Kamis, 25 Desember 2014

Lari Ketakutan

Sebuah lelucon:

Ayah bertanya pada Xiaomin, “Xiaomin, uji kamu satu pertanyaan, di pohon ada dua ekor burung, ditembak mati satu, tinggal berapa ekor burung?”

Xiaomin menjawab, “Masih ada satu ekor lagi.”

Ayah berkata, “Kamu benar-benar bodoh, bukankah burung itu sudah lari ketakutan! Tanya lagi satu pertanyaan yang lebih gampang, jika salah, awas pantatmu! Konon: di rumah hanya ada kamu sendiri, saya masuk lagi, ada berapa orang?”

Xiaomin menjawab, “Satu orang.”

Ayah bertanya, “Mengapa masih satu orang?”

Xiaomin mennjawab, “Saya sudah lari ketakutan!”

Saya berkata, lelucon ini ada sedikit rasa Zen, sebenarnya dipikirkan dengan berbagai sudut pandang, ada 3 jawaban, semua masuk akal.

1. Nol ekor – satu mati, satu lari ketakutan, tentu saja tidak ada seekor pun.

2. Satu ekor – memang lari ketakutan, namun, ia tetap hidup.

3. Dua ekor – satu mati, satu lari ketakutan, mati juga dihitung, hidup juga dihitung, tentu saja masih ada dua ekor.

Prinsip ini, kita semua bisa pahami dengan seksama.

Jika dijelaskan berdasarkan kebenaran utama dari pencerahan, saya bertanya pada siswa mulia, “Ada berapa ekor burung?”

Siswa mulia bisa menjawabnya?

Ha! Ha! Ha!

Bingzhou, Guangfu, Guru Zen Daowen.

Bhiksu bertanya, “Bagaimana pedoman satu jalan?”

Guru Zen Daowen menjawab, “Menggunakan cara jitu, ombak jernih memperlihatkan kehebatan.”

Bhiksu bertanya, “Tiga keluarga mengundang bersamaan, belum menentukan pergi ke rumah siapa?

Guru Zen Daowen menjawab, “Bayangan bulan terpatri di ribuan sungai, setiap rumah ada bhiksu.”

Mahaguru Lu memberikan petunjuk: pedoman satu jalan – Daowen mengatakan menggunakan cara jitu, menunjukkan bulan di dalam ombak jernih.

Tiga keluarga mengundang bersamaan, seharusnya pergi ke rumah siapa? – Daowen mengatakan bulan terpatri di ribuan sungai, tiga rumah dikunjungi oleh bhiksu, setiap Dharma ada cara jitu.

Jika saya jawab, saya akan menjawab seperti ini, “Pedoman satu jalan?”

Saya menjawab, “Menunjuk timur, menunjuk barat, menunjuk selatan, menunjuk utara.”

“Tiga keluarga mengundang bersamaan?”

Saya menjawab, “Lari ketakutan!”

Mahaguru memberikan petunjuk: pedoman satu jalan, belum tentu ada jalan! Tiga keluarga mengundang bersamaan, setiap rumah dikunjungi, setiap rumah tidak dikunjungi.

Mengapa?

Saya menjawab, “Semua adalah rembulan yang semu!”

Jika Anda telah mencerahi semua adalah rembulan yang semu, Anda pun boleh mencapai pencerahan separuh!

Saat ini Anda mengerti:

Apa itu manusia yang melakukan lima jenis perbuatan durhaka?

“Menyalakan api membakar rumah tak berwujud pada malam hari, langit terang bertopi memasuki Chang’an.”

Apa itu manusia berbakti?

“Setiap langkah mengangkat nasi tanpa beras, bergandengan tangan di depan aula tidak angkat kepala.”

(Siswa mulia yang terkasih! Saya memberikan setiap petunjuk seperti ini, semua petunjuk mulia berada di dalamnya, sudah sangat jelas, ini adalah ceramah Dharma yang saya Mahaguru Lu ucapkan berulang-ulang setiap hari. Jika tidak mengerti lagi, saya sudah berusaha seoptimal mungkin, mohon toleransi siswa mulia. Saya memberikan petunjuk satu lagi, “Saya lari ketakutan, para insan juga lari ketakutan! Akankah?)

Lari Ketakutan

Sebuah lelucon:

Ayah bertanya pada Xiaomin, “Xiaomin, uji kamu satu pertanyaan, di pohon ada dua ekor burung, ditembak mati satu, tinggal berapa ekor burung?”

