Senin, 08 Juni 2015

Mahasiddhi Tantrayana

Banyak orang yang ingin memahami urutan bhavana Tantrayana dan bagaimana tahapan penekunanya, sebab Buddha Dharma luas bagai samudra, Tantrayana lebih dalam lagi, apabila sadhaka tidak mempunyai pedoman dan menekuninya dengan membuta, maka tidak hanya salah jalan, bahkan juga menyia-nyiakan waktu dan menyebabkan terjerumus dalam kesesatan.

Apa adanya saya ( Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu ) memberitahu Anda semua, saya pribadi memulai sadhana dari fondasi dasar hingga saat ini telah merealisasi Mahaphala dalam Tantrayana, yaitu :

‘Padma-prabha-svara Buddha’

Berikut di bawah ini merupakan tahapan bhavana saya :

Catur Prayoga.
Sadhana Guru Yoga.
Yidam.
Bhadrakumbha-prana.
Kundalini.
Membuka avadhuti.
Membuka Panca-cakra.
Sadhana Vajra.
Anuttara-tantra.

Inilah tahapan nyata bhavana saya.  

  ●

Sadhaka Tantra harus terlebih dahulu menekuni Sadhana Catur Prayoga, sebab Catur Prayoga merupakan fondasi Tantrayana, ia berfungsi untuk pertobatan mengikis rintangan karma dan menumbuhkan berkah serta segala macam manfaat. Tanpa sumber daya ini, bagaimana mungkin dapat menekuni Tantrayana. Berikutnya adalah penekunan Sadhana Guru Yoga, sebab keberhasilan Tantrayana bersumber dari adhistana Mulacarya, kunci bhavana ditransmisikan oleh Mulacarya, inilah sumber bangkitnya silsilah, juga merupakan sumber realisasi Kesunyataan Mahayana, oleh karena itulah harus menekuni Sadhana Guru Yoga.
  
Yidam Tantra merupakan akar dari sadhaka, penekunan yidam yoga berdasarkan pada sifat pembawaan diri sendiri, ini merupakan daya samatha-vipasyana dalam tahap pembangkitan. Dengan adanya tubuh yidam, maka barulah dapat menekuni Bhadrakumbhaprana.

Fondasi dari pembangkitan kundalini adalah Bhadrakumbhaprana.
Untuk membuka avadhuti ( nadi tengah ) mengandalkan kundalini.
Kemudian dari avadhuti membuka Panca-cakra.

Panca-cakra merupakan lokasi Panca Vajra :

Cakra usnisa : Hevajra.
Cakra visudha : Mahottara Heruka.
Cakra anahata : Cakrasamvara.
Cakra manipura : Guhyasamaja Vajra.
Cakra svadhisthana : Yamantaka Vajra.
  
Ini merupakan Siddhi Sadhana Vajra.

Yang terakhir adalah Anuttara-tantra, Dharmakaya Mahasukhaprajna, yaitu Tathata.

  ●

Untuk merealisasi Mahasiddhi Tantrayana atau Dharmakaya Mahasukhaprajna ( Tathata ), harus berhasil dalam Sadhana Vajra ( Cukup satu adinata vajra, tidak harus kelima vajra ), namun terlebih dahulu perlu membuka panca cakra untuk menyerap kualitas Pancadhyani Buddha. Untuk membuka panca cakra, harus terlebih dahulu membuka avadhuti, untuk membuka avadhuti harus terlebih dahulu menekuni pembangkitan kundalini, untuk membangkitkan kundalini harus terlebih dahulu menekuni Bhadrakumbhaprana, untuk menekuni Bhadrakumbhaprana harus terlebih dahulu memvisualisasikan yidam, sedangkan yidam harus ditransmisikan oleh Acarya, untuk memperoleh transmisi Acarya harus terlebih dahulu menekuni Catur-prayoga.

Mahamudra dalam Kagyudpa mengatakan :

Cakra manipura terbuka : Samadhi Mahamudra.
Avadhuti terbuka : Sunya Mahamudra.
Panca-cakra terbuka : Penembusan Mahamudra.

Inilah Mahasiddhi dalam Tantrayana, merupakan pencapaian agung Kebuddhaan dalam kehidupan saat ini juga.

Ada juga yang mengatakan :

Cakra anahata terbuka : Siddhi Sambhogakaya Buddha.
Cakra visudha terbuka : Siddhi Nirmanakaya Buddha.
Cakra usnisa terbuka : Siddhi Dharmakaya Buddha.

  ●

Pencapaian Dharmakaya Mahasukhaprajna adalah Tathata, Ksetra Terang Kedamaian Abadi adalah Dharmakaya, dapat dikatakan tiada berbeda dengan Prabhakaya Ksetra. Cahayanya meliputi segalanya, dapat disebut sebagai Dharmakaya Paripurna tanpa atribut.

  ●

Tahapan bhavana saya nampaknya sangat mudah untuk dipahami, namun saya hendak mengingatkan Anda sekalian bahwasanya tiap sadhana sangatlah rumit dan sukar, harus ditembus satu demi satu, apabila belum mencapai yukta benar-benar tidak boleh melompatinya, sebab dengan melompatinya maka yang berikutnya sudah pasti tidak akan beryukta, dikarenakan belum beryukta dengan sadhana tahap sebelumnya.

Sadhaka Tantra memiliki kebiasaan serakah akan Mahasadhana, bahkan juga serakah akan banyak sadhana, menganggap diri sendiri sebagai sadhaka berakar agung, seketika langsung menekuni Sadhana Vajra, ini merupakan penyakit bersama, waspadalah !
  
