Selasa, 21 Oktober 2014

Obrolan Aneh yang Tak Masuk Akal (Prakata)

Pada bulan Mei 2014, saya kembali dari Taiwan ke rumah saya Nanshan Yashe di Seattle, Amerika Serikat.
Kembali ke Nanshan Yashe yang di Amerika Serikat, ada semacam perasaan yang sangat bersih, karena:
1. Udara sangat segar.
2. Dikelilingi pohon pinus.
3. Lahan luas, rumah besar, penduduk jarang. Hanya ditempati 2 orang saja.
4. Batin kosong.
Begitu saya kembali, saya pun sibuk berdana makanan, saya menjapa:
Dàpéng jīn chì niǎo. (Garuda)
Kuàngyě guǐshén zhòng. (Para makhluk halus di padang belantara)
Luó shā guǐ zǐ mǔ. (Raksasa dan Hariti)
Gānlù xī chōngmǎn. (Penuh oleh amrta)
Mantra: Om. Mudili. Suoha. (3x)
Dengan jari vajra di atas gelas persembahan, menggambar aksara.
Disiram ke segala penjuru.

Saya kembali ke rumah Amerika Serikat, di dalam rumah tidak ada seorang pun, berdana makanan selama seminggu, akhirnya sekawanan hantu muncul.
Rumah Amerika Serikat saya ada ciri khas:
Pertama, begitu saya kembali, hantu pun datang.
Kedua, begitu saya keluar negeri, hantu pun pergi.
Ketiga, antara saya dan hantu, hidup rukun.
Keempat, saya suka hantu, hantu suka saya.
Kelima, begitu saya bangun tidur, hantu pun satu demi satu menyapa saya.

Sebuah kejadian yang sangat aneh, saya mau melapor pada umat se-Dharma, saya melakukan berdana makanan di rumah Taiwan.
Namun, hantu yang muncul tidak banyak, belakangan, saya baru sadar, vihara Taiwan sangat banyak.
Banyak vihara memberikan persembahan “makanan sisa”, sebagian besar hantu pergi ke vihara untuk menerima persembahan.
Sehingga, tidak muncul di tempat saya.
Sedangkan, vihara Timur di Seattle tidak banyak, sehingga semua hantu berkumpul di gubuk saya.
Inilah “Karena langka, sesuatu menjadi berharga”.
Saya pernah bertanya pada hantu, “Mengapa kalian tidak ikut saya kembali ke Taiwan?”
Hantu menjawab, “Kami adalah hantu teritori, tidak boleh melewati perbatasan, misalnya, kami adalah hantu teritori di Washington, kami tidak boleh meninggalkan Negara bagian Washington, sedangkan hantu teritori di negara bagian lain, juga tidak dapat menyerbu ke negara bagian Washington.”
Saya bertanya, “Siapa yang mengatur kalian?”
Hantu menjawab, “Dewa perbatasan.”
Saya bertanya, “Apakah ada pengecualian?”
Hantu menjawab, “Tentu saja ada, mesti memiliki surat melewati perbatasan, ibarat visa di dunia manusia.”

Buku ini adalah buku saya yang ke-243, saya tulis di Nanshan Yanshe, Amerika Serikat.
Menulis tentang hantu. Tiga kalimat tidak terlepas dari hantu. Sehingga judul buku “Obrolan Aneh yang Tak Masuk Akal”.
Semoga Anda semua dapat menemukan makna dalam yang tersembunyi, maka Anda adalah orang yang paling beruntung!

Rabu, 08 Oktober 2014

Apakah Ada Artinya Menampakkan Wujud?

Suatu hari.
Ada seorang upasaka agung bertanya pada saya, “Apakah ada artinya menampakkan wujud?”
Saya menjawab, “Ada!”
(Ini versi kebenaran duniawi)
Contoh:
Di Korea, saya melihat wujud berdiri dari Tathagata Bhaisajyaguru Vaidūryanirbhāsā, saya bernamaskara di hadapan Buddha besar, mengitari Buddha 3 kali putaran.
Di dalam Samadhi saat perjalanan pulang:
Tathagata Bhaisajyaguru menampakkan wujud.
Bodhisattva Bhaisajya-rāja, Bhaisajya-samudgata menampakkan wujud.
Bodhisattva Candra-prabha, Bodhisattva Surya-prabha menampakkan wujud.
12 Jenderal Dewa Yaksa menampakkan wujud.
Dan kerabat-kerabat lainnya menampakkan wujud.
Dalam hati saya berpikir, “Penyakit saya akan sembuh!”
Kemudian, penyakit saya benar-benar sembuh total.