Xiaomin menjawab, “Masih ada satu ekor lagi.”

Ayah berkata, “Kamu benar-benar bodoh, bukankah burung itu sudah lari ketakutan! Tanya lagi satu pertanyaan yang lebih gampang, jika salah, awas pantatmu! Konon: di rumah hanya ada kamu sendiri, saya masuk lagi, ada berapa orang?”

Xiaomin menjawab, “Satu orang.”

Ayah bertanya, “Mengapa masih satu orang?”

Xiaomin mennjawab, “Saya sudah lari ketakutan!”

Saya berkata, lelucon ini ada sedikit rasa Zen, sebenarnya dipikirkan dengan berbagai sudut pandang, ada 3 jawaban, semua masuk akal.

1. Nol ekor – satu mati, satu lari ketakutan, tentu saja tidak ada seekor pun.

2. Satu ekor – memang lari ketakutan, namun, ia tetap hidup.

3. Dua ekor – satu mati, satu lari ketakutan, mati juga dihitung, hidup juga dihitung, tentu saja masih ada dua ekor.

Prinsip ini, kita semua bisa pahami dengan seksama.

Jika dijelaskan berdasarkan kebenaran utama dari pencerahan, saya bertanya pada siswa mulia, “Ada berapa ekor burung?”

Siswa mulia bisa menjawabnya?

Ha! Ha! Ha!

Bingzhou, Guangfu, Guru Zen Daowen.

Bhiksu bertanya, “Bagaimana pedoman satu jalan?”

Guru Zen Daowen menjawab, “Menggunakan cara jitu, ombak jernih memperlihatkan kehebatan.”

Bhiksu bertanya, “Tiga keluarga mengundang bersamaan, belum menentukan pergi ke rumah siapa?

Guru Zen Daowen menjawab, “Bayangan bulan terpatri di ribuan sungai, setiap rumah ada bhiksu.”

Mahaguru Lu memberikan petunjuk: pedoman satu jalan – Daowen mengatakan menggunakan cara jitu, menunjukkan bulan di dalam ombak jernih.

Tiga keluarga mengundang bersamaan, seharusnya pergi ke rumah siapa? – Daowen mengatakan bulan terpatri di ribuan sungai, tiga rumah dikunjungi oleh bhiksu, setiap Dharma ada cara jitu.

Jika saya jawab, saya akan menjawab seperti ini, “Pedoman satu jalan?”

Saya menjawab, “Menunjuk timur, menunjuk barat, menunjuk selatan, menunjuk utara.”

“Tiga keluarga mengundang bersamaan?”

Saya menjawab, “Lari ketakutan!”

Mahaguru memberikan petunjuk: pedoman satu jalan, belum tentu ada jalan! Tiga keluarga mengundang bersamaan, setiap rumah dikunjungi, setiap rumah tidak dikunjungi.

Mengapa?

Saya menjawab, “Semua adalah rembulan yang semu!”

Jika Anda telah mencerahi semua adalah rembulan yang semu, Anda pun boleh mencapai pencerahan separuh!

Saat ini Anda mengerti:

Apa itu manusia yang melakukan lima jenis perbuatan durhaka?

“Menyalakan api membakar rumah tak berwujud pada malam hari, langit terang bertopi memasuki Chang’an.”

Apa itu manusia berbakti?

“Setiap langkah mengangkat nasi tanpa beras, bergandengan tangan di depan aula tidak angkat kepala.”

(Siswa mulia yang terkasih! Saya memberikan setiap petunjuk seperti ini, semua petunjuk mulia berada di dalamnya, sudah sangat jelas, ini adalah ceramah Dharma yang saya Mahaguru Lu ucapkan berulang-ulang setiap hari. Jika tidak mengerti lagi, saya sudah berusaha seoptimal mungkin, mohon toleransi siswa mulia. Saya memberikan petunjuk satu lagi, “Saya lari ketakutan, para insan juga lari ketakutan! Akankah?)

Apakah Kemanusiaan Masih Ada Setelah Meninggal Dunia?

Sebuah lelucon:

Istri berkata, “Upacara peringatan kematian Kepala Departemen Lin, kita mau pergi atau tidak?”

Suami menjawab, “Orang sudah meninggal dunia, buat apa pergi?”

Istri berkata, “Tetapi, istrinya juga bekerja di kantor.”

Suami menjawab, “Ia hanya karyawan biasa.”

Istri berkata, “Anaknya adalah seorang guru olahraga.”

Suami menjawab, “Guru olahraga tidak ada hubungan dengan saya.”

