendirikan sebuah vihara, di India dan Nepal sendiri saya juga sempat belajar Tantra, saya melakukan pembinaan diri dengan sungguh-sungguh, sampai saya menyadari "Seorang Arya tidak sepatutnya mabuk akan sanjungan." juga " Tidak seharusnya risau dengan segala macam fitnahan."

Tahun 1985 saya berada di Melbourne Australia, melihat buku terbitan karya Anda, saya membelinya beberapa, membacanya dengan seksama, dan saya memperoleh banyak kebijaksanaan, saya menyadari bahwa semua yang saya peroleh dari berkelana di berbagai penjuru sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan isi beberapa buku Anda, saat itu juga saya merasa sangat takjub.

Pemikiran Acarya akan "Sarva-dharma Anattman." dan realisasi pandangan Tiada melekat serta melihat segalanya dengan sebagaimana mestinya, semua ini sungguh sukar diperoleh, apalagi "Tiada lahir dan tiada mati." pandangan nan Maha-paripurna, serta prinsip "Setara tiada dualimse." menuntun semua bahkan termasuk yang membunuh dan memfitnah Guru, ini sungguh kondisi spiritual yang tidak mampu direalisasi oleh Acarya biasa.

Saya sungguh menyesali ketidak tahuan saya yang lampau, dikarenakan kegelapan batin saya telah memfitnah Suciwan, saat ini juga melalui surat singkat ini saya memohon pertobatan dihadapan Hyang Arya.

Saya mengharap semoga Acarya berkenan menggoreskan pena, untuk menyalurkan Buddha Dharma yang paling sempurna, demi kedamaian dunia, memberi manfaat pada masyarakat, dan menuntun para insan merealisasi Anuttara-nirvana.

Segala yang telah saya lakukan dimasa lampau, saat ini saya bertobat, memohon Acarya memberikan adhistana, menerima saya sebagai salah satu siswa Zhenfo zong ! Sarana saya ini , menyingkirkan atribut ego , demi merealisasi Nirvana.

XX Bhiksu menghaturkan namaskara.
24 Juni 1985

Setelah membaca dua pucuk surat yang berisi pertobatan dan permohonan sarana ini, apa kesan saya ? Apa ?
Sesungguhnya saya juga tidak merasa sangat gembira, sebab yang memang seharusnya datang , pasti akan datang, dan yang seharusnya pergi, pasti akan pergi, batin saya senantiasa sejuk, dan hanya bertujuan menuliskan Dharma Nan Luhur, surat permohonan pertobatan semacam ini banyaknya bagaikan hamparan salju, sepucuk demi sepucuk terbang kemari bagaikan hujan Dharma yang tercurah.

Kutuliskan sebuah gatha !

Buku-Ku sungguh berbeda,
Mengandung Mata Dharma memandang Para Dewa dan Naga.
Saat tiba saat berjumpa pasti tercerahkan,
Mengikuti Acarya menjunjung Dharma.
Sejak lampau sampai saat ini mengemban aktivitas Tathagata,
Khusus membabarkan Dharma Tantra menuntun para insan ;
Ajaran Agung Satyagama, tiada kemelekatan ego dan orang lain,
Tercurah dengan leluasa di Sepuluh Penjuru Angkasa.

Selasa, 05 Februari 2013

Perselisihan Ada Di Mana-Mana

Dulu, guru saya Taois Qingzhen berkata pada saya, "Di mana ada manusia, di situ ada perselisihan, walaupun Anda kabur ke tempat yang paling terpencil di bumi, di pegunungan, di lautan, tetap akan ada perselisihan, lantas, bagaimana Anda nantinya?"

Saya menjawab, "Anggap enteng, memandang dengan tawar, berpandangan terbuka."

Guru berkata, "Inilah memahami, meletakkan, dan bebas leluasa dari samadhi."

Hari ini, saya berkata pada murid-murid saya, "Jangan mengira memeluk Agama Buddha, maka bebas dari perselisihan, jangan kira bersarana pada Zhenfo Zong, maka bebas dari perselisihan. Perselisihan ada di dalam organisasi mana pun, baik desa kecil maupun kota kecil mana pun, bahkan Seattle yang terpencil di bumi sekalipun."

Maksud saya adalah, perselisihan ada di mana-mana, tidak seorang pun dapat menghindari gangguan dari perselisihan, Anda dari satu kantor, loncat ke kantor lain, Anda bisa menghindari untuk sementara, tidak dapat menghindari untuk selamanya. (bagian/departemen di pekerjaan lain bahkan lebih banyak)

Buddha Sakyamuni mengajari kita, jangan berdusta, jangan mengadu domba, jangan bermulut jahat, jangan bicara cabul, setiap orang saling menghormati dan menyayangi, maka tidak ada kondisi saling membicarakan benar dan salah lagi, inilah cara mempertahankan kesucian ucapan. Sikap yang layak dimiliki seorang sadhaka.

Namun, sifat buruk umat manusia adalah, "Di antara 10 mulut, 9 adalah bokong." Dengan kata lain, di antara 10 mulut, ada 9 yang bau, menghasut adalah sifat pembawaan yang paling disukai umat manusia, bahkan membesar-besarkan dan menyebarluaskan, serta ditambahi bumbu-bumbu.

Di sini, saya menasihati para murid Zhenfo Zong, jangan hiraukan perselisihan. Kurangi bicara, perbanyak japa Buddha. Kurangi mengobrol, perbanyak bersadhana. Dengan demikian, jiwa dan raga juga lebih leluasa, indera pendengaran juga lebih bersih, maka perselihan pun akan berkurang di sekitar Anda.

Dunia manusia memang penuh dengan perselisihan, namun tergantung apakah Anda dapat mengatasi atau tidak? Meletakkan atau tidak?