Contoh lagi:
Di daratan China, dari Beijing terbang ke Taiyuan, di atas pesawat terbang, di dalam Samadhi, bertemu penampakan wujud tubuh emas Buddha Amitabha.
32 Wujud.
Cahaya mani ungu keemasan.
Cahaya kepala berbentuk lingkaran.
Sekujur tubuh memancarkan cahaya punggung.
Di bawah kaki memancarkan cahaya merah.
Ini adalah wujud Dharma dari Buddha Amitabha teragung yang pernah saya lihat seumur hidup saya.
Saya memahami bahwa Buddha Amitabha akan mengikuti saya menjelajahi seluruh daratan China, bahkan melindungi saya agar selamat dan sejahtera.
Penyebab utama adalah: “Di bawah kaki memancarkan cahaya merah”.

Contoh lagi:
Saat SARS sedang merajalela, saya sangat sedih, menjapa Mantra Peredam Bencana.
Tiba-tiba suatu hari.
Di dalam Samadhi.
Saya melihat Mahadewi Yaochi Jinmu (Raja Dewa), Yaochi Jinmu memancarkan terang seratus mustika, Beliau memberikan saya sebuah kantung kecil putih dan berpesan pada saya untuk menyelamatkan SARS.
Saya melihat kantung kecil putih membesar ditiup angin, ibarat sebuah buntelan besar.
Kantung kecil putih berubah menjadi buntelan besar, tak terhingga dan dalam tak terkira.
Buntelan besar di tengah angkasa, seperti ilmu penyedot hati, semua virus SARS disedot ke dalam kantung.
Saya berpikir, “SARS akan berakhir!”
Belakangan:
Memang sangat sakti, sangat ajaib, begitu banyak virus, dalam sehari, semua hilang tanpa bayangan.

Saya menulis beberapa kejadian penampakan wujud, membuktikan bahwa penampakan wujud bukan tidak ada artinya.
Siswa mulia yang terkasih:
Pada umumnya, bentuk Buddhadharma ada kebenaran duniawi dan kebenaran agung.
Di dalam kebenaran duniawi, yang paling penting adalah kita jangan melekat dan bingung, biarkan saja ia datang maupun pergi.
Sementara, dalam kebenaran agung, penampakan wujud yang dihasilkan dari dalam sunyata, jangan melekat, biarkan ia muncul, biarkan ia hilang, hanya saja, kita cerahi dengan “memahami Buddhata”.
Titik berat tetap ada pada memahami hakikat hati sendiri.