Istri berkata, “Namun, anaknya ada seorang ayah mertua!”

Suami bertanya, “Apa pekerjaan ayah mertua anaknya?”

Istri menjawab, “Ayah mertuanya adalah kepala departemen personalia!”

Suami berkata, “Kalau begitu, kita mau tak mau harus hadir!”

Ha! Ha! Ha!

Mahaguru Lu memberikan petunjuk: di dunia manusia ada prinsip kemanusiaan, hubungan antar manusia sangat menakjubkan.

Ada hubungan maka apapun beres!

Tidak ada hubungan maka habislah!

Yang namanya prinsip kemanusiaan, tidak lebih dari hubungan saja, sebenarnya dunia ini sangat suram.

Ini sama sekali tidak berhubungan dengan Zen, Zen bukan prinsip kemanusiaan, Zen juga bukan hubungan.

Li Yuansong mengemukakan Zen Modern.

Saya menjawab, “Bukan kuno, bukan modern!”

Master Sheng Yen mengemukakan Zen Kehidupan.

Saya menjawab, “Bukan kehidupan, bukan kemanusiaan!”

Xing Yuan Fu, Bhiksu Dalang.

Bhiksu bertanya, “Mengapa Dewa Sungai tidak dapat membaur dengan air, malah ditolak oleh air?”

Bhiksu Dalang menjawab, “Mengikuti aliran barulah pintar, tidak mengikuti aliran akan diabaikan!”

Saya menjawab, “Dewa Sungai telah mati!”

Saya menjawab, “Istri, anak, dan kerabat, tidak ada seorang pun adalah dewa sungai!”

(Dunia memang demikian)

Hongzhou, Bhiksu Dongchan.

Bhiksu bertanya, “Bagaimana ruang rahasia itu?”

Bhiksu Dongchan menjawab, “Air sungai sedalam 7 kaki. “

Bhiksu bertanya, “Bagaimana dengan penghuni ruang rahasia?”

Bhiksu Dongchan menjawab, “Tiga puluh langkah menuju Jiangnan.”

(Mahaguru Lu memberikan petunjuk: ruang rahasia adalah Zen, penghuni ruang rahasia adalah penekun Zen. Air sungai sedalam 7 kaki, juga boleh dijawab sepuluh juta pencarian gunung tinggi. Sebenarnya tidak ada hubungan dengan dunia ini. Selanjutnya, bagaimana penghuni ruang rahasia, tiga puluh langkah menuju Jiangnan, artinya sama sekali tidak berhubungan dengan dunia manusia)

Dunia manusia bukan Zen.

Zen bukan dunia manusia.

Zen modern, Zen kehidupan, kekeliruan besar!

Surat Cinta dari Penggemar Wanita

Sebuah lelucon:

Seorang aktor yang tampan dan gagah berkata pada temannya, “Saya telah kehilangan pekerjaan!”

Teman bertanya, “Rekor box office Anda begitu baik, masa depan sangat cerah, bagaikan matahari terbit di ufuk timur, mengapa bisa kehilangan pekerjaan?”

Aktor menjawab, “Saya hanya menerima sepucuk surat cinta dari seorang penggemar wanita, presiden direktur perusahaan langsung memberhentikan saya.”

Teman bertanya, “Ada surat dari penggemar adalah kehormatan terbesar bagi seorang aktor! Mengapa presiden direktur bisa memberhentikan Anda?”

Aktor menjawab, “Hanya karena penggemar itu adalah nyonya presiden direktur.”

Teman, “.......”

Ha! Ha! Ha!

Mahaguru Lu terhadap lelucon ini, tadinya ingin tertawa saja, tidak digunakan di dalam buku ini.

Belakangan begitu berpikir, di dalamnya juga mengandung rahasia Zen!

Semua orang bertanya, “Di mana rahasia Zen?”

Saya menjawab: seorang aktor yang tampan dan gagah, teknik berperan juga baik, penggemar juga banyak, ibarat ikan mas di sungai.

Presiden direktur harusnya senang.

Masalahnya, istri presiden direktur juga menulis sepucuk surat cinta, ini menjadi masalah besar.

The Ladykillers!

Rahasia Zen adalah: diskriminasi!

Masalah tidak menyangkut diri sendiri, segalanya tenang dan tenteram.

Begitu masalah menyangkut diri sendiri, hati pun galau.

Dalam Dharma Zen: tidak ada diskriminasi.

Tidak menyangkut diri sendiri, hati tidak galau.