Dalam bhavana ada kunci olah prana, ada kunci visualisasi, ada kunci visesa, ada kunci ketekunan bhavana dan ada kunci guhya.
  
Ini semua memerlukan bimbingan dari Acarya yang sejati.

Saya tidak ingin menyembunyikan ajaran, niat saya tulus, asalkan ada orang yang bertekad menekuni bhavana mencapai Kebuddhaan, memiliki keyakinan teguh tak tergoyahkan, saya pasti mentransmisikan, bersama merealisasi Anuttarabodhi.

Abhiseka


Saya menerima abhiseka dari Karmapa ke 16. Abhiseka yang diberikan oleh Karmapa 16 kepada saya disebut : Abhiseka Usnisa Pancadhyani Buddha Nan Mulia.

Karmapa 16 meminta supaya saya memvisualisasikan :

1. Visualisasikan usnisa menjadi Aksobhya Buddha.
2. Visualisasikan telinga kanan menjadi Ratnasambhava Buddha.
3. Visualisasikan telinga kiri menjadi Amoghasiddhi Buddha.
4. Visualisasikan dahi menjadi Vairocana Buddha.
5. Visualisasikan bagian belakang kepala menjadi Amitabha Buddha.

Setelah memvisualisasikannya barulah abhiseka diberikan.

Ini adalah Abhiseka Usnisa Pancadhyani Buddha Nan Mulia. Abhiseka ini sangat rahasia, inilah Dharmadhatusvabhavajnana, Samatajnana, Pratyaveksanajnana, Krtyanusthanajnana dan Adarsajnana dari Pancadhyani Buddha, Pancajnana ini menjadi svabhava dari sadhaka tantra.
  
Abhiseka Usnisa Pancadhyani Buddha Nan Mulia merupakan Abhiseka tertinggi, di atas Panca-abhiseka. Dengan kata lain berada di atas Abhiseka Vajra, Abhiseka Gantha, Abhiseka Kalasa, Abhiseka Mahkota dan Abhiseka Nama.

Mengenai Abhiseka Usnisa Pancadhyani Buddha Nan Mulia, Karmapa 16 mengatakan :

Tanpa diragukan lagi telah memperoleh substansi Buddha.
Tanpa diragukan lagi telah memperoleh Siddhi.
Abhiseka yang demikian merupakan abhiseka tertinggi, sarva-dharmata parisuddhi, pandanglah sebagai Buddha-jnana.  
  

 ●

Dalam Catatan Tantra-pitaka dikatakan : “Makna dari abhiseka: Makna menuangkan adalah menuangkan Mahakaruna Para Buddha ke atas penerima abhiseka, dari Bodhisattva bhumi awal hingga Sambodhi, hingga tercapainya Kebuddhaan, Air Mahakaruna Para Buddha mengabhiseka, dengan demikian segala aktivitas paripurna, merealisasi Kebuddhaan, inilah makna usnisa.”

Dalam Kitab Penjelasan Mahavairocana Sutra dikatakan :
“Abhiseka Dharmaputra, tergambar pada Dharmadhatu Buddhaksetra Ghanavyuha, duduk di atas simhasana Pundarikasvarabhijna, Air sifat mula Prajna Maitrikaruna nan parisuddhi yang mengandung semua kualitas, dituangkan ke dalam hatinya. Saat itu, Para Bodhisattva hingga Delapan Kelompok Makhluk Pelindung Dharma bersukacita dan timbul rasa penghormatan, kemudian memanjatkan puji-pujian. Saat itu Acarya memberikan wejangan sesuai dengan harapan Dharmaputra, sejak saat itulah diperoleh kelahiran dalam keluarga Tathagata, kelak pasti mencapai Kebuddhaan, apabila tidak demikian, berarti tidak mengetahui Dharma yang benar, tidak mengenal Agradharma.”
  
Keduanya merupakan makna dari abhiseka.

 ●

Menurut sepengetahuan saya, serba-serbi abhiseka dalam Tantrayana sangatlah rumit, namun semua tidak lepas dari makna abhiseka, berikut di bawah ini merupakan abhiseka yang saya ketahui :

1. Abhiseka menjalin afinitas.
2. Abhiseka Amrta.
3. Abhiseka Vidya.
4. Abhiseka Prabha.
5. Abhiseka Jnanamudra.
6. Abhiseka Aktivitas.
7. Abhiseka Bija.
8. Abhiseka Arthapada.
9. Abhiseka Siddhi.
10. Abhiseka Santika.
11. Abhiseka Paustika.
12. Abhiseka Vasikarana.
13. Abhiseka Abhicaruka.
14. Abhiseka Acarya.

Dan lain sebagainya.

Dalam tahapan sadhana :
1. Abhiseka Caturprayoga ( Mahanamaskara, mahapujana, Catursarana, Vajracitta )
2. Abhiseka Guruyoga ( Sadhana Guruyoga Lian-sheng )
3. Abhiseka Yidam ( Sarvadinata )
4. Abhiseka Vajra ( Panca Mahavajra, Asta Mahavidyaraja )
5. Abhiseka Anuttara Tantra ( Tathata )

Dalam hal Dharmayudham :
Vajra, gantha, kalasa, mahkota, bunga, mala, cermin, ankusa dan lain sebagainya.

Dalam hal bentuk :
1. Abhiseka Jamahan Kepala.
2. Abhiseka Vyakarana.
3. Abhiseka Sinar.