Teratai Api yang Tengah Terbakar

Hari itu tanggal 22 Februari 2014, Sabtu, pukul 3 sore, di Taiwan Lei Tsang Temple, diadakan puja api Amoghapasa Lokeshvara, pada saat tataritual tengah berlangsung.
Di depan Dharmasana saya, bersujud segumpal bayangan berwarna kelabu, saya bertanya dengan suara pelan, “Siapa Anda?”
Ia menjawab, “Kao Ling-feng (Frankie Kao).”
Saya terperanjat, Kao Ling-feng bukankah baru belum lama meninggal dunia? Ia adalah artis penyanyi Taiwan.
Saya bertanya, “Bagaimana Anda datang?”
Ia menjawab, “Saya dibawa oleh Yaochi Jinmu dari Cihui Tang.”
Saya menerawang ke angkasa.
Yaochi Jinmu mengangguk dan tersenyum pada saya.
Saya bertanya pada Kao Ling-feng, “Ada masalah apa cari saya?”
Ia menjawab, “Yaochi Jinmu berkata, hari ini kebetulan, Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu, mengadakan upacara puja api di Taiwan Lei Tsang Temple, saya bawa Anda ke sana, mohonlah pada Mahaguru Lu supaya menuntun Anda terlahir di Buddhaloka yang suci.”
Saya mengangguk, memahami segalanya.
*
Saya mengundang Dewa Agni menuntun Kao Ling-feng masuk ke dalam api yang menyala-nyala, seketika, Kao Ling-feng dibakar oleh api sejati Samadhi hingga angin karma yang berwarna hitam membuyar di keempat penjuru.
Rohnya berubah menjadi cahaya terang yang bersih.
Sekuntum teratai perlahan-lahan terbit di atas api.
Saat ini: Amoghapasa Lokeshvara muncul di hadapan dalam wujud berwajah 3, berlengan 4 dan menuntun secara setara.
Artis Kao Ling-feng dan para roh dituntun ke Sukhavatiloka Barat.
Dalam sehari ini:
Saya telah menyaksikan sendiri Yaochi Jinmu (Muniang), menyaksikan sendiri Dewa Agni, menyaksikan sendiri Amoghapasa Lokeshvara.
Saya sangat senang, Kao Ling-feng dapat:
“Bebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan.”
Sepengetahuan saya:
Kao Ling-feng dalam kehidupan ini, telah menciptakan tidak sedikit “dosa asmara”, ia juga telah menciptakan tidak sedikit “karma berjudi”. Rintangan karmanya tidak ringan, untung ia sangat yakin pada Yaochi Jinmu, jika ia juga tidak percaya apapun, kehidupan berikutnya, bertumimbal lahir menjadi wanita, tetap harus membersihkan semua utang asmara.
Untung Yaochi Jinmu membawanya datang bertemu saya.
Dibakar oleh api Samadhi.
Membersihkan rintangan karma.
Menjadi sekuntum teratai merah menyala yang bersih. Terlahir di alam suci Buddhaloka yang bersih dan bahagia.
*
Sejujurnya:
Seumur hidup saya belum pernah bertemu Kao Ling-feng, ia juga bukan murid saya, namun, ia yakin sepenuhnya pada Yaochi Jinmu dari Cihui Tang, sedangkan, Yaochi Jinmu adalah yidam kontak yoga saya.
Karena sebab dan kondisi inilah.
Ia dituntun secara setara, ini adalah kisah yang sangat unik!
*
Siswa mulia yang terkasih:
Saat memperoleh keberhasilan tahap pembangkitan, sudah hampir dapat bertemu dengan yidam berhadap-hadapan.
Namun, ini bukan kesempurnaan, sadhaka harus melatih tahap kesempurnaan, terutama untuk mengesahkan hati yang sebenarnya, menyaksikan Buddhata sendiri hingga mencapai keberhasilan.
Semua ini butuh keyakinan, tanpa keyakinan, segalanya tidak akan berhasil!
Kao Ling-feng yakin pada Yaochi Jinmu.
Ini adalah kunci ia terlahir di alam suci!

Teratai Api yang Tengah Terbakar

Hari itu tanggal 22 Februari 2014, Sabtu, pukul 3 sore, di Taiwan Lei Tsang Temple, diadakan puja api Amoghapasa Lokeshvara, pada saat tataritual tengah berlangsung.
Di depan Dharmasana saya, bersujud segumpal bayangan berwarna kelabu, saya bertanya dengan suara pelan, “Siapa Anda?”
Ia menjawab, “Kao Ling-feng (Frankie Kao).”
Saya terperanjat, Kao Ling-feng bukankah baru belum lama meninggal dunia? Ia adalah artis penyanyi Taiwan.
Saya bertanya, “Bagaimana Anda datang?”
Ia menjawab, “Saya dibawa oleh Yaochi Jinmu dari Cihui Tang.”
Saya menerawang ke angkasa.
Yaochi Jinmu mengangguk dan tersenyum pada saya.
Saya bertanya pada Kao Ling-feng, “Ada masalah apa cari saya?”
Ia menjawab, “Yaochi Jinmu berkata, hari ini kebetulan, Dharmaraja Liansheng Sheng-yen Lu, mengadakan upacara puja api di Taiwan Lei Tsang Temple, saya bawa Anda ke sana, mohonlah pada Mahaguru Lu supaya menuntun Anda terlahir di Buddhaloka yang suci.”
Saya mengangguk, memahami segalanya.
*
Saya mengundang Dewa Agni menuntun Kao Ling-feng masuk ke dalam api yang menyala-nyala, seketika, Kao Ling-feng dibakar oleh api sejati Samadhi hingga angin karma yang berwarna hitam membuyar di keempat penjuru.
Rohnya berubah menjadi cahaya terang yang bersih.
Sekuntum teratai perlahan-lahan terbit di atas api.
Saat ini: Amoghapasa Lokeshvara muncul di hadapan dalam wujud berwajah 3, berlengan 4 dan menuntun secara setara.
Artis Kao Ling-feng dan para roh dituntun ke Sukhavatiloka Barat.
Dalam sehari ini:
Saya telah menyaksikan sendiri Yaochi Jinmu (Muniang), menyaksikan sendiri Dewa Agni, menyaksikan sendiri Amoghapasa Lokeshvara.
Saya sangat senang, Kao Ling-feng dapat:
“Bebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan.”
Sepengetahuan saya:
Kao Ling-feng dalam kehidupan ini, telah menciptakan tidak sedikit “dosa asmara”, ia juga telah menciptakan tidak sedikit “karma berjudi”. Rintangan karmanya tidak ringan, untung ia sangat yakin pada Yaochi Jinmu, jika ia juga tidak percaya apapun, kehidupan berikutnya, bertumimbal lahir menjadi wanita, tetap harus membersihkan semua utang asmara.
Untung Yaochi Jinmu membawanya datang bertemu saya.
Dibakar oleh api Samadhi.
Membersihkan rintangan karma.
Menjadi sekuntum teratai merah menyala yang bersih. Terlahir di alam suci Buddhaloka yang bersih dan bahagia.
*
Sejujurnya:
Seumur hidup saya belum pernah bertemu Kao Ling-feng, ia juga bukan murid saya, namun, ia yakin sepenuhnya pada Yaochi Jinmu dari Cihui Tang, sedangkan, Yaochi Jinmu adalah yidam kontak yoga saya.
Karena sebab dan kondisi inilah.
Ia dituntun secara setara, ini adalah kisah yang sangat unik!
*
Siswa mulia yang terkasih:
Saat memperoleh keberhasilan tahap pembangkitan, sudah hampir dapat bertemu dengan yidam berhadap-hadapan.
Namun, ini bukan kesempurnaan, sadhaka harus melatih tahap kesempurnaan, terutama untuk mengesahkan hati yang sebenarnya, menyaksikan Buddhata sendiri hingga mencapai keberhasilan.
Semua ini butuh keyakinan, tanpa keyakinan, segalanya tidak akan berhasil!
Kao Ling-feng yakin pada Yaochi Jinmu.
Ini adalah kunci ia terlahir di alam suci!
Printer Friendly Page