Menyangkut diri sendiri, hati tetap tidak galau.

Saya beri lagi sebuah contoh: ada dua orang, saling menfitnah satu sama lain, masalah tidak menyangkut diri sendiri, Anda berdiri pada posisi menonton pertunjukan, semoga mereka saling membunuh satu sama lain.

Kemudian.

Menfitnah sampai akhirnya, tak disangka menfitnah diri kita, kali ini, api kemarahan membakar, diri sendiri juga mencak-mencak, tentu harus keluar mencari keadilan.

Mahaguru Lu berkata, “Agama Buddha adalah agama tanpa konflik.” Sabda Sang Buddha.

Mahaguru Lu berkata, “Tiada aku, tiada insan, tiada manusia, tiada kehidupan, paham?”

Dingzhou, Liangshan, Guru Zen Yuanguan ada sebuah gatha:

Setembang lagu Liangshan.
Orang kalangan luar sulit berdamai.
Sepuluh tahun mengunjungi sahabat.
Belum menemukan satu orang pun.

Bhiksu bertanya, “Direlokasi ke mana bhiksu yang mangkat?”

Guru Zen Yuanguan menjawab, “Kapan bhiksu yang mangkat direlokasi?”

(Mahaguru Lu berasumsi, jawaban “kapan bhiksu yang mangkat direlokasi?” adalah sebuah pernyataan kunci, bukan pernyataan kecil, jika siswa mulia mencerahi pernyataan ini, saat hati dan pikiran terbuka, itulah saatnya menjadi petunjuk mulia)

Api merah membakar tubuhku.
Tidak perlu stupa dan vihara baru.
Seseorang mencerahi prinsip ini.
Di tengah abu memperlihatkan seluruh tubuh.

(Saya mengatakan sadhu! Sadhu!)

Kunjungan Changkya Khutukhtu

Dulu, Mahaguru Lu pernah menyebutkan: rinpoche inkarnasi murid-murid Tsongkhapa:

Gaden Tripa – Gyaltsab Je.

Panchan Lama – Khedrub Rinpoche.

Dalai Lama – Gendun Drup.

Changkya Khutukhtu – Sakya Yeshe.

Di antaranya, Sakya Yeshe, dulu, saat Tsongkhapa diundang ke daratan tengah untuk membabarkan Dharma, Tsongkhapa karena mengemban titah kaisar, sementara dirinya sedang sakit, maka mengutus Sakya Yeshe untuk mewakilinya pergi ke daratan tengah, sehingga Sakya Yeshe dinobatkan oleh kaisar sebagai Dharmaraja Mahamaitri Guru Kerajaan Agung Surga Barat.

Suatu malam.

Changkya Khutukhtu (Dharmaraja Mahamaitri) muncul di dalam mimpi Mahaguru Lu, berikut dialog kami berdua:

Changkya Khutukhtu bertanya, “Anda di buku Inkarnasi Agung Dharmaraja menyebutkan inkarnasi Tsongkhapa, atas dasar apa?”

Saya menjawab, “Semboyan Tsongkhapa adalah semboyan saya.”

Changkya Khutukhtu bertanya, “Anda tidak memiliki semboyan sendiri?”

Saya menjawab, “Saya adalah Bhiksu yang belajar Buddha, buat apa membuat semboyan.”

Changkya Khutukhtu bertanya, “Anda mengaku sebagai Tsongkhapa, sedangkan Tsongkhapa mengaku sebagai apa?”

Saya menjawab, “Tidak mengaku sebagai apapun.”

Changkya Khutukhtu bertanya, “Kebenaran teragung tentu saja tidak mengaku sebagai apapun, namun, berdasarkan kebenaran duniawi, mengaku sebagai apa?”

Saya menjawab, “Duniawi juga ilusi, tetap tidak mengaku sebagai apapun.”

Changkya Khutukhtu bertanya, “Alam tingkatan Anda yang sekarang, bagaimana Anda menanggapinya?”

Saya menjawab, “Saya ibarat orang buta, tidak melihat alam tingkatan.”

Changkya Khutukhtu bertanya, “Bhumi Buddha itu memiliki kebijaksanaan atau tidak?”

Saya menjawab, “Buddha ibarat ratnamani, walaupun tidak dibuat-buat, namun, dapat mengabulkan harapan insan.”

(Jawaban saya ini membuat Changkya Khutukhtu sangat terkejut, tidak langsung menjawab, namun, jawaban ada di dalamnya)

Changkya Khutukhtu bertanya, “Apakah Anda benar-benar telah mencapai madhyamika?”