Dalam hal kedudukan :
1. Abhiseka Transmisi Dharma.
2. Abhiseka Mantra Dharma.
3. Abhiseka Ritual.
4. Abhiseka Penyerahan Tugas.

Dalam hal tingkatan :
Abhiseka eksternal, abhiseka internal, abhiseka afinitas guhya, abhiseka afinitas guhyati guhya.

Dalam hal sad-indriyani :
Abhiseka mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran.  
Abhiseka rupa, sabda, gandha, rasa, sparsa dan dharma.

Contohnya :

Mengenai Abhiseka Divyacaksu, dalam Sastra Mala ada dikatakan : “Om. Menampilkan Vajrasattva, membuka Divyacaksu Anda, Vajracaksu Anuttara, saat ini juga semua mata terbuka, Om Ruozhanaqu A Hom. Suoha”

Mahaguru Shanti mengatakan : “Vajracaksu adalah merupakan mantra tanpa rintangan sarva-rupa, dikatakan sebagai yang tertinggi, bagaikan Buddhacaksu, disebut juga Sarvacaksu merupakan mata yang melihat segalanya, dikatakan saat ini terbuka bermakna menyingkirkan semua rintangan.”

Ini adalah Abhiseka Membuka Divyacaksu.
  
Saya ( Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu ) telah menerima Abhiseka Usnisa Pancadhyani Buddha Mulia yang tertinggi, ini merupakan Abhiseka Anuttara yang tertinggi, berada di atas semua abhiseka. Saya menyadari bahwa saya paling memahami dan paling unggul dalam tata ritual semua abhiseka.

Eksplorasi Awal Pada Prana Nadi dan Bindu

Banyak orang yang masih kurang memahami perihal Tri-ratna dalam Tantrayana : Prana, Nadi dan Bindu. Berikut di bawah ini merupakan analisa saya secara khusus :

1. Prana : Angin yang bergerak ke atas dan ke bawah.
2. Nadi : Kediaman bindu.
3. Bindu : Kundalini adalah bindu merah, amrta adalah bindu putih.

Sebenarnya ketiganya ini saling berhubungan, dapat dikatakan kurang satu-pun tidak boleh. Saya sering mengumpamakannya sebagai lift di dalam tubuh, jalan lift tersebut adalah nadi, orang yang berada dalam lift adalah bindu, sedangkan sumber listrik dari lift tersebut adalah prana. Oleh karena itu nadi adalah tempat kediaman bindu, prana adalah sumber daya pergerakan dari bindu, sedangkan bindu adalah pengendali prana dan nadi.
  
  ●

Berikut di bawah ini adalah analisa tubuh manusia :

Prana : Udara nafas.
Nadi : Lokasi berkumpulnya saraf.
Bindu : Intisari kehidupan di dalam dan-tian, cairan otak dalam kepala ( amrta )

Dalam Tantrayana ketiganya ini tergolong lingkup Sadhana Internal, sedangkan contoh dari Sadhana Eksternal dalam Tantrayana adalah : Guru Yoga, Catur-prayoga dan Yidam, ini merupakan Tahap Pembangkitan melalui tubuh dan mandala, sejenis dengan bhavana dalam Sutrayana. Tiba pada pelatihan prana, nadi dan bindu sudah tergolong Sadhana Internal. Prana, nadi dan bindu tergolong lingkup Abhiseka Tahap Kedua.

Sesuai bhavana Tantrayana :

Sadhana Eksternal : Tubuh, ucapan dan pikiran.
Sadhana Internal : Prana, nadi dan bindu.
Sadhana Guhya : Yab Yum.
Sadhana Guhyati Guhya : Mahamudra Tathata.

  ●

Sebagian Mahaguru Tantrayana juga menggolongkan prana, nadi dan bindu sebagai berikut :

1. Prana : Garbha-jnana.
2. Nadi : Guhyaloka.
3. Bindu : Tathata.
Berikut di bawah ini merupakan susunan kaitan antara tubuh, ucapan dan pikiran dengan prana, nadi dan bindu :
  
1. Tubuh adalah nadi.
2. Ucapan adalah prana.
3. Pikiran adalah bindu.

Di antara ketiganya, yang paling sukar dipahami adalah bindu, sesungguhnya berdasarkan teori, ming-dian ( bindu ) mengandung makna : Ming adalah Prajna dan ‘dian’ adalah intisari. Jadi bindu adalah Intisari Prajna.

Menurut saya, apakah itu Intisari Prajna di dalam tubuh ? Secara ruang lingkup luas, sekujur tubuh kita manusia adalah Intisari Prajna, sedangkan dalam ruang lingkup kecil, Intisari Prajna dalam tubuh adalah : mani dan darah. Dalam hal ini, Tantrayana dan Taoisme memiliki kesamaan.  

Dalam Tantrayana dua jenis bindu yang paling penting adalah :

Bindu Merah : Api internal dalam dan-tian ( Kundalini ).
Bindu Putih : Amrta otak ( Cairan rembulan Bodhicitta ).

Cairan rembulan Bodhicitta dalam Taoisme adalah Air Surgawi.

  ●

Berikut di bawah ini saya mengurutkan bhavana prana, nadi dan bindu :

1. Menyalakan kundalini.
2. Kundalini dibawa sampai ke cakra anahata.
3. Menurunkan amrta.
4. Amrta dibawa sampai ke cakra anahata.
5. Bindu merah dan putih berkumpul di cakra anahata, padma berkelopak delapan di cakra-anahata terbuka, merealisasi Sambhogakaya Buddha.
6. Padma berkelopak seribu di cakra ajna terbuka, merealisasi Dharmakaya Buddha.