Rumus Merasakan Sensasi Terang

Acarya pada umumnya mengajari bahwa “terang” yang muncul, ada semacam yang merupakan kilatan cahaya yang sangat sementara dalam kehidupan, “terang” semacam ini sangat sulit diketahui, juga sangat sulit dipastikan, namun bisa dirasakan.
Pikiran sebelumnya telah tenggelam, pikiran berikutnya belum timbul – pada saat ini, kadang-kadang menampakkan wujud transparan.
Saat bayi – karena belum diganggu oleh khayalan, sering melihat terang.
Saat mahasukha—terang tiba-tiba berkelebat.
Saat bersin – pikiran terhenti, cahaya berkelebat.
Saat menguap—pikiran terhenti, cahaya berkebelat.
Saat mengantuk—saat tidur lelap, cahaya berkelebat.
Saat jelang wafat—bardo muncul, cahaya berkelebat.
Saat pingsan dipukul—pikiran terhenti, cahaya berkelebat.
Tiba-tiba dikejutkan—kesadaran berhenti, cahaya berkelebat.
Terang yang muncul dari kejadian di atas, ada yang tidak berarti, ada yang tak dikenal, sulit sekali dipastikan.
Kita (yogi) berada pada:
Tidak melatih.
Tidak membenahi.
Tidak mengatasi.
Tidak galau.
Di dalam penekunan Dhyana, di dalam terang abadi yang muncul, baru benar-benar merasakan sensasi munculnya terang wujud transparan.
Di dalam pengalaman sensasi terang yang saya rasakan, rumus yang terpenting adalah:
Saat pikiran galau, biarkan ia tenang.
Saat pikiran tenang, biarkan ia stabil.
Saat pikiran stabil, biarkan ia meluas.
Di dalam kondisi meluas, muncullah terang.
(Di dalam rumus ini, agak mirip mengatasi, sebenarnya tidak perlu mengatasi, asalkan Anda sendiri mesti mengetahui bahwa galau juga hati, tenang juga hati, stabil juga hati, meluas juga hati, terang juga hati, karena terang adalah sunya juga.)
Ketahuilah, datang dan perginya semua pikiran, semua timbul dengan sendirinya, juga lenyap dengan sendirinya.
Saya mengilustrasikan:
Laut adalah Buddhata.
Ombak adalah khayalan.
Ombak naik dan turun.
Tetap kembali ke laut Buddhata.
Keduanya tiada beda.
Saya mengilustrasikan:
Air sungai senantiasa mengalir.
Ibarat khayalan senantiasa mengalir.
Lurus atau bengkok, biarkan saja.
Asal mengetahui bahwa itu adalah kondisi yang memang demikian adanya.
Bengkok atau lurus tidak ada bedanya.
Seorang yogi asalkan mampu menetap di dalam kondisi Dharmata yang memang demikian adanya, maka bisa mencapai pencerahan di dalam tingkat tertinggi, serta memperoleh terang.
Yang namanya awan, kabut, halimun, walaupun muncul di tengah angkasa, juga akan lenyap di tengah angkasa.
Asal mengetahui yang satu ini, Anda pun bebas dari kemelekatan.
Sehingga, segar, bebas dari ikatan, alami, terang pun muncul dengan sendirinya.
Tidak timbul dan tidak tenggelam.
Tidak kotor dan tidak bersih.
TIdak bertambah dan tidak berkurang.
Tidak melatih, tidak membenahi, tidak galau, semuanya menetap dalam kondisi yang memang demikian adanya.
Jelas dan terang.
Saat pikiran timbul, jangan hiraukan, jangan ikuti, timbul pikiran apapun, akan hilang dengan sendirinya.
Inilah dunia terang.
Tidak ada yang dilakukan, tidak menetap di mana pun.
Tidak ada yang dipikirkan, tidak ada yang diciptakan.
Tidak membedakan, tidak terfokus.
Terang muncul dengan sendirinya.
Patut diketahui!