Saya menjawab, “ilusi itu ada, sunya itu tidak ada, semua sirna.”

Changkya Khutukhtu bertanya, “Anda sering mengatakan bersadhana, apa sadhana yang Anda tekuni?

Saya menjawab, “Menetap di mana pun, bersama dengan siapapun, menekuni semua insan adalah induk, semua manifestasi adalah cakra, para arya bebas dari kelahiran, hanya melatih diri seperti ini.”

Changkya Khutukhtu bertanya, “Bagaimana Anda menyeberangkan insan?”

Saya menjawab, “Ketrampilan.”

Changkya Khutukhtu bertanya sampai di sini, lantas berkata, “Anda Mahaguru Lu memang adalah Tsongkhapa, tidak salah lagi, dulu, kami para murid bertanya pada Tsongkhapa, Tsongkhapa juga menjawab demikian.”

Changkya Khutukhtu berkata, “Ternyata Gaden Tripa ke-100 memberikan jubah Dharmaraja kepada Mahaguru Lu memang ada sebab-musabab agungnya.”

Cahaya Maitri

Saat saya memasuki samadhi dan samatha, jiwa dan raga sendiri akan memancarkan semacam terang.

Ini adalah sesuatu yang sangat istimewa, sangat tenteram dan sangat bahagia, juga semacam kekuatan perlindungan. Cahaya maitri ini seakan-akan makin lama makin luas, memenuhi seluruh ruang.

Kekuatan dan keajaiban yang tidak dapat dilukiskan.

Bhagawati Usnisa Vijaya berkata, “Cahaya ekâkṣara-uṣṇīṣa-cakra dari Buddha Sakyamuni juga merupakan cahaya yang sekarang Anda pancarkan.”

Bhagawati Sitatapatra berkata, “Cahaya cakranka maitri menjelma menjadi banyak Padmakumara untuk melindungi semua insan.”

Delapan Dakini Agung berkata, “Cahaya dewi berasal dari berkah dan pahala. Namun, cahaya Dharma dari Mahaguru Lu, bahkan dakini sepuluh penjuru pun boleh menerimanya.”

Saya bertanya pada seorang Bodhisattva Mahatmyabaga, “Apakah cahaya dapat berceramah Dharma?”

Bodhisattva Mahatmyabaga menjawab, “Cahaya dapat berceramah Dharma, ibarat Surga Prabhasvsara.”

Saya bertanya, “Apakah cahaya dapat bermanifestasi?”

Bodhisattva Mahatmyabaga menjawab:

Mari ambil sebuah contoh! Suatu kali gempa dahsyat, seorang anak terjebak di dalam sebuah ruang kecil satu unit rumah yang ambruk. Si anak sangat ketakutan, bahkan tidak ada makanan dan minuman sama sekali, bahkan terjebak beberapa hari dan sudah memasuki kondisi koma.

Saat ini, cahaya maitri dari Mahaguru Lu memancar ke sana, sehingga bermanifestasi menjadi seorang kakek, memberikan makanan dan minuman kepada si anak, sekaligus menghiburnya agar jangan takut, harus bertahan, pasti akan mendapatkan penyelamatan.

Si kakek menemani si anak kecil.

Memberikannya minuman.

Memberikannya makanan kering.

Bercerita padanya.

Sepuluh hari kemudian, petugas penyelamat berhasil menyelamatkan si anak dari dalam reruntuhan rumah.

Si anak berkata: ada seorang kakek menemaninya melewati belasan tahun, ada makanan dan minuman, bahkan ada cerita lucu.

Tidak ada seorang pun petugas penyelamat yang percaya, menganggap itu adalah ilusi.

Bodhisattva Mahatmyabaga berkata, “Itu adalah manifestasi dari cahaya maitri Mahaguru Lu!”

Saya berkata, “Ha! Ternyata demikiran.”

Bodhisattva Mahatmyabaga menjawab, “Cahaya maitri menembus langit dan bumi, banyak insan mendapatkan manfaat. Dapat menolak bala, memakmurkan, merukunkan, menaklukkan. Banyak Buddha Bodhisattva sama-sama dapat memancarkan cahaya menyelamatkan dan menyeberangkan para insan.”

Saya bertanya pada Bodhisattva Mahatmyabaga, “Di dalam hati sebagian insan penuh dengan pikiran negatif seperti kecemburuan, kedengkian, kemarahan, kebencian, dan lain-lain. Ada sebagian sangat angkuh dan sombong, seluruh kepribadian mereka adalah benteng kemunafikan. Orang-orang ini terlihat menakutkan dan memprihatinkan. Orang-orang semacam ini, tentu saja tidak dapat merasakan cahaya maitri.”