Ini hanyalah gambaran ringkas saja, sebab sebelumnya harus membuka tiap nadi ( cakra manipura, cakra anahata, cakra visudha, cakra ajna dan cakra usnisa ) sedangkan avadhuti ( nadi tengah ) harus tembus. Di dalam itu semua terdapat kiatnya yang tidak diketahui oleh sadhaka biasa.

Contohnya adalah dalam hal pembangkitan kundalini, ini sudah merupakan persoalan yang sukar.

Ditambah bagaimana menggunakan pikiran untuk membawa prana, juga membutuhkan instruksi seorang Acarya.
  
Mantra dan mudra untuk : Menurunkan, mengangkat, mempertahankan dan menyebarkan.

Instruksi untuk empat sukha dan empat sunya.


  ●

Saya ( Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu ), di jaman sekarang, dapat dikatakan mempunyai pengalaman bhavana yang paling kaya, kiat dan perolehan saya yang paling tepat, inilah Keotentikan Kiat Guru dalam Empat Unsur Otentik.
  
Empat Unsur Otentik adalah : Keotentikan Ajaran Suci, Keotentikan Silsilah, Keotentikan Perolehan dan Keotentikan Kiat Guru.
  
Menurut Mahaguru Tantrayana, Keotentikan Kiat Guru adalah yang utama, sebab Keotentikan Kiat Guru adalah yang paling langsung, pengalaman yang diperoleh oleh Mulacarya ditransmisikan secara langsung kepada siswa, Guru meluruskan dan mengkonfirmasi berbagai perolehan siswa.

Budi jasa Keotentikan Kiat Guru adalah yang paling mendalam.
Keotentikan Kiat Guru adalah yang paling langsung. Tanpa Keotentikan Kiat Guru, sebuah pelatihan hanyalah pelatihan secara buta.

Balas Budi

Menurut saya, manusia di dunia hendaknya memahami bahwasanya begitu seorang manusia lahir, terlebih dahulu harus membalas budi jasa ayah dan ibu, tanpa orangtua dari mana datangnya Anda. Anda dapat tumbuh besar juga merupakan budi jasa orangtua. Selain itu kita menerima didikan, memperoleh ilmu pengetahuan dari guru, maka kita perlu membalas budi jasa guru. Kita mempunyai lingkungan untuk hidup dan perlindungan dari negara, maka kita perlu membalas budi jasa raja dan negara. Masih ada lagi, kita yang mendalami Buddhisme, harus membalas budi jasa Tri-ratna.

Terakhir, ada satu budi yang mudah luput dari perhatian kita, bahkan mungkin tidak mengindahkannya, budi jasa ini adalah budi jasa para insan, para insan mempunyai peranan sangat penting !
  
Dalam Sutra Kontemplasi Batin tercatat empat macam budi jasa :

1. Budi jasa ayah dan ibu.
2. Budi jasa semua makhluk.
3. Budi jasa raja dan negara.
4. Budi jasa Tri-ratna.

Dalam Shishi Yaolan ( Acuan Penting Sakya ) juga memuat empat macam budi jasa, namun ada sedikit perbedaan :

1. Budi jasa ayah dan ibu.
2. Budi jasa guru.
3. Budi jasa raja dan negara.
4. Budi jasa danapati ( dermawan ).
  
Apabila Sutra Kontemplasi Batin dan Teks Acuan Penting Sakya digabungkan, maka menjadi lima macam budi jasa :

1. Budi jasa ayah dan ibu.
2. Budi jasa guru.
3. Budi jasa raja dan negara.
4. Budi jasa Tri-ratna.
5. Budi jasa para insan ( termasuk danapati )




Mengapa perlu membalas budi jasa para insan ? Sebab segala hal dalam kehidupan kita umat manusia, sepenuhnya tidak dapat terpisahkan dengan para insan, berikut di bawah ini merupakan penguraian sederhananya :

1. Pangan : Segala bahan pangan adalah berkat cocok tanam para insan.
2. Sandang : Segala yang kita kenakan, dijahit oleh para insan.
3. Papan : Semua tempat tinggal dibangun oleh para insan.
4. Transportasi : Semua transportasi diupayakan oleh para insan.
5. Pendidikan : Segala didikan berkat bimbingan para insan.
6. Hiburan : Segala macam hiburan dimainkan oleh para insan.
  
Mungkin Anda akan berpendapat bahwa sandang, pangan, papan, transportasi, pendidikan dan hiburan, semuanya Anda bayar dengan uang barulah Anda dapat memperoleh pelayanan yang semestinya, bagaimana mungkin merupakan budi jasa para insan ?
  
Namun, coba Anda renungkan kembali, seandainya Anda terhanyut tiba di sebuah pulau tak berpenghuni, di pulau tersebut tiada siapapun, sekalipun Anda mempunyai banyak uang, Anda akan merasakan betapa pentingnya budi jasa para insan. Budi jasa para insan tidak berwujud, oleh karena itu mudah terabaikan, untuk memahaminya memerlukan pendalaman secara mendetail.



Saya ( Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu ) pernah merenungkan, dulu saya tidak mempunyai apapun, sekarang segala kebutuhan saya terpenuhi, semua ini berkat pemberian para insan, oleh karena itu saya harus membalas budi pada para insan.

Saya mendalami Buddhisme, memperoleh banyak dorongan dari guru dan para insan, ini merupakan budi jasa para insan.
  
Saya mendalami Buddhisme, memperoleh banyak fitnahan dan serangan dari para senior dan para insan, sesungguhnya ini juga merupakan budi jasa para insan, sebab semakin mereka mengganggu dan merintangi, maka saya semakin gigih, semakin virya dan bahkan semakin melampaui. Oleh karena itu, fitnahan dan serangan juga tergolong budi jasa.

Dalam Buddha Dharma disebut sebagai :
Adhistana berupa kelancaran dan adhistana berupa rintangan.

Saya pernah mengatakan bahwa saya tumbuh dalam fitnahan, oleh karena itu harus berterima kasih pada fitnahan tersebut.
  



Kita memperoleh budi jasa dari orang lain, maka harus membalas jasa. Dalam Damamuka-nidana-sutra dikatakan harus membalas jasa orang-orang ini :
  
1. Orang yang mengerti Dharma ( Kalyanamitra yang memahami Buddha Dharma )
2. Perantauan ( Orang yang jauh meninggalkan keluarga )
3. Orang yang pergi jauh ( Orang yang kekurangan kasih sayang keluarga )
4. Orang yang kelaparan ( Orang yang kekurangan pangan )
5. Orang sakit ( Orang yang menderita sakit )
6. Acarya ( Guru sendiri )
7. Orangtua ( senior )
8. Tri-ratna ( Buddha, Dharma, Sangha )

Menurut saya, penggolongan tersebut membagi para insan berdasarkan orang yang lebih butuh perhatian. Sesungguhnya, kepada siapapun, Anda harus membalas budi, terus terang bahkan para makhluk di alam hewan sekalipun juga merupakan pihak yang harus dibalas budinya oleh kita orang yang menekuni Dharma.

Dalam sutra disebutkan Delapan Ladang Berkah Utama, dalam menerapkan ajaran : “Jangan melakukan segala kejahatan, lakukan segala kebajikan.”, kita harus meyakini dan mengamalkan Delapan Ladang Berkah Utama ini :

1. Menyediakan sumber air bersih.
2. Membuat jembatan.
3. Memperbaiki jalan supaya aman dilalui.
4. Berbakti pada orangtua.
5. Berdana pada orang yang membina diri.
6. Berdana pada orang sakit.
7. Menolong orang yang menderita.
8. Upacara Agung untuk tolak bala dan pemberkahan.

Demikianlah Yang Dikatakan Oleh Rinpoche Ji-mi Bo-deng

Waktu : 21 September 1992, pukul 8 malam.
Lokasi : Seattle Ling Shen Ching Tze Temple.
Kegiatan Dharma : Upacara Api Homa Santika Avalokitesvara Bodhisattva.
Pemimpin : Buddha Hidup Lian-sheng, Sheng-yen Lu.
Tamu Agung : Buddha Hidup Ji-mi Bo-deng ( 吉彌.波登活佛 )
Didukung oleh : Catasrah Parsadah  



Keputusan untuk menyelenggarakan upacara kali ini dilakukan secara mendadak, Acarya Lian-huo yang mengusulkannya, secara mendadak ditetapkan, diumumkan dua hari sebelumnya, diselenggarakan dua hari sesudahnya.
  
Yang mendengar kabar dan turut berpartisipasi antara lain adalah segenap siswa dari Cetya Bai-yun Kanada, Cetya Ming-zhi California dan lain sebagainya, separuh lainnya adalah siswa dari Seattle dan PTT Buddhist Society ( Pu-ti Lei-zang-si ) Vancouver.
  
Sangat kebetulan ada seorang Buddha Hidup Agung dari Tibet yang bernama ‘Ji-mi Bo-deng’ yang menetap di Switzerland, dikarenakan di New York ada seorang Buddha Hidup yang Parinirvana maka secara khusus beliau berangkat dari Swiss untuk memperoleh wasiat dari Buddha Hidup tersebut, untuk kemudian mencari lokasi penitisan Sang Buddha Hidup.
  
Usai Buddha Hidup Ji-mi Bo-deng membereskan urusan di New York, beliau datang ke Seattle untuk memenuhi undangan, beliau telah mendengar nama Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu dan memutuskan untuk hadir dalam upacara yang diselenggarakan di Seattle Ling Shen Ching Tze Temple.
 
Buddha Hidup Ji-mi Bo-deng adalah seorang titisan Buddha Hidup dari Nyingmapa, kemudian dikenali oleh seorang Buddha Hidup Agung dari Gelugpa oleh karena itulah beliau menyebut dirinya mempunyai silsilah dari Nyingmapa dan Gelugpa.

Buddha Hidup Ji-mi Bo-deng menjabat sebagai pimpinan vihara, beliau mempunyai sebuah Mahkota Dharmaraja, dikatakan bahwa mahkota tersebut telah diwariskan turun temurun selama 700 tahun. Buddha Hidup Agung ini berpostur tinggi tegap, bentuk wajahnya agak lonjong namun sempurna, beralis tebal dan bermata lebar, hidungnya berisi, bibirnya lebar, mengenakan kacamata, tangannya membawa tongkat.

  


Usai Rinpoche Ji-mi Bo-deng menyaksikan upacara api homa yang dipimpin oleh Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu, beliau mengungkapkan :

1. Tak diragukan lagi Buddha Hidup Lian-sheng pasti adalah titisan seorang Buddha Hidup Agung.
2. Seumur hidup baru kali ini menyaksikan sebuah upacara api homa yang paling besar Dharmabalanya , Dharmabala yang paling kuat di antara semua yang pernah dirasakan seumur hidup.
3. Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu adalah yang termulia.
4. Dharma Tantra Zhenfo dari Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu, tidak sampai dua tahun mendatang akan menyapu seluruh dunia, dunia agama akan mengakuinya.
5. Dharmabala ketekunan bhavana dari Buddha Hidup Lian-sheng sungguh mengejutkan saya.
6. Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu memiliki kualitas sebagai Dharmaraja, namun sikapnya sederhana dan mudah akrab dengan khalayak, sungguh tak terperikan !



Kami saling menghaturkan hata.
Kami bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris.
Saling merencanakan perjumpaan selanjutnya.



Dalam upacara saya mengatakan :

Ada tiga makna api homa :
1. Membakar sarana puja ke dalam api hingga Bodhisattva menerima pujana, menganugerahkan santika dan berkah bagi umat manusia.
2. Dengan api Prajna membakar habis klesa. Dengan api Kebenaran membakar habis mara.
3. Api, yidam dan sadhaka, ketiganya manunggal, bangkitnya api internal merupakan Samadhi Sinar Api. Memasuki Samadhi Kundalini merupakan pencapaian Arahat di antara Empat Kesucian.
  
Dalam Kitab Penjelasan Mahavairocana Sutra dikatakan : “Homa bermakna membakar, dalam homa membakar semua karma.”

Dalam Guhya Mandala Mahavairocana Sutra dikatakan : “Ada dua macam homa, yaitu internal dan eksternal.”



Saya menuliskan sebuah gatha perihal Siddhi yang diperoleh dari penekunan homa :

Homa diantara Dasa-yoga.
Mengandung Pahala Pujana Teragung.
Para Adinata Bodhisattva hadir di mandala.
Santika, paustika, vasikarana dan abhicaruka yang paling luar biasa.
Ketiganya manunggal mengatasi batin.
Melebur dalam penekunan, mencapai berbagai Siddhi.
Dharmabhala timbul dari yidam dalam diri sadhaka.
Inilah yang terunggul, termulia dan paling damai.
Oleh karena itu bentuklah mudra nan luhur.
Bibir melafalkan mantra, jalankan sesuai tahapan.
Batin berada pada yoga ajaran terunggul.
Menuntun semua makhluk memperoleh ketenteraman.  

( Api homa kali ini sangat besar, sangat terang, sangat cerah. Bertepatan dengan kedatangan Buddha Hidup Agung Ji-mi Bo-deng yang mengamati homa, ini merupakan sebuah nidana yang sangat mulia, Buddha Hidup Agung Ji-mi Bo-deng menyatakan bahwa baru kali ini menyaksikan api homa yang demikian kuat Dharmabalanya. Beliau mendoakan semoga aliran kita lestari dari masa ke masa, transmisi berkesinambungan, menuntun lebih banyak insan. )  

Metode Untuk Menangkal Petaka


Dulu Para Mahaguru maupun sutra dan sastra Tantrayana pernah membahas metode untuk menangkal malapetaka, berikut di bawah ini saya sajikan contohnya :

Mala Sastra : Perlindungan dengan Mantra Amrta-kalasa.
Dipamkarabhadra : Menaklukkannya dengan Mantra Penghancur Rintangan.
Nagabodhi : Penekunan Makna Sejati Anatman sebagai parisodhana ( pemurnian )
Tantra Kolektif : Api Homa Santika, inilah yang terbaik.
Dong-ri-jia-ba : Menaklukkannya dengan Sarva-karma Mantra.

Dalam sutra dan sastra dikatakan : “Mujur atau malangnya mimpi, diberitahukan kepada saya di pagi hari, sarva-karman untuk mengatasi kemalangan. Apabila seorang Acarya menyaksikan pertanda buruk dari sebuah mimpi, maka hendaknya menghaturkan pujana makanan sesuai tata Dharma kepada Dharmapala , Daka dan Dakini, menjapa sataksara untuk memperkokoh, segera tekuni Raksa-cakra, lafalkan Mantra yang dibabarkan langsung oleh Sarva-sattva, lindungi diri dengan perisai, segenap Sattva dan Yogini, putih agung dan bersemayam dalam kewibawaan, tekunlah dalam api homa, menyingkirkan semua rintangan mara.”

Dalam sutra dan sastra ini terdapat tujuh metode :
1. Ritual Dana Makanan.
2. Raksa-cakra.
3. Menekuni Adinata Perisai.
4. Memohon Adinata Putih.
5. Enam Keagungan Keleluasaan Divya Mandala.
6. Api Homa.
  
 ●

Menurut saya ( Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu ) , untuk memahami ajaran mengenai santika bacalah :

Sutra Dharani Avalokitesvara Melenyapkan Racun Mencelakakan.
Buddha-bashitam-maha-jvalosnisa-dharani-sutra.
Sutra Dharani Maha-teja-svarna-cakra-buddha-usnisa-tejo-prabha-tathagata Menyingkirkan Segala Malapetaka.
Sutra Dharani Ratnasikhin Menyingkirkan Rintangan Malapetaka.
Sarva-vidyut-bhaya-nasani-dharani-sutra.



Sadhana Santika dalam Tantrayana merupakan metode untuk menangkal petaka, santika merupakan salah satu dari empat jenis karman mandala dari mantrayana. Tujuan utamanya adalah untuk mengikis bencana alam, peperangan, bencana air dan api, kematian sebelum waktunya, persengketaan dan lain sebagainya, untuk sadhana ini yang terbaik adalah menggunakan Adinata dari Buddhakula.
  
  ●

Pada buku yang terdahulu, saya pernah membahas ‘Prinsip Pembebasan’ dalam hal ini : Hubungan hetu-phala, sebuah sebab pasti ada suatu akibat, karma baik dan buruk tidak dapat saling melenyapkan. Meskipun sebab dan akibat tidak dapat dilenyapkan, namun dapat hadir dengan cara berbeda :

1. Penanggungan.
2. Pembelokan.

Saya pernah mengatakan, apabila seorang sadhaka Zhenfo ingin mengikis petaka dan terbebas dari marabahaya, ada delapan metode untuk memperoleh penanggungan dan pembelokan :

1. Melafalkan Sutra Raja Agung Avalokitesvara seribu kali.
2. Menjapa Mantra Hati Mulacarya satu juta kali.
3. Menekuni Sadhana Pertobatan hingga 200 kali.
4. Bernamaskara, menghaturkan pujana, mendirikan vihara, mendirikan stupa dan membuat Buddha rupang.
5. Melafalkan Nama Agung Buddha Bodhisattva hingga beryukta.
6. Menekuni meditasi hingga memperoleh daya sila, samadhi dan Prajna.
7. Mulacarya bersadhana mengadhistana melakukan penanggungan dan pembelokan.
8. Meniadakannya melalui Kesunyataan Sejati.
  
  ●

Saya pernah mengatakan : Tujuh macam metode yang awal mengandalkan kekuatan sutra, mantra, Dharma, dana, Buddha, samadhi dan Guru. Ini semua merupakan penanggungan dan pembelokan.

Hanya poin kedelapan ‘Melalui Kesunyataan Sejati’ yang merupakan daya kesunyataan, inilah Papa-visodhana ( pelenyapan dosa ) yang sejati.
  
Poin kedelapan, ‘Daya Kesunyataan ‘ inilah yang dikatakan oleh Nagabodhi : “Penekunan Makna Sejati Anatman sebagai parisodhana.”

Apakah itu Makna Sejati Anatman ? yaitu tanpa ego hingga realisasi keleluasaan, seperti yang dikatakan dalam Mahaprajnaparamita-hrdaya-sutra : Panca-skandha adalah sunya, memperoleh Delapan Keleluasaan Agung, inilah kualitas Anatman. Yang benar-benar merealisasi anatman adalah Nirvana sebagai Nirodha-satya, juga merupakan karakter absolut dari Tathata, terbebas dari segala atribut yang disaksikan oleh batin yang sesat.

Saat itu :

Satya-buddha tak berwujud.
Satya-dharma tanpa atribut.

Berikut di bawah ini saya ungkapkan secara gamblang dan sederhana :

Meskipun malapetaka masih ada,
Tiada aku dan tiada tercemari.
  
Malapetaka masih ada, namun apabila sadhaka telah merealisasi anatman, maka tidak akan tercemari oleh malapetaka, inilah Dharma Sejati, Prinsip Paling Hakiki.
  
Inilah yang dikatakan dalam Sutra Hati : Berkat realisasi Prajna-paramita, batin tiada rintangan, dikarenakan tiada rintangan, maka tiada rasa takut, terbebas dari segala kesesatan pemikiran dan akhirnya mencapai Nirvana.

Sesungguhnya metode untuk menangkal petaka, dari luar terlihat biasa-biasa saja, namun di dalamnya mengandung ajaran Buddha yang sangat mendalam, apabila umat manusia tidak berusaha untuk mendalaminya, maka tidak mungkin dapat memahaminya !

Ajaran Sesat



Sejak malam itu, semenjak oleh Para Buddha Bodhisattva dibawa mengarungi svargaloka, mengunjungi Sukhavatiloka ( Mahapadminiloka ), orang-orang menyebut saya ‘Sesat’.

Saya mengetahui kehidupan lampau, Mahapadmakumara Putih dari Mahapadminiloka yang menitis ke dunia, ini semua satya adanya, namun orang yang tidak percaya menjuluki saya ‘kerasukan mara’.
  
Seorang Mahabhiksu mengatai saya : tidak waras.
Seorang Bhiksu Terkenal mengatai saya : bermimpi.
Seorang pelatih diri mengatai saya : omong kosong.

Saya mendirikan Zhenfo Zong, mereka menjuluki saya : ‘Ajaran Sesat’. Singkat kata, semenjak saya memasuki Agama Buddha langsung menanggung berbagai fitnahan dan makian seperti : tersesat, kerasukan mara, ajaran sesat dan lain sebagainya, tiada hentinya barang seharipun, tiada hentinya barang sesaatpun.


 ●

Sebelumnya saya adalah lulusan akademi militer Universitas Pertahanan Nasional Institut Teknologi Chung Cheng jurusan survei.

Seandainya Buddha Bodhisattva tidak membawa saya ke Mahapadminiloka.
Seandainya saya tidak tahu bahwa saya adalah titisan Mahapadmakumara.
Saya hanyalah seorang Insinyur Survei dan Pemetaan.

Seorang pelajar berprestasi dan bermartabat, seorang perwira militer survei dan pemetaan. Mungkin saja mengemban tugas survei dan pemetaan hingga tua, hingga pensiun, menjadi pejabat survei senior.

Menjalani kehidupan dengan biasa-biasa saja hingga ajal. 

  ●

Sayang sekali !

Saat saya mulai memahami kelahiran di dunia ini adalah karena sebuah nidana agung, saya sungguh terkejut, ternyata saya memanggul hetu-phala yang demikian berat.
  
“Dalam setiap kelahiran terus menuntun insan.”

Ternyata saya adalah seorang Buddha Purba, semenjak lama telah mencapai Kebuddhaan, harus datang ke dunia untuk mencari insan yang berafinitas, menekuni bhavana berpulang ke Mahapadminiloka.

Sebelumya, saya mengira bahwa saya hanyalah seorang pejabat survei.
  
Dan yang paling disayangkan adalah :
Para insan tidak selalu dapat mengenali seorang Buddha Purba. Mengira saya adalah : membuat kehebohan untuk mengambil keuntungan, mengarang cerita yang menakjubkan, mendongeng, tidak waras dan bermimpi belaka, pembual dan penipu, ajaran sesat kerasukan mara, orang paling konyol, menipu harta, menjijikan dan lain sebagainya . . .
  
Singkat kata, seberapa parah makian terhadap Lu Sheng-yen, maka separah itulah dia.

Namun, Anda semua dapat merenungkan :

Dalam separuh sisa hidupnya, Lu Sheng-yen didera demikian banyak fitnahan, hingga saat ini tiada satupun yang merupakan kenyataan, semua adalah karangan orang lain untuk mencelakai.

Dapat diketahui :
Betapa hebatnya dunia yang diliputi oleh panca-kasaya, panca-kasaya ( lima kekeruhan ) antara lain : kalpa-kasaya ( kemerosotan kalpa ), drsti-kasaya ( kemerosotan pandangan ), klesa-kasaya ( kekeruhan kerisauan batin ), sattva-kasaya ( kemerosotan insan ) dan ayu-kasaya ( kemerosotan usia ).  

Dahsyatnya gelombang dunia fana hampir saja menenggelamkan saya.
Bagaimana mungkin insan awam mengetahui bahwa saya adalah seorang bhiksu jujur.

  ●

Orang-orang mengatai saya : ‘Ajaran Sesat’, namun tidak mengetahui di mana letak kesesatannya ?

Saya menanggung julukan ‘Ajaran Sesat’, namun hanya saya yang benar-benar memahami apa itu kebenaran dan kesesatan !
  
Kesesatan dibagi menjadi lima :

1. Kesesatan Fenomena : Melekat pada ilusi, menyangkanya sebagai nyata, belum mencapai ujung tapi menyangkanya sebagai ujung, belum mencapai Kebuddhaan, belum merealisasi pandangan samata-ekarasa, semua ini tergolong melekat pada kesesatan.
2. Kesesatan Dalam Hal Waktu : Melekat pada pandangan bahwa diri sendiri adalah insan awam, tidak yakin bahwa diri sendiri dapat mencapai Kebuddhaan, melekat pada pandangan bahwa Buddha sangat jauh, bagaimana mungkin Lu Sheng-yen adalah Buddha. Tidak menyadari bahwa saat Tersadarkan berarti adalah Buddha, ini semua akibat kemelekatan pada waktu, ini juga merupakan kesesatan.
3. Kesesatan Sifat : Mengira bahwa manusia tidak dapat menjadi Buddha, mengira bahwa sifat manusia hakikatnya jahat, dikendalikan hawa nafsu, senantiasa melakukan kejahatan, menciptakan berbagai karma buruk. Orang semacam ini tidak memahami bahwa setiap insan mempunyai substansi Kebuddhaan Pancajnana, tidak menyadari bahwa semua makhluk memiliki Buddhata, semua insan dapat menjadi Buddha, pendapat bahwa manusia tidak dapat menjadi Buddha merupakan kesesatan.
4. Kesesatan Karena Mengejar Keluar : Mempelajari Buddhisme namun tidak menyadari bahwa Semua Tathagata mencapai realisasi dari pelatihan batin sendiri, bahwa Kebuddhaan telah ada dalam batin sendiri, tidak perlu mengejar keluar. Gemar mengejar yang diluar, ilmu-ilmu eksternal, hanya tahu memohon pada dewata dan Buddha, ini merupakan tindakan kesesatan Non Dharma.
5. Kesesatan Kebijaksanaan : Insan awam mengira bahwa yang terutama adalah terpelajar, kefasihan bicara dan kepandaian duniawi merupakan kebijaksanaan sejati umat manusia. Sesungguhnya Prajna Anuttara yang sejati adalah Pancajnana Tathagata, yaitu : Samatajnana, Pratyaveksanajnana, Krtyanusthanajnana, Adarsajnana dan Dharmadhatusvabhavajnana. Keliru mengira bahwa kebijaksanaan duniawi adalah yang utama, inilah Kesesatan kebijaksanaan.

  ●

Seorang Buddha sejati, tiba di dunia fana, umat manusia tidak selalu dapat memahami bahwa Dia adalah Buddha, mungkin Ia bahkan dicaci dan dimaki hingga akhir hidupnya, namun saat umat manusia telah menyadarinya, Buddha telah Parinirvana.
  
Semasa hidupnya, Sakyamuni Buddha telah didera berbagai fitnahan.
Semasa hidupnya, Yesus Kristus dihina habis-habisan, bahkan disalibkan.
Semasa hidup mereka, semua dikatai sebagai ajaran sesat.
Saat mereka Parinirvana, barulah muncul pengakuan sebagai ajaran kebenaran.

Buddha hadir di dunia, namun sayang sekali umat manusia tidak mengenalinya.