Melebur Bersama Mandala Tubuh

Seingatku, saya pergi ke Jiashian, Taoyuan Community, dan Namaxia di Taiwan Selatan, karena Lotus Light Charity Society kita bangun 3 unit jembatan di sana, yaitu: Jembatan Liansheng 1, Jembatan Liansheng 2, dan Jembatan Liansheng 3.
Saya menghadiri upacara pembukaan.
Kami menyusun banyak persembahan, sembahyang Dewa Gunung, Bumi di sini.
Dupa telah dinyalakan.
Dewa Gunung Besar, Dewa Gunung Kecil, Dewa Kota, Penguasa Lingkungan, Dewa Jembatan, Dewa Sungai, dan kerabatnya di kawasan ini, turun satu demi satu.
Walaupun kami telah menyusun bahan persembahan, namun, tidak memuja pratima atau papan doa atau tempat persemayaman Mereka, tidak ada tempat penitipan roh.
Saat ini, saya sambil memanjatkan Sutra dan menjapa mantra.
Mendengar bisikan para dewa, “Tidak ada tempat penitipan roh?”
Saya berkata, “Jadikanlah tubuh saya sebagai tempat penitipan roh!”
Saya mengosongkan jiwa dan raga saya, membersihkan tubuh saya, saya menjadi tubuh kosong dan transparan, dengan kata lain mengubah diri saya menjadi mandala tubuh.
Seketika:
Sinar prajna lingkaran besar, lingkaran kecil, satu demi satu dari lubang ubun-ubun saya, dari nadi tengah, masuk ke tubuh saya.
Di dalam tubuh saya ada berlaksa nadi.
Dewa-dewa ini, satu demi satu masuk ke dalam tubuh saya, mandala tubuh saya, setidaknya ada 50 dewa.
Saat ini:
Saya dan 50 dewa melebur bersama. Dengan kata lain, saya adalah 50 dewa.
Saya sejujurnya memberitahu siswa mulia:
Ketika tubuh saya “kosong dan transparan”.
Para Buddha menetap di mandala tubuh saya.
Para Bodhisattva menetap di mandala tubuh saya.
Para Vajra menetap di mandala tubuh saya.
Para Dharmapala menetap di mandala tubuh saya.
Para Dewa menetap di mandala tubuh saya.
……
Mandala tubuh saya, bisa menampung berjuta-juta Buddha Bodhisattva, Tantra terdapat banyak yidam, yang menetap di mandala tubuh saya lebih banyak lagi.


Saya beri sebuah contoh:
Saya ibarat sebuah hotel, ada ribuan kamar, bahkan kamar yang tidak terhingga.
Yidam prajna di tengah angkasa, saat turun, bisa menetap di mandala tubuh saya.
Misalnya:
7 Buddha Bhaisajyaguru.
21 Tara.
3 Adinata Merah Utama.
5 Mahavajra, 8 Mahavidyaraja.
8 Yidam Utama.
100 Yidam Keheningan dan Murka.
3 Adinata Merah Kecil.
16 Arahat.
12 Laksmi.
5 Dewi Panjang Umur.
4 Raja Langit.
Kelompok Tathagata, kelompok Padma, kelompok Vajra, kelompok ratna, kelompok karman.
Dan lain-lain.