Saya bertanya, “Bagaimana menyeberangkan?”

Bodhisattva Mahatmyabaga menjawab, “Sia-sia.”

Saya bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?”

Bodhisattva Mahatmyabaga menjawab, “Istilah zaman sekarang adalah tangani secara dingin.”

Ketinggalan Diseberangkan

Pada 1 April 2014 malam, kulit saya tiba-tiba timbul bintik-bintik merah, alergi kulit.

Alergi kulit sangat gatal, lebih dulu bintik merah, kemudian sehampar kecil, selanjutnya sehampar besar. Pertama-tama sendi, kemudian kulit perut, dan sepasang mata, bahkan leher juga ada, lengan sebelah dalam, seluruh dada. Gatal sekali! Gatal sekali!

Saya minum teh saffron.

Oles saleo obat alergi.

Oles mint.

Semoga dapat segera sirna.

Namun, sepertinya efek tidak besar.

Sebelum tidur, saya berdoa pada yidam, saya merasakan Mahadewi Yaochi turun dari angkasa, Ia bekata pada saya, “Mengapa Anda tidak lihat dengan mata batin?”

Saya menggunakan mata batin, begitu melihat, terkejut sekali. Oh, Tuhan! Seluruh kamar tidur saya, penuh dengan desakan pengunjung tak berwujud (hantu).

Saya melihat banyak orang, duduk maupun berbaring, semua berdesakan, mereka juga tidak bersuara.

Saya bertanya, “Mengapa mereka berdesakan di kamar tidur kecil saya?”

Mahadewi Yaochi bertanya, “Mereka memohon penyeberangan.”

Saya berkata, “Sedari awal telah diseberangkan pada upacara Trini Arya.”

Mahadewi Yaochi berkata, “Upacara memang telah menyeberangkan, namun, nama-nama ini ketinggalan.”

“Mengapa bisa ketinggalan?” saya bertanya.

“Formulir tidak diisi dengan lengkap atau formulir tidak dibakar, para arwah tidak masuk ke dalam api dan dibersihkan, Trini Arya ketinggalan menyeberangkan orang-orang ini, sehingga, orang-orang ini mencari Anda.”

Saya bertanya, “Kulit saya alergi?”

Mahadewi Yaochi menjawab, “Para arwah berkumpul, sehingga kulit Anda dengan sendirinya alergi.”

Saya bertanya, “Saya harus bagaimana?”

Mahadewi Yaochi menjawab, “Cara paling jitu adalah mengantarkan arwah ini ke Buddhaloka yang bersih!”

Sebelum tidur, saya bersadhana:

Kaki saya menginjak teratai.

Mulut menjapa Mantra Pengundangan, hantu-hantu di kamar tidur kecil diundang menempel di kulit saya, yaitu bintik-bintik atau hamparan merah.

Kemudian japa Mantra Penyeberangan.

Saya tiba di tempat air delapan pahala.

Diri sendiri masuk ke dalam air delapan pahala, lebih dulu membersihkan diri sendiri, kemudian membersihkan arwah-arwah ini.

Arwah-arwah ini ditinggalkan di Sukhavatiloka Barat.

Saya sendiri kembali ke dunia Saha.

Keesokan harinya.

“Alergi kulit” pulih total.

Di dalam artikel ini, saya hendak beritahu Anda semua bahwa seorang sadhaka yang tidak gentar, tidak boleh karena dikunjungi oleh hantu yang berbaris panjang, sehingga mengacaukan jiwa.

Setiap peristiwa yang terjadi pasti ada sebab musababnya, saya selalu berani menghadapi kematian.

Saya beritahu Anda semua, pemakaman adalah pemberhentian terakhir umat manusia, juga tempat berkumpul umat manusia yang terbesar, ini adalah fakta. Kita sadhaka jangan takut pemakaman, juga jangan takut hantu, karena ini juga salah satu proses tumimbal lahir kita, juga fakta, oleh karena itu, segalanya tidak perlu ditakutkan.

Saya beritahu Anda semua:
Saya pasti akan meninggal dunia.
Setelah meninggal dunia, berjalan menuju tumimbal lahir.

Kita melatih diri supaya terbebaskan dari tumimbal lahir di enam alam kehidupan, pembebasan adalah makna paling utama!