Ketika para arya melebur ke dalam mandala tubuh saya, saya pun bisa mengubah diri menjadi para arya, yidam adalah saya, saya adalah yidam, tiada beda.
Inilah kontak yoga, bertemu yidam.
Siswa mulia yang terkasih:
Jika Anda memahami tulisan saya ini, juga melatih diri menjadi mandala tubuh, dapat melebur, dalam aspek tahap pembangkitan, Anda telah memiliki keberhasilan yang sempurna.

Mengundang Kehadiran 16 Arahat

Makan di sebuah restoran.
Seperti biasa, saya mengundang kehadiran Para Arya dan melakukan persembahan, mulut saya menyebutkan nama Para Arya, tangan membentuk mudra persembahan, pikiran mengundang.
Namun, dalam pikiran, “Juga mengundang makhluk setan kelaparan.”
Saat ini, ada seorang wanita berpakaian hitam melewati, ia berkata pada saya, “Mahaguru Lu, kekuatan Dharma Anda luar biasa, sehingga Para Arya datang semua, namun, ada bergumpal-gumpal bayangan hitam, berlutut di hadapan Anda, mereka tidak dapat makan, tahukah Anda!”
“Oh!”
Saya sangat terkejut. Bertanya, “Siapa Anda?”
Ia menjawab, “Orang bijak.”

Saya akhirnya tahu!
Bahwa saya mengundang makhluk setan kelaparan, setan kelaparan mengambil makanan, makanan sampai ke tepi mulut, berubah menjadi tiada.
Setan kelaparan mengambil makanan.
Sampai di mulut menjadi tiada.
Bergumpal-gumpal bayangan hitam, semua memohon bantuan saya.
Saat ini, dalam satu pikiran, teringat Y.A. Moggalana, Sang Arya dengan kekuatan gaib masuk ke alam setan kelaparan menolong ibunya.
Y.A. Moggalana mempersembahkan makanan kepada ibunya.
Ibunya yang sangat kelaparan, melahap makanan, setiap kali makanan sampai di mulut, berubah menjadi arang, mulut hangus terbakar.
Sehingga Y.A. Moggalana menghadap Sang Buddha dan memohon bantuan.
Sang Buddha bersabda, “Kekuatan Dharma Anda seorang tidak cukup, mesti menghimpun kekuatan Dharma dari Para Sangha, baru dapat menolong ibu Anda.”
Sehingga barulah ada Upacara Ulambana.

Oleh karena itu, pada saat ini, saya menjapa mantra, “Om, Moni, Moni, Mahamoni, Shi Jia Mou Ni, Suoha. Om. Bin Tou Lu. Suoha.”
Saya mengundang kehadiran Y.A. Pindola, di tengah angkasa muncul 16 Arahat.
Ke-16 Arahat yang menetap di dunia memancarkan cahaya.
Memberkati insan di alam setan kelaparan, sehingga sekawanan insan di alam setan kelaparan baru dapat makan dengan kenyang.
Dan pergi satu demi satu.

Saya sangat berjodoh dengan Pindola.
Dulu.
Saya adalah Sariputra. Di sebelah kiri kanan gua tempat saya melatih diri, paling dekat dengan Y.A. Ananda. Berikutnya adalah Y.A. Pindola, saya dan Pindola saling percaya satu sama lain.
Itu sebabnya, di antara yidam transmisi sadhana saya, satu-satunya adalah:
“Y.A. Pindola”.
Begitu saya undang, langsung datang.
Bahkan 16 Arahat pun datang.

Kami sekawanan orang, pergi ke Todaiji, Nara, Jepang, saya melihat Y.A. Pindola, duduk di sisi kanan Todaiji.
Ia mengedipkan mata pada saya.
Saya berkata pada Pengacara Luo Riliang, “Sakit lambung Anda tak kunjung sembuh, cepat raba perut Pindola, pasti akan sembuh.”
Begitu Pengacara Luo Riliang mendengarnya, memanjat dan begitu meraba.
Sakit lambung bertahun-tahun.
Benar-benar langsung sembuh.

Siswa mulia yang terkasih:
Buddha mengabulkan doa orang-orang yang tulus, jika Anda tidak menyia-nyiakan saya, saya pasti tidak menyia-nyiakan Anda, Anda terjerumus ke dalam derita tanah, air, api, dan angin, saya pasti buka suara berusaha menyelamatkan Anda sekuat tenaga